Lebaran 1: Arisan

“Aku mau yang itu!” Tukas Ika.
“Tidak! Itu punyaku!” Kata Tiwi.
“Tidak, tidak, tidak! Itu punyaku!” Kata Nanda.
“Kalian pasti bercanda, itu punyaku!” Kata Vina.

Ilham, Dafi, dan Rudi hanya bisa diam terpaku di sudut pusat perbelanjaan sambil memegang kantung belanjaan di tangan mereka.

“Apa kita biarkan saja mereka berempat seperti itu, Kapten?” Tanya Riza.
“Biarkan saja mereka seperti itu. Sudah lama aku tidak melihat mereka akrab seperti itu,” jawab Ilham.
“Mereka lebih mengerikan daripada pembunuh bayaran,” ujar Dafi.
“Apa kamu bilang???” Teriak keempat gadis dari Blue Team dengan tatapan mata sinis.

Dafi langsung terdiam. Tatapan mata keempat gadis itu benar-benar mencekam. Mereka pun kembali meneruskan perdebatan mereka.

“Mereka benar-benar menakutkan Kapten,” kata Dafi.
“Iya, benar,” sambung Rudi.

Sementara itu Riza tengah sibuk sendiri memilih beberapa baju muslim untuk kedua orang tua Setyo. Seperti biasa, setiap tahun Riza selalu berlebaran di rumah kedua orang tua Setyo. Sebab kedua orang tuanya tidak bisa kembali ke Indonesia saat lebaran.

“Yang ini untukku, yang ini untuk Bu’e, yang ini untuk Tyo, yang itu untuk Pak’e. Hmm… Mana lagi, ya?” Ujar Riza sendiri.
“Kamu mau belanja sebanyak itu?” Tanya Rudi.
“Tentu saja, tahun ini aku juga menghabiskan libur lebaran di rumah orang tua Setyo,” jawab Riza.
“Jadi semuanya pada mudik, ya?” Tanya Dafi.
“Sepertinya begitu. Kecuali…,” jawab Rudi terpotong.

Dafi, Riza, dan Rudi menoleh ke arah Ilham. Tatapan mata mereka berubah menjadi sendu.

“Kapten…,” kata mereka bertiga pelan.
“Hahaha… Kalian ini kenapa sih? Biasanya juga tiap tahun aku menghabiskan lebaran di Jepang sendirian,” kata Ilham.
“Tapi kan, sekarang Kapten sudah kembali ke Indonesia…,” ujar Dafi.
“Bagaimana kalau aku tidak usah mudik?” Tanya Rudi.
“Iya, benar juga. Kalau begitu aku juga enggak mudik deh,” sambung Dafi.
“Kalian tidak boleh batal mudik. Pokoknya aku akan marah jika kalian sengaja tidak mudik tahun ini!” Seru Ilham.

Keempat gadis dari Blue Team masih sibuk berebut barang-barang obral di pusat perbelanjaan itu. Aksi saling sikut dan dorong antar sesama pemburu barang-barang obral tak terelakkan siang itu. Meski mereka semua tengah berpuasa, namun kekuatan semangat dari barang-barang obral itu membuat mereka semakin menjadi-jadi.

“Ah, kakiku pegal sekali,” ujar Vina.
“Tapi kamu hebat, bisa mengalahkan ibu-ibu gemuk tadi,” ujar Tiwi.
“Iya, aku sampai tak bisa bernapas di antara mereka,” sambung Ika.
“Kalau aku lebih memilih menyingkir dari mereka, dan menjajah di tempat lain,” ujar Nanda bangga.

Mereka berjalan berdampingan di depan Ilham, Dafi, Riza, dan Rudi. Mereka berjalan sambil berbincang seperti tenaga mereka tak terkuras sama sekali sehabis belanja.

“Mereka benar-benar mengerikan,” ujar Dafi.

Mereka berdelapan masuk ke dalam mobil dan siap untuk pergi lagi. Sore itu mereka akan melakukan buka puasa bersama di The Stage.

“Kalian lama sekali!” Pekik Angga.
“Seperti biasa, keempat monster ini langsung kalap begitu melihat simbol diskon besar-besaran,” ujar Riza.
“Kamu bilang apa, hah?”, ujar Tiwi memiting leher Riza.
“Ampun, ampun, ampun!” Ujar Riza.
“Kalian berdua, hentikan!” Seru Ilham.

Mereka pun duduk di tempat yang masih kosong. Seluruh anggota dari kedelapan tim Serenity berkumpul di The Stage. Mereka duduk dengan manis di depan meja masing-masing. Meski tidak semua dari mereka beragama Islam, namun mereka saling menghormati rekan-rekannya yang tengah berpuasa.

Pesanan mereka datang, enam puluh empat minuman dingin berbagai macam jenis, serta enam puluh empat hidangan makanan dan cemilannya. Mereka pun menunggu detik-detik berbuka puasa sambil melakukan aktivitas masing-masing. Ada yang sibuk dengan gadget, ada yang sibuk menelepon, bahkan ada yang sibuk memandangi gelas minuman dingin di hadapan mereka.

Duk… Duk… Duk… Suara bedug adzan magrib dari radio yang tengah didengarkan Radit.

“Sudah buka! Sudah buka!” Serunya kegirangan.
“Alhamdulillah…” Sahut para anggota Serenity yang lain.

Ilham menyeruput sedikit minumannya, lalu bangkit berdiri. Seperti biasa, setelah adzan maghrib berkumandang, Ilham tak langsung menyantap banyak makanan atau minuman. Dia hanya meminum beberapa teguk minuman lalu pergi menunaikan ibadah sholat maghrib.

Dafi, Riza, dan Ilham pun mengikuti Ilham dari belakang disusul beberapa anggota Serenity yang lain. Mereka menunaikan ibadah sholat maghrib berjemaah dengan Setyo sebagai imamnya. Sebab di antara mereka, Setyo-lah yang paling baik pelafalan ayat-ayat Al-Qur’annya.

Selepas sholat maghrib, mereka kembali ke meja mereka masing-masing di The Stage. Canda tawa serta aksi saling sindir tak pernah lekang dari kelompok itu. Meski beberapa di antara mereka sudah bukan remaja lagi, namun saat berkumpul mereka seperti kembali ke masa-masa remaja mereka.

“Seperti biasa, momen yang pastinya sudah kalian tunggu-tunggu…,” ujar Tiwi terpotong.
“Saatnya arisan!!!” Sahut Ika, Nanda, dan Vina.

Tiwi mengeluarkan sebuah toples bening kecil yang sudah dilubangi bagian atasnya. Di dalamnya terdapat beberapa lembar kertas yang telah digulung dengan rapi. Kertas-kertas itu berisikan nama seluruh anggota Serenity tanpa terkecuali.

Untuk urusan arisan, Tiwi adalah ahlinya. Sehingga dirinya dipercaya untuk menjadi ketua arisan para anggota Serenity. Tiwi mengocok toples yang tengah dipegangnya lalu menuangkan selembar gulungan dari dalam toples.

Tiwi membuka gulungan itu perlahan-lahan. Semua mata tertuju pada Tiwi. Jantung mereka berdebar kencang saat Tiwi mulai membuka mulutnya.

“Yang beruntung malam hari ini adalah… Blue Captain!” Seru Tiwi.
“Yei!!!” Semua orang bersorak kegirangan.
“Selamat ya Kapten,” ujar Tiwi lalu memeluk Ilham.

Dafi, Riza, Rudi, Vina, Ika, dan juga Nanda pun ikut memeluk Ilham dengan erat. Selembar amplop putih kini diserahkan oleh Tiwi kepada Ilham. Semua orang senang. Semua orang gembira.

Setelah seluruh acara mereka selesai, mereka pun saling berjabat tangan dan berpelukan. Saling meminta maaf satu sama lain. Tak lupa juga mereka berfoto bersama untuk mengabadikan momen itu.

Para anggota Serenity telah pulang, kecuali Ilham. Dia duduk termenung di sudut kafe, merenungi kembali betapa beruntungnya dia dapat dikelilingi oleh para sahabat yang begitu menyayanginya.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *