Random 14: The Stage (extended)

“Sudahlah, biar surprise!!!”, sahut Kak Gagah.

Semakin larut pengunjung kafe ini semakin ramai saja. Kak Setyo bersama dua orang laki-laki datang menghampiri kami. Salah seorang laki-laki tersebut memasang ekspresi kesal penuh kerutan di wajahnya.

“Kenapa tiba-tiba jadwal tampil kami dibatalkan? Siapa yang bertanggung jawab atas semua ini?”, tanya laki-laki itu.

Kami berlima kompak menunjuk ke arah Dani.

“Lho? Kok jadi pada nyalahin aku sih?!”, ujar Dani berkilah.
“Bukannya memang kamu yang merencanakannya?”, tanya Kak Vio sinis.
“Tapi kan…”, jawab Dani bingung.
“Jadi kali ini kamu yang berulah Dani…???”, tanya laki-laki yang satunya.
“Sudahlah Mas Riza, Mas Dafi. Kalian membuat mereka takut tuh.”, kata Kak Setyo.
“Lagi pula ini semua atas perintah Blue Captain kok.”, ujar Dani.
“Kapten yang menyuruh?”, tanya Mas Riza dan Dafi bersamaan.

Belum selesai pembicaraan dengan Mas Riza dan Dafi, muncul lagi seorang laki-laki yang lain. Wajahnya tampak sama kesalnya dengan Mas Riza dan Dafi.

“Dimana Dani???”, teriaknya.
“Mas Rudi…???”, kata Dani mencoba kabur.

Dani mencoba untuk kabur namun dicegah oleh Mas Rudi. Dia langsung memiting dan mengunci leher Dani dengan lengannya.

“Mau kemana kamu?! Kali ini kamu gak akan lolos dari ku!”, ujar Mas Rudi dengan suara yang dibuat menyeramkan.
“Ampun Mas… Ampun…”, pinta Dani yang kesulitan bernapas.
“Apa maksudmu mengubah jadwal tampil kami malam ini hah?”, tanya Mas Rudi.
“Ampun Mas. Ini atas perintah Blue Captain kok. Kalau mau protes silakan ke Mas Ilham. Jangan ke aku.”, jawab Dani dengan sisa-sisa napasnya.
“Kapten yang menyuruh?”, tanya Mas Rudi.

Mas Rudi menoleh ke arah Mas Riza dan Dafi, mencoba mencari tahu jawaban atas pertanyaannya. Namun Mas Riza dan Dafi hanya menaikkan bahu mereka tanda tak tahu.

“Kali ini kamu aku lepaskan. Tapi lain kali, awas kamu!”, ancam Mas Rudi.

Mas Rudi melepaskan pitingan tangannya terhadap leher Dani. Dani pun dapat bernapas denganbebas kembali.

“Psst… Dani, mereka siapa?”, tanyaku berbisik.
“Uhuk… Uhuk… Biarkan aku bernapas dulu Sakti.”, jawabnya.
“Sakti? Jadi kamu yang bernama Sakti?”, tanya Mas Riza.
“I… Iya Mas.”, jawabku.
“Wah, Sakti! Kamu apa kabar? Wah ternyata kamu tinggi ya! Aku tidak menyangka akan bertemu secepat ini.”, ujar Mas Riza kegirangan sambil menjabat tangan dan mengayun-ayunkannya.

Mas Riza menjabat tanganku seolah-olah dirinya sudah mengenal diriku sejak lama. Mas Dafi dan Mas Rudi yang tadinya tampak galak berubah seratus delapan puluh derajat sekarang. Mereka tampak sangat ramah dan bersahabat. Mereka berdua bahkan menjabat tanganku lebih riang daripada Mas Riza.

“Psst… Sakti, kamu beken banget sih?!”, kata Akbar.
“Kamu kenal dengan orang-orang itu?”, tanya Zanuar.
“Enggak. Ketemu aja baru ini.”, jawabku.

Semakin lama semakin banyak yang datang menghampiri Dani dan melakukan aksi protes. Dani pun hanya mengeluarkan jawaban yang sama dengan jawaban sebelumnya kalau dia hanya melaksanakan perintah Blue Captain. Timbul rasa penasaran dalam dadaku, siapa sebenarnya sosok Blue Captain yang begitu disegani para anggota Serenity.

Kini giliran kami berenam untuk tampil di atas panggung di kafe ini. Lantai dasar kafe yang semula di penuhi meja dan kursi untuk pengunjung kini telah diungsikan sebagian untuk tempat para pengunjung berjingkrak-jingkrak menikmati live music yang disajikan oleh kafe ini.

Pengunjung mulai meneriaki nama Serenity agar segera tampil. Lampu yang menyinari seisi kafe pun diredupkan dan lampu yang menyinari panggung pun dimatikan. Mas Dafi dan Riza naik ke atas panggung dan lampu sorot langsung menyorot mereka berdua. Tepuk tangan pun pecah dari barisan pengunjung yang berdiri di depan panggung. Kami mengendap-endap naik ke atas panggung saat Mas Dafi dan Riza masih di atas panggung.

“Kami berdua tahu kalau malam ini sebenarnya kalian semua datang demi menonton kami tampil. Tetapi sayang sepertinya akan ada sedikit perubahan rencana karena Blue Team tidak akan tampil malam ini.”, ujar Mas Dafi.
“Tapi kalian semua tidak usah risau, karena kami sudah persiapkan penggantinya.”, sambung Mas Riza.
“Ladies and Gentlemen, please welcome… Serenity!!!”, teriak Mas Dafi.

Lampu menyala, keriuhan tepuk tangan pengunjung mereda. Keheningan melanda seluruh pengunjung. Musik akustik mulai diputar melalui pengeras suara. Akbar mengambil napas dalam dan mulai bernyanyi. Disusul oleh suaraku dan Dani. Zanuar, Zikri, dan Chris menyanyikan bagian refrainnya. Lagu Elang dari Dewa 19 pun menjadi pilihan kami sebagai lagu pembuka.

Tepuk tangan penonton mengiringi akhir penampilan pertama kami. Walau tampak gugup dan malu-malu pada awalnya, Chris yang berdiri di sampingku tampak bersemangat sekali saat ini. Musik kembali mengalun kali ini yang berirama mengentak. Masih dari Dewa 19, Separuh Nafas menjadi lagu pamungkas kami malam ini.

Walau tanpa persiapan yang panjang, kami menampilkan penampilan terbaik kami. Chris melakukan solo dance di tengah lagu. Decak kagum pengunjung tak dapat terelakkan lagi. Kini para pengunjung tak dapat membendung lagi perasaan ingin berjingkrak-jingkrak seiring dentuman lagu dari pengeras suara. Tepuk tangan riuh mengakhiri penampilan kami.

“Fiuh, kita berhasil!”, ujar Zanuar

Penampilan kami malam ini sukses besar. Rasa bangga, senang, dan haru bercampur baur di dalam dada saat para pengunjung mengelu-elukan nama Serenity. Pak Danu muncul, dia naik ke atas panggung.

“Wow wow wow wow… It’s so crowd here!”, teriak Pak Danu.
“Woo woo woo!!!”, sahut para pengunjung berteriak.
“Oke oke oke. Tahan semangat kalian. Karena kami punya pengumuman penting di sini…”, ujar Pak Danu.

Para pengunjung yang berteriak riuh seketika itu juga menjadi hening. Kami berenam pun ikut-ikutan terdiam dibuatnya.

“Hmm, sebenarnya bukan saya yang akan memberikan pengumuman.”, kata Pak Danu.
“Hah???”, ucap para pengunjung bertanya-tanya.
“Tuan-tuan dan nyonya-nyonya, sambutlah… Captain of Serenity, Blue Captain…”, ujar Pak Danu.

Seorang pemuda berjalan naik ke atas panggung. Semua pengunjung heran melihat pemuda tersebut. Ekspresi yang lebih terkejut lagi tampak pada wajah Mas Dafi, Riza, dan Rudi. Mereka bertiga terdiam dengan mulut ternganga tak dapat berkata apa-apa.

“Halo.”, sapa pemuda itu di depan mikrofon.
“Waaaa!!!! Kok bisa???”, teriak para pengunjung kompak.

Teriakan dari para pengunjung disambut dengan deruan suara tepuk tangan dari penonton. Sangat keras, bahkan lebih keras dari pada saat berakhirnya penampilan kami tadi.

“Hahaha. Sepertinya kalian semua benar-benar merindukanku.”, katanya.
“Blue Captain! Blue Captain! Blue Captain!”, suara teriakan para pengunjung kafe menggebu-gebu.
“Hahaha. Baik! Baik! Sekarang aku akan mengumumkan New Team…”, katanya.

Dia memasang senyuman lebar di wajahnya. Dia menarik napas dalam, memejamkan matanya sebentar, lalu menghela napas kembali sambil membuka matanya.

“Daniansyah Laksmana Putra, Red Crew!”, ujarnya menyebutkan nama Dani.

Dani dengan langkah penuh semangat naik ke atas panggung. Tepuk tangan dari pengunjung mengiringi langkah kakinya. Dani menghampiri pemuda itu lalu memeluknya erat. Pemuda itu pun membalasnya dengan pelukan erat terhadap Dani. Dia mengeluarkan sebuah kalung dengan sebuah kristal merah sebagai bandulnya, kemudian mengalungkannya ke leher Dani.

“Akbar Ridho, Orange Crew! Zanuar Arif, Yellow Crew! Christopher Pelipe, Green Crew! Zikri Septiandri, Blue Crew!”, ujarnya lagi memanggil satu per satu nama teman-temanku.

Akbar, Zanuar, Chris, dan Zikri naik ke atas panggung meski tak mengerti apa yang tengah terjadi. Tepuk tangan pengunjung masih tetap mengiringi setiap langkah mereka masing-masing. Mereka masing-masing juga mendapatkan kalung dengan kristal berwarna sesuai dengan warna saat nama mereka disebut.

“Terakhir. Saktian Hanggono, Purple Crew!”, ujarnya memanggil namaku.

Jantungku berdegup kencang. Ku ambil langkah pertama menaiki anak tangga menuju panggung. Seluruh mata pengunjung kini menatap ke arahku. Tepuk tangan tanpa henti terus mengiringi langkah kakiku. Pemuda itu menghampiriku. Lalu dia memelukku dengan erat. Dia melepaskan pelukannya lalu memberikan senyuman terramah yang pernah ku lihat. Dia mengalungkan sebuah kalung dengan kristal ungu ke leherku. Aku pun menghampiri kelima teman-temanku yang tengah berbaris rapi di atas panggung ini.

“Dan sekarang, penentuan tim… Purple Team!”, ujarnya setengah berteriak.
“Yeeee!!! Purple Team! Purple Team! Purple Team!”, teriak para pengunjung.

2 thoughts on “Random 14: The Stage (extended)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *