Random 25: Pernyataan Zizi & Tekad Purple Captain

Mulai hari ini latihan Serenity akan hanya fisik, vokal, dan juga koregrafi, tetapi juga latih tanding. Green Team, Orange Team, dan juga Purple Team akan menghadapi para anggota Blue Team dan Red Team di The Stage setiap malam dengan tema yang berbeda setiap malamnya. Para coach sengaja mendesain latihan seperti ini agar kami lebih siap menghadapi tim-tim dari provinsi lain.

Tema malam ini adalah male dance crew battle. Baik dari pihak alumni maupun non-alumni dipersilakan menunjuk lima orang dancer terbaik mereka untuk menampilkan koreografi terbaik. Keputusan pemenang akan diambil berdasarkan tepuk tangan penonton. Dan sekarang kami tengah rapat membahas pertandingan malam ini.

“Baru malam pertama, tema tantangannya sudah seberat ini.”, ujar Kak Karin.
“Kenapa begitu Kak?”, tanya Chris.
“Karena di tantangan malam ini Red Team akan sangat diuntungkan, karena empat orang member laki-lakinya adalah dancer yang handal. Belum lagi mereka pasti akan bergabung dengan Kak Rudi dari Blue Team. Kita tidak akan menang mudah.”, jawab Kak Karin.
“Bukankah di pihak kita ada Kak Radit, juara kompetisi dance tingkat nasional.”, ujarku berkomentar.
“Tetap saja hal itu tidak akan semudah apa yang kamu pikirkan. Mereka berlima pasti sudah mengantisipasi hal itu. Ingat, mereka juga juara nasional.”, ujar Kak Karin.
“Kalau begitu cepat putuskan siapa yang akan tampil malam ini.”, ujar Kak Radit.
“Kalau menurutku sebaiknya Green Captain, Setyo, Nando, Andre, dan juga Chris.”, ujar Kak Karin.
“Bagaimana menurut yang lain? Nikki? Sakti?”, tanya Kak Radit.
“Aku setuju dengan pilihan Kak Karin. Di Orange Team, hanya Kak Nando dan Andre yang menonjol dalam hal dance dan koreografi.”, jawab Kak Nikki.
“Aku juga setuju.”, jawabku pendek.
“Asyik! Malam ini kita tampil!”, ujar Kak Andre.
“Huh… Benar-benar merepotkan.”, ujar Kak Nando.
“Kalau begitu apa yang kita tunggu. Saatnya latihan!”, teriak Kak Radit.
“Ai ai Kapten!”, teriak kami semua.

Matahari pun mulai tenggelam. Green Team, Orange Team, dan juga Purple Team sudah sampai di The Stage. Lima orang akan tampil dari pihak kami tengah bersiap-siap sementara Blue Team dan Red Team belum juga tampak. Sedangkan anggota tim yang tidak tampil duduk manis di sudut spesial khusus anggota Serenity, para coach, dan anggota Alvin and The Black Crew. Kami sudah tak sabar.

“Maaf menunggu lama.”, ujar Kak Angga.
“Kenapa kalian lama sekali?”, tanya Bu Dara.
“Biasa coach, tiga laki-laki ini belum mau beranjak ke sini jika Kapten mereka belum marah-marah via skype.”, jawab seorang gadis dari Blue Team.
“Sudah jangan banyak bicara lagi. Segera mulai saja pertandingannya.”, ujar Kak Karin.

Mas Rudi beserta empat anggota laki-laki dari Red Team kini berdiri saling berhadapan dengan Kak Radit, Kak Setyo, Kak Nando, Kak Andre, dan juga Chris. Kak Rio melempar sebuah koin ke udara untuk mengundi siapa yang akan tampil pertama.

“Junior, take the stage!”, ujar Kak Rio.

Kak Radit dan kawan-kawan mengambil tempat di atas panggung. Para pengunjung kafe berteriak riuh melihat Kak Radit serta yang lain berpenampilan beda hari ini. Mereka mengenakan celana jogger, kaos tanpa lenga, dan juga sepatu kets. Musik mulai diputar melalui pengeras suara. Aku tidak mengerti banyak tentang jenis-jenis gerakan dance, namun yang pasti gerakan mereka berlima sangat rapi dan kompak. Pengunjung yang menonton penampilan mereka tak jarang berdecak kagum saat masing-masing dari mereka berlima melakukan gerakan. Chris juga tampak sangat percaya diri meski di antara kelima orang itu dialah yang paling muda.

Giliran para senior untuk tampil. Berbeda dengan penampilan para junior, mereka tampil dengan level yang jauh berbeda dengan para junior. Tidak hanya rapi dan kompak, tetapi mereka juga memperhatikan dari segi kreativitas. Jumlah jenis gerakan yang mereka lakukan juga lebih banyak dari pada yang ditampilkan para junior. Penonton sampai berteriak histeris. Kami jelas kalah telak.

Pertandingan berakhir, para pengunjung memberikan tepuk tangan yang sangat riuh pada penampilan para senior. Raut kekecewaan tampak di wajah kelima junior sementara ekspresi datar seolah-olah biasa saja tampak di wajah para senior.

Prok… Prok… Prok… Suara tepuk tangan seseorang menghampiri kami. Seorang gadis yang wajahnya tak asing bagi kami datang menghampiri. Ekspresi wajah para anggota Serenity mau pun para coach berubah menjadi tidak ramah.

“Penampilan yang sangat menarik. Ternyata hanya sampai di sini saja kemampuan Serenity yang terkenal ini.”, ujar Olivia sombong.
“Seperti kamu sudah berpergian terlalu jauh Olivia.”, ujar Kak Angga.
“Oh, tenang. Aku datang ke sini bukan untuk mencari keributan. Aku hanya datang untuk mengucapkan selamat. Karena tahun ini gelar juara nasional akan jatuh ke tangan kami.”, balas Olivia.

Aku tak begitu peduli terhadap Olivia karena saat ini aku hanya fokus menatap sosok gadis yang berdiri di belakangnya. Sosok yang dulu begitu ku sukai, namun kini dengan penampilan yang jauh berbeda. Dia mengenakan pakaian yang sangat anggun, jauh dari kesan polos. Dia juga tak lagi mengenakan kacamata yang dulu tak boleh lepas sekejap pun dari dirinya. Dan riasan wajah dan tatanan rambut itu yang membuatku nyaris tak mengenalinya.

“Sepertinya kali ini kita akan menang mudah. Ayo pergi, Zizi!”, ujar Olivia.
“Baik coach.”, sahut Zizi pelan.
“Tunggu! Kita butuh bicara!”, kataku menarik tangan Zizi.

Aku menarik tangan Zizi dan membawanya keluar dari The Stage untuk bicara. Walau penampilannya berubah, aku yakin kalau dia masih Zizi yang dulu ku kenal. Zizi tiba-tiba menarik tangannya setibanya kami di luar.

“Apa yang kamu lakukan!”, pekik Zizi.
“Apa yang aku lakukan? Seharusnya itu menjadi pertanyaan yang ku ajukan. Apa yang selama ini kamu lakukan?”, balasku bersuara keras.

Zizi terdiam setelah mendengar kata-kataku. Dia memalingkan wajahnya, tak berani menatapku.

“Enam bulan Zi. Enam bulan kamu menghilang gitu aja, gak ada kabar sama sekali. Dan sekarang kamu muncul lagi seolah-olah tidak terjadi apa pun.”, kataku lagi.
“Jadi apa maumu sekarang?”, tanya Zizi dengan nada menantang.
“Aku hanya ingin tahu alasannya. Kenapa?”, kataku sambil menatap matanya.

Aku menatap dalam kedua bola matanya. Berharap Zizi yang dulu ku kenal akan kembali. Namun yang ku dapati malah sebaliknya.

“Karena aku bosan! Bosan menjadi Zizi si kutu buku! Bosan menjadi Zizi yang lemah! Bosan menjadi Zizi si Miss Kikuk! Bosan menjadi Zizi yang terus menjadi korban bully di sekolah karena menjadi pacarmu!”, jawab Zizi dengan nada tinggi.

Aku tertegun mendengar jawaban Zizi. Apakah selama ini dia begitu menderita karena dekat denganku? Zizi menyeka matanya, lalu kembali menatapku dengan tatapan menantang.

“Zizi yang kamu kenal dulu sudah tidak ada. Sekarang hanya ada aku. Ziliana Prameswari yang akan mengalahkan kalian dan menjadi juara nasional. Dengan begitu, tidak akan ada lagi yang memandang rendah diriku.”, ujarnya lalu beranjak pergi.

Zizi pergi meninggalkan ku sendirian. Kata-kata Zizi tadi terus terputar jelas di kepalaku. Kak Radit dan Kak Nikki datang menghampiriku yang kini duduk sendirian di kursi bagian luar The Stage karena sudah pergi terlalu lama.

“Kamu baik-baik saja kapten?”, tanya Kak Radit.
“Kami semua cemas mengkhawatirkan dirimu di dalam.”, sambung Kak Nikki.
“Aku sudah bertekad, kita harus memenangkan kompetisi tingkat nasional. Apa pun yang terjadi. Kalian berdua, aku mohon, tolong latih aku.”, jawabku.

Kak Radit dan Kak Nikki tak membalas kata-kataku. Mereka hanya tersenyum sambil merangkul bahuku.

“Ai ai Kapten!”, kata mereka berdua.

2 thoughts on “Random 25: Pernyataan Zizi & Tekad Purple Captain

    1. Terima kasih juga sudah membaca cerita saya Kak Irma. Terus dibaca sampai akhir #nulisrandom2015 nanti ya.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *