Random 27: Obrolan Pagi

Hari ini Dani tampak bahagia sekali. Sejak pagi wajahnya selalu tersenyum lebar. Meski ada kantong mata yang membekas di bawah kedua kelopak matanya namun matanya tampak berseri-seri.

“Psstt… Kapten, Dani kenapa senyum-senyum sendiri seperti itu sejak pagi?”, tanya Chris berbisik di sebelahku.
“Tidak tahu. Mungkin dia baru menang undian kali.”, jawabku juga berbisik.
“Menang undian?”, tanya Chris bingung.
“Sudah, jangan pusingkan hal itu kita harus fokus dalam penampilan kita berdua malam ini.”, jawabku.

Ya. Malam ini aku dan Chris akan tampil dalam duet. Aku dan Chris akan bernyanyi mewakili Purple Team. Sebab tema tantangan malam hari ini adalah lagu duet. Tiga grup dari tim junior akan melawan tiga grup dari tim senior. Kak Radit akan tampil bersama Kak Setyo mewakili Green Team , sementara Kak Nikki akan tampil bersama Kak Nando mewakili Orang Team. Sedangkan lawan kami malam hari tentu saja perpaduan antara para anggota Blue Team dan Red Team.

Lima grup telah tampil menunjukkan penampilannya, baik dari tim junior maupun dari tim senior. Kini saatnya aku dan Chris untuk tampil. Malam ini kami akan bernyanyi Mau Dibawa Kemana. Aku tak mau memaksakan Chris untuk menyanyikan lagu dengan tingkat kesulitan yang tinggi namun membuat penampilan kami menjadi jelek. Untung saja para pengunjung The Stage merasa terhibur dengan duet kami berdua dan dapat mengajak para pengunjung untuk ikut bernyanyi bersama.

Hoam… Ternyata sudah pagi. Semalam kami berenam menginap di rumah Chris. Menghabiskan sisa Sabtu malam menonton DVD film horor setelah tampil di The Stage. Tim junior berhasil memenangkan tantangan tadi malam. Sehingga kedudukan kembali imbang antara tim junior dan tim senior.

Ternyata sebelum diriku bangun, Dani sudah bangun lebih dahulu. Atau mungkin sejak tadi malam dia belum tidur? Dia duduk di depan meja makan dengan segelas susu cokelat hangat di atasnya.

“Kamu gak tidur?”, tanyaku menghampirinya.
“Baru bangun.”, jawabnya sambil menatap layar ponselnya.
“Ooh…”, kataku.

Dani tersenyum sendiri saat menatap layar ponselnya. Bahkan sesekali dirinya tertawa kecil sendiri. Aku mengambil sesachet kopi instan yang telah tersedia di meja makan, menuangkan isinya ke dalam sebuah cangkir keramik cantik, lalu menyeduhnya dengan air panas dari dispenser. Sementara itu Dani masih sibuk sendiri dengan ponselnya.

Satu per satu keempat temanku yang lain termasuk Chris sang tuan rumah bangun. Chris menunjukkan kemampuannya dalam mengolah bahan-bahan makanan kepada kami berlima. Zanuar ikut membantu Chris menyiapkan sarapan pagi. Sementara kami berempat hanya duduk manis di depan meja makan menunggu mereka berdua selesai menyiapkan sarapan pagi.

Satu wajan besar nasi goreng seafood panas pun telah selesai dimasak. Aroma masakan yang menggugah selera itu langsung memicu rasa lapar yang mendera kami sejak tadi semakin menjadi-jadi. Segelas jus jeruk segar pun menjadi pendamping santapan pagi kami hari ini.

“Dani, sarapan dulu.”, ujarku mengingatkan Dani.
“Iya iya Kapten.”, kata Dani mengiyakan perkataanku.

Belum lewat sepuluh detik Dani mengiyakan perkataanku tadi, dia sudah kembali berkutat dengan ponselnya.

“Duh. Yang lagi kasmaran itu.”, ujar Akbar menyindir.

Dani tiba-tiba terdiam. Dia tampak terkejut mendengar perkataan Akbar.

“Kamu kok bisa tahu?”, tanya Dani tiba-tiba.
“Tentu saja aku tahu. Zanuar, Zikri, dan Chris juga sudah tahu.”, jawab Akbar.
“Kalian bertiga sudah tahu?”, tanya Dani lebih terkejut.
“Tentu saja kami tahu. Hihihi.”, jawab Zikri.
“Hmm… Sehebat apa pun dirimu menyembunyikannya dari kami, kami pasti akan tahu juga.”, sambung Zanuar.
“Aku tidak ikut-ikutan.”, sahut Chris.
“Jadi selama ini kalian sudah tahu? Oh ya, bukannya selama ini Akbar lagi PDKT pada Nuri.”, kataku lalu meneguk jus jeruk bagianku.
“Aku? PDKT pada Nuri? Ya enggaklah.”, kata Akbar.
“Lalu kenapa waktu itu kamu mengajak Nuri saat makan malam?”, tanya Dani dengan nada penasaran.
“Aku hanya ingin menguji apakah kamu tertarik pada Nuri atau tidak. Tenang saja, Nuri itu bukan tipeku.”, jawab Akbar.
“Jadi tipemu seperti apa? Jangan-jangan benar lagi kalau kamu udah jadian sama Pia anak kelas sebelah.”, sindir Zanuar.
“Ah, aku kira dia lagi PDKT dengan Siti anak Paskib.”, ujar Zikri.
“Aku pernah lihat dia sedang berduaan di perpustakaan dengan Nita anak basket. Mereka berdua tampak intim.”, ujar Chris.
“Astaga, aku tidak tahu kalau kamu itu playboy juga.”, kataku.
“Bukan begitu Kapten. Aku dan mereka bertiga hanya teman biasa. Tidak lebih. Zanuar dan Zikri juga tuh Kapten. Mereka berdua lagi PDKT dengan si kembar Lia dan Nia.”, ujar Akbar tak mau kalah.
“Iya benar tuh Kapten. Aku pernah memergoki mereka berdua tengah jalan berempat di toko buku.”, tambah Dani memanas-manasi.
“Kalau itu aku juga sudah dengar. Kabarnya tuh Zanuar mengincar Lia, tapi Lia malah naksir Zikri. Nah, sebaliknya Zikri mengincar Nia, tapi Nia naksir Zanuar.”, kataku tak mau kalah.
“Wah, ternyata bisa juga seperti itu?”, tanya Chris.
“Lho, kok jadi bahas kami? Chris, kamu juga. Aku dengar kamu memutuskan pertunanganmu dengan Mega karena Wanita Idaman Lain kan.”, jawab Zanuar yang kini menyerang Chris.
“Ah? Aku???”, ujar Chris kaget.
“Iya iya, aku sempat lihat Chris teleponan sama cewek secara sembunyi-sembunyi.”, kataku.
“Wah,  kamu ternyata sudah berubah ya Chris. Sudah tidak malu-malu lagi seperti dulu.”, timpal Zikri.
“Ah anu itu…”, ujar Chris terbata-bata.
“Nah tuh kan. Gak bisa jawab.”, ujar Akbar langsung.

Kami berlima tertawa bersama-sama melihat ekspresi wajah Chris yang berbicara terbata-bata seperti itu. Chris juga akhirnya ikut tertawa bersama kami.

“Lalu Kapten sendiri bagaimana?”, tanya Chris di tengah tawa kami.
“Iya, Kapten sendiri bagaimana?”, sambung Zanuar.

Aku langsung terdiam tak tahu harus berkata apa. Sudah hampir setahun aku tak punya pacar atau mencari pacar baru.

“Ah, kalau aku santai saja. Hehehe.”, jawabku senormal mungkin.
“Tipe wanita Kapten seperti apa?”, tanya Zikri.
“Iya iya, seperti apa?”, sambung Akbar penasaran.
“Hmm… Seperti apa ya. Aku tidak terlalu suka perempuan yang berisik. Hobi dandan. Apa lagi yang suka hura-hura dan boros.”, jawabku.
“Ooohhh, jadi sebab itulah Kapten menyimpan foto gadis ini di ponsel Kapten?!”, ujar Zanuar menunjukkan foto Zizi di ponselnya.
“Iya iya. Ternyata perempuan di dalam foto itu benar-benar pujaan hati Kapten.”, sambung Zikri.
“Tapi sepertinya wajahnya tidak asing. Aku pernah lihat dimana ya?”, tanya Akbar.

Astaga, darimana Zanuar mendapatkan foto lama Zizi itu. Mereka bertiga kini menatapku dengan sinis.

“Dia Ziliana Prameswari alias Zizi. Lead vocal wanita di Water Lily.”, ujar Dani santai.
“Apa???”, teriak Zanuar, Zikri, dan Akbar.
“Tidak mungkin. Zizi dari Water Lily itu kan cantik. Mana mungkin berpenampilan cupu begini.”, ujar Zanuar.
“Hmm, pantas saja Kapten tampak begitu terkejut ketika bertemu Zizi malam itu.”, ujar Chris.
“Kasihan Kapten kita. Kapten dicampakkan begitu saja oleh gadis itu.”, ujar Dani.
“Apa itu benar Kapten?”, tanya Chris.

Aku tidak menjawab pertanyaan Chris. Sebab diriku bingung harus menjawab apa. Dani pun menceritakan kisahku dengan Zizi pada keempat temanku yang lain. Ekspresi wajah mereka berubah marah setelah mendengar cerita dari Dani.

“Ini tidak bisa dibiarkan. Dia kira siapa dirinya!”, pekik Akbar geram.
“Iya, dia sudah menyakiti hati Kapten. Dia harus diberi pelajaran.”, pekik Zanuar.
“Baiklah! Kita harus mengalahkannya sebagai balasan atas perlakuannya pada Kapten!”, pekik Zikri.
“Aku juga kesal mendengar cerita tentangnya. Kita harus menang!”, teriak Chris bersemangat.
“Ya!!!”, sahut Zanuar, Zikri, Akbar, dan Dani.

2 thoughts on “Random 27: Obrolan Pagi

    1. Terima kasih telah menyempatkan waktu untuk membaca tulisan saya kak. Terus ikuti kelanjutannya ya. Hyohohoho.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *