lebaran

Lebaran 3: Idul Fitri Untuk Ilham

Allahu Akbar… Allahu Akbar… Allahu Akbar… Laa Ilaha Illallahu Allahu Akbar… Allahu Akbar Walillahilhamd… Takbir bergema di langit seantero alam, menyambut datangnya bulan penuh kemenangan. Seluruh umat Islam telah mempersiapkan diri sejak subuh hari untuk pergi ke mesjid untuk menunaikan sholat Idul Fitri berjemaah. Tidak terkecuali untuk Ilham, Ilham menutup pintu rumahnya, menguncinya, lalu berangkat menuju mesjid.

Mesjid yang Ilham datang sudah ramai akan jemaah yang juga ingin menunaikan ibadah sholat Idul Fitri. Sambil menunggu sholat dimulai, mereka memanjatkan takbir hingga menggema ke segala penjuru.

Ketua Badan Kenaziran Mesjid berpidato tentang jumlah zakat fitrah yang diterima oleh panitia penerimaan zakat fitrah, lalu menjelaskan tata cara pelaksanaan sholat Idul Fitri pada pagi hari itu.

Sholat Idul Fitri pun dimulai. Seluruh jemaah sholat Idul Fitri bangkit berdiri, mengangkat tangan melakukan takbiratul ihram, dan tenggelam dalam ibadah yang khusyuk. Suara lantunan ayat-ayat suci Al-Quran dari sang imam pun tak pelak membuat beberapa orang jemaah menjadi sesenggukan menahan air mata.

Selepas sholat Idul Fitri berjemaah, seluruh jemaah saling berjabat tangan sambil bermaaf-maafan. Tidak jarang mereka saling berpelukan sambil menitikan air mata. Ilham berjalan keluar dari dalam mesjid. Dia melihat banyak keluarga yang berjalan beriringan, saling bersenda gurau sepanjang jalan pulang. Ilham hanya bisa tersenyum kecil melihat pemandangan indah itu.

Ilham terus berjalan, dia tidak langsung pulang ke rumah. Dia berjalan menuju sebuah taman pemakaman umum. Di depan makam Ibunya dia memanjatkan doa dan beberapa surat pendek Al-Qur’an. Dia menyeka air matanya yang mengalir dengan derasnya.

Kini dia menjalani hari-hari raya seorang diri. Tidak ada lagi sosok Ibu yang menemaninya dan menjadi tempatnya bersimpuh di hari kemenangan itu. Cukup lama dirinya berada di depan makam Ibunya. Hingga ponselnya berdering membuyarkan lamunannya. Ilham bangkit berdiri dan berjalan meninggalkan makam Ibunya sambil menjawab panggilan di ponselnya.

Lebaran 2: Beres-Beres Rumah

Sapu sana, sapu sini, pel sana, pel sini. Itulah kegiatan Ilham dua hari menjelang Hari Raya Idul Fitri. Dia mengenakan celana pendek selutut serta mengikatkan handuk kecil ke kepalanya sambil memegang gagang pel di tangannya. Setelah lantai yang dipelnya mengering dia mengelap debu yang menempel seluruh benda di dalam rumah lalu menata ulang perabotan di rumah itu. Dia benar-benar sibuk saat itu. Sudah empat tahun terakhir dia merayakan hari penuh kemenangan dalam kesendirian.

“Huh, akhirnya selesai juga. Selanjutnya bersih-bersih peralatan memasak dan peralatan makan,” ujarnya dalam hati.

Satu per satu peralatan memasak dan peralatan makan di rumah yang telah kotor atau berdebu dia cuci. Kemudian dia tiriskan di atas rak masing-masing peralatan. Ilham yang lelah seharian membersihkan rumah kini merebahkan diri di atas tempat tidurnya.

Ya, begitulah kehidupan Ilham semenjak Ibundanya wafat saat dia masih SMA. Kehidupannya langsung berubah seratus delapan puluh derajat. Semenjak saat itu dia harus bekerja keras dalam memenuhi segala kebutuhannya, terutama dalam bidang pendidikan. Maklum saja, semasa hidup Ibu Ilham hanya bekerja sebagai buruh di pabrik yang gajinya pas-pasan. Semasa Ibunya masih hidup, Ilham juga sudah bekerja paruh waktu meski sebagai pengantar koran atau menata halaman rumah orang lain. Belum lagi dia harus membagi waktunya untuk menjadi Kapten di Serenity. Ibu Ilham selalu berpesan kepadanya untuk menggapai ilmu setinggi-tingginya.

“Akhirnya selesai juga,” ujar Ilham sambil merebahkan dirinya ke atas kursi.

Rumah sederhana berukuran kecil peninggalan Ibunya itu kini telah rapi dan bersih. Ilham menghela napas panjang, mencoba menghimpun kembali tenaganya yang telah terkuras. Belum lagi karena dirinya tengah berpuasa.

Ponsel Ilham berdering, ada panggilan masuk dari Dafi. Ilham pun menjawab panggilan masuk di ponselnya itu.

“Halo,” sapa Ilham.
“Halo, Kapten. Kapten dimana?” Tanya Dafi.
“Di rumah. Kenapa?” Tanya Ilham balik.
“Hmm, kami sekeluarga mau berangkat mudik. Kapten yakin mau lebaran sendirian? Ikut keluarga kami saja, yuk!” Jawab Dafi.
“Iya, sudah kamu berangkat saja. Aku tidak apa-apa kok. Lagi pula, aku tidak mungkin mengganggu acara keluarga besarmu, kan?” Ujar Ilham.
“Tapi Kapten…,” ujar Dafi tertahan.
“Sudah, tidak ada tapi-tapi lagi. Sekarang kamu berangkat, hati-hati di jalan. Jangan ngebut,” kata Ilham.

Ilham pun mengakhiri panggilan masuk di ponselnya. Dia melihat jam di dinding rumahnya telah menunjukkan pukul setengah lima sore. Saat baginya untuk mempersiapkan hidangan untuk berbuka puasa. Belum sempat dirinya mencuci bahan-bahan makanan yang baru saja dikeluarkan dari dalam kulkas, Rudi pun meneleponnya.

“Halo Kapten,” sapa Rudi.
“Halo. Ada apa Rud?” Tanya Ilham.
“Kapten lagi dimana?” Tanya Rudi balik.
“Di rumah. Kenapa memangnya?” Tanya Ilham lagi.
“Ikut aku mudik yuk!”, ajak Rudi.

Ilham menghela napasnya.

“Kamu berangkat saja. Tidak usah mengkhawatirkan diriku. Aku baik-baik saja kok,” ujar Ilham menolak.
“Tapi kan Kapten…,” ujar Rudi tertahan.

Belum sempat Rudi menyelesaikan perkataannya, Ilham sudah menutup teleponnya. Ilham kembali melanjutkan prosesi masak-memasaknya di dapur.

“Hmm, sampai dimana aku tadi?” Tanya Ilham pada dirinya sendiri.

Ilham mencuci bersih sayuran dan buah-buahan yang dia ambil dari dalam kulkas, kemudian memotong-motong sayuran dan buah-buahan tersebut. Lalu dia memasukkan buah-buahan tadi ke dalam blender lalu menghancurkannya hingga menjadi jus.

Ponsel Ilham kembali berdering. Kali ini panggilan masuk di ponselnya datangnya dari Riza.

“Halo Za,” sapa Ilham.
“Kapten, ikut aku dan Setyo mudik yuk!” Ajak Riza.
“Hedeh… Riza, aktifkan pengeras suara ponselmu. Sekarang!” Seru Ilham.

Riza menelan ludah, dia ketakutan. Riza pun menekan tombol untuk mengalihkan suara panggilan teleponnya ke pengeras suara ponselnya.

“Dafi, Rudi, Riza, Tiwi, Via, dan Nanda, aku tahu kalian bertujuh ada di situ. Berhenti mencemaskanku dan segera berangkat mudik!” Seru Ilham dengan nada kesal.
“Ai! Ai! Kapten!” Sahut mereka bertujuh.

Ilham menutup panggilan masuknya. Kemudian kembali menghela napas panjang.

“Huh… Sampai dimana aku tadi?” Tanya Ilham pada dirinya sendiri.

Tok tok tok… Suara ketukan dari pintu rumah Ilham. Tok tok tok… Suara ketukan di pintu kembali terdengar. Ilham pun mengecilkan api di kompor lalu bergegas membukakan pintu.

“Hihihi…,” Nikki tersenyum lebar saat Ilham membukakan pintu.
“Kamu ada apa datang ke sini?” Tanya Ilham sambil menepuk dahi.
“Ayah dan Ibuku sedang pergi. Aku ditinggal sendiri di rumah, tidak ada makanan untuk berbuka puasa, jadi aku ke sini deh. Hihihi…,” jawab Nikki.
“Hedeh… Ya sudah, ayo masuk!” Ujar Ilham mengajak masuk.

Ilham kembali memasak di dapur dengan Nikki yang membantunya. Walau Nikki hanya membantu mengupas bawang saja.

Tok tok tok… Suara ketukan di pintu kembali terdengar. Ilham bergegas menghampiri pintu masuk rumahnya.

“Kapten…,” sapa Satria sang Maroon Captain dengan suara terisak.
“Hedeh, biar ku tebak. Lagi-lagi kamu kalah taruhan, kan?” Tanya Ilham.

Satria mengangguk. Ilham kembali menghela napas sambil menepuk dahinya.

“Ya sudah, ayo masuk! Nikki juga ada di dalam,” ajak Ilham.
“Hmm, baunya sedap. Kapten sedang masak, ya?” Tanya Satria.
“Iya, kamu duduk saja dulu di kursi itu,” jawab Ilham.

Masakan yang dimasak Ilham sejak tadi akhirnya matang. Dia mematikan kompor yang menyala lalu menuangkan masakan-masakan yang dia masak ke piring.

Tok tok tok… Suara pintu rumah Ilham yang kembali diketuk. Dengan langkah malas Ilham berjalan menuju pintu rumahnya.

“Kapten…,” sapa Angga, Radit, dan Sakti.
“Masuk,” seru Ilham.

Ilham mempersilahkan ketiga juniornya itu untuk turut masuk ke dalam rumahnya.

“Sekarang tinggal menunggu Yakub dan Tristan,” ujar Ilham.
“Kapten kok bisa yakin begitu? Hihihi,” tanya Nikki sambil tertawa kecil.
“Tentu saja yakin, biasanya kalau kalian berempat sudah ada di sini, pasangan kakak beradik lain ayah lain ibu itu pasti juga datang,” jawab Ilham menggerutu.

Tok tok tok… Suara ketukan lagi dari pintu rumah Ilham. Ilham pun membuka pintu rumahnya dengan segera.

“Kapten!!!”, teriak Yakub sang Yellow Captain.
“Cepat masuk! Sudah mau buka puasa,” kata Ilham.

Tristan sang Pink Captain yang pemalu pun mengikuti langkah Ilham dan Yakub yang masuk terlebih dahulu. Pada akhirnya rumah yang semula sudah rapi tertata, kini kembali berantakan. Ilham hanya bisa menghela napas panjang, dan malam itu dia harus kembali beres-beres rumah.

Lebaran 1: Arisan

“Aku mau yang itu!” Tukas Ika.
“Tidak! Itu punyaku!” Kata Tiwi.
“Tidak, tidak, tidak! Itu punyaku!” Kata Nanda.
“Kalian pasti bercanda, itu punyaku!” Kata Vina.

Ilham, Dafi, dan Rudi hanya bisa diam terpaku di sudut pusat perbelanjaan sambil memegang kantung belanjaan di tangan mereka.

“Apa kita biarkan saja mereka berempat seperti itu, Kapten?” Tanya Riza.
“Biarkan saja mereka seperti itu. Sudah lama aku tidak melihat mereka akrab seperti itu,” jawab Ilham.
“Mereka lebih mengerikan daripada pembunuh bayaran,” ujar Dafi.
“Apa kamu bilang???” Teriak keempat gadis dari Blue Team dengan tatapan mata sinis.

Dafi langsung terdiam. Tatapan mata keempat gadis itu benar-benar mencekam. Mereka pun kembali meneruskan perdebatan mereka.

“Mereka benar-benar menakutkan Kapten,” kata Dafi.
“Iya, benar,” sambung Rudi.

Sementara itu Riza tengah sibuk sendiri memilih beberapa baju muslim untuk kedua orang tua Setyo. Seperti biasa, setiap tahun Riza selalu berlebaran di rumah kedua orang tua Setyo. Sebab kedua orang tuanya tidak bisa kembali ke Indonesia saat lebaran.

“Yang ini untukku, yang ini untuk Bu’e, yang ini untuk Tyo, yang itu untuk Pak’e. Hmm… Mana lagi, ya?” Ujar Riza sendiri.
“Kamu mau belanja sebanyak itu?” Tanya Rudi.
“Tentu saja, tahun ini aku juga menghabiskan libur lebaran di rumah orang tua Setyo,” jawab Riza.
“Jadi semuanya pada mudik, ya?” Tanya Dafi.
“Sepertinya begitu. Kecuali…,” jawab Rudi terpotong.

Dafi, Riza, dan Rudi menoleh ke arah Ilham. Tatapan mata mereka berubah menjadi sendu.

“Kapten…,” kata mereka bertiga pelan.
“Hahaha… Kalian ini kenapa sih? Biasanya juga tiap tahun aku menghabiskan lebaran di Jepang sendirian,” kata Ilham.
“Tapi kan, sekarang Kapten sudah kembali ke Indonesia…,” ujar Dafi.
“Bagaimana kalau aku tidak usah mudik?” Tanya Rudi.
“Iya, benar juga. Kalau begitu aku juga enggak mudik deh,” sambung Dafi.
“Kalian tidak boleh batal mudik. Pokoknya aku akan marah jika kalian sengaja tidak mudik tahun ini!” Seru Ilham.

Keempat gadis dari Blue Team masih sibuk berebut barang-barang obral di pusat perbelanjaan itu. Aksi saling sikut dan dorong antar sesama pemburu barang-barang obral tak terelakkan siang itu. Meski mereka semua tengah berpuasa, namun kekuatan semangat dari barang-barang obral itu membuat mereka semakin menjadi-jadi.

“Ah, kakiku pegal sekali,” ujar Vina.
“Tapi kamu hebat, bisa mengalahkan ibu-ibu gemuk tadi,” ujar Tiwi.
“Iya, aku sampai tak bisa bernapas di antara mereka,” sambung Ika.
“Kalau aku lebih memilih menyingkir dari mereka, dan menjajah di tempat lain,” ujar Nanda bangga.

Mereka berjalan berdampingan di depan Ilham, Dafi, Riza, dan Rudi. Mereka berjalan sambil berbincang seperti tenaga mereka tak terkuras sama sekali sehabis belanja.

“Mereka benar-benar mengerikan,” ujar Dafi.

Mereka berdelapan masuk ke dalam mobil dan siap untuk pergi lagi. Sore itu mereka akan melakukan buka puasa bersama di The Stage.

“Kalian lama sekali!” Pekik Angga.
“Seperti biasa, keempat monster ini langsung kalap begitu melihat simbol diskon besar-besaran,” ujar Riza.
“Kamu bilang apa, hah?”, ujar Tiwi memiting leher Riza.
“Ampun, ampun, ampun!” Ujar Riza.
“Kalian berdua, hentikan!” Seru Ilham.

Mereka pun duduk di tempat yang masih kosong. Seluruh anggota dari kedelapan tim Serenity berkumpul di The Stage. Mereka duduk dengan manis di depan meja masing-masing. Meski tidak semua dari mereka beragama Islam, namun mereka saling menghormati rekan-rekannya yang tengah berpuasa.

Pesanan mereka datang, enam puluh empat minuman dingin berbagai macam jenis, serta enam puluh empat hidangan makanan dan cemilannya. Mereka pun menunggu detik-detik berbuka puasa sambil melakukan aktivitas masing-masing. Ada yang sibuk dengan gadget, ada yang sibuk menelepon, bahkan ada yang sibuk memandangi gelas minuman dingin di hadapan mereka.

Duk… Duk… Duk… Suara bedug adzan magrib dari radio yang tengah didengarkan Radit.

“Sudah buka! Sudah buka!” Serunya kegirangan.
“Alhamdulillah…” Sahut para anggota Serenity yang lain.

Ilham menyeruput sedikit minumannya, lalu bangkit berdiri. Seperti biasa, setelah adzan maghrib berkumandang, Ilham tak langsung menyantap banyak makanan atau minuman. Dia hanya meminum beberapa teguk minuman lalu pergi menunaikan ibadah sholat maghrib.

Dafi, Riza, dan Ilham pun mengikuti Ilham dari belakang disusul beberapa anggota Serenity yang lain. Mereka menunaikan ibadah sholat maghrib berjemaah dengan Setyo sebagai imamnya. Sebab di antara mereka, Setyo-lah yang paling baik pelafalan ayat-ayat Al-Qur’annya.

Selepas sholat maghrib, mereka kembali ke meja mereka masing-masing di The Stage. Canda tawa serta aksi saling sindir tak pernah lekang dari kelompok itu. Meski beberapa di antara mereka sudah bukan remaja lagi, namun saat berkumpul mereka seperti kembali ke masa-masa remaja mereka.

“Seperti biasa, momen yang pastinya sudah kalian tunggu-tunggu…,” ujar Tiwi terpotong.
“Saatnya arisan!!!” Sahut Ika, Nanda, dan Vina.

Tiwi mengeluarkan sebuah toples bening kecil yang sudah dilubangi bagian atasnya. Di dalamnya terdapat beberapa lembar kertas yang telah digulung dengan rapi. Kertas-kertas itu berisikan nama seluruh anggota Serenity tanpa terkecuali.

Untuk urusan arisan, Tiwi adalah ahlinya. Sehingga dirinya dipercaya untuk menjadi ketua arisan para anggota Serenity. Tiwi mengocok toples yang tengah dipegangnya lalu menuangkan selembar gulungan dari dalam toples.

Tiwi membuka gulungan itu perlahan-lahan. Semua mata tertuju pada Tiwi. Jantung mereka berdebar kencang saat Tiwi mulai membuka mulutnya.

“Yang beruntung malam hari ini adalah… Blue Captain!” Seru Tiwi.
“Yei!!!” Semua orang bersorak kegirangan.
“Selamat ya Kapten,” ujar Tiwi lalu memeluk Ilham.

Dafi, Riza, Rudi, Vina, Ika, dan juga Nanda pun ikut memeluk Ilham dengan erat. Selembar amplop putih kini diserahkan oleh Tiwi kepada Ilham. Semua orang senang. Semua orang gembira.

Setelah seluruh acara mereka selesai, mereka pun saling berjabat tangan dan berpelukan. Saling meminta maaf satu sama lain. Tak lupa juga mereka berfoto bersama untuk mengabadikan momen itu.

Para anggota Serenity telah pulang, kecuali Ilham. Dia duduk termenung di sudut kafe, merenungi kembali betapa beruntungnya dia dapat dikelilingi oleh para sahabat yang begitu menyayanginya.

Mudik 5: Ini Lebaran, Baby! (extended)

Setyo, Riza, dan Bapak Setyo berjalan menuju bagian depan surau. Sementara Ibu Setyo menuju bagian belakang surau tempat shaf wanita berada. Takbir masih menggema lantang di langit. Kicau burung pipit pagi itu seperti turut memeriahkan datangnya bulan penuh kemenangan.

Setyo dan Riza duduk di shaf kedua dari depan. Sementara Bapak Setyo sibuk mengatur jemaah laki-laki yang baru sampai ke surau. Di dalam surau juga tampak beberapa orang yang datang untuk membayarkan zakat fitrah untuk dirinya dan keluarga.

Sholat sunnah Idul Fitri dimulai. Seluruh jemaah berdiri, mengangkat tangan sambil mengumandangkan takbir. Suara imam sholat Idul Fitri yang merdu menambah kekhusyukan sholat Idul Fitri yang tengah berlangsung.

Setyo dan Rini duduk bersimpuh di depan kedua orang tua mereka. Mengatupkan kedua tangan dan membenamkan wajah mereka dalam pangkuan kedua orang tua mereka. Mereka meminta ampun dan maaf pada kedua orang tua mereka. Tetesan air mata turut menyertai kata-kata yang diucapkan oleh Setyo pada kedua orang tuanya.

“Mas Riza sudah telepon Papa dan Mama Mas Riza, belum?” Tanya Setyo.
“Sudah,” jawab Riza.
“Oh, syukur deh,” ujar Setyo.
“Mas Tyo, Mas Riza, makanannya sudah siap!” Seru Rini dari meja makan.
“Asyik! Makan!” Seru Setyo seperti anak kecil.

Mereka berdua bergegas berjalan menuju meja makan. Lauk-pauk dan sayur-mayur sederhana telah dihidangkan di atas meja. Sebakul ketupat panas juga tampak menantang untuk disantap.

Rini menyendokkan beberapa irisan ketupat ke atas piring, menyiramnya dengan kuah sayur nangka, lalu menaburkan beberapa jumput bawang goreng ke atasnya. Setyo sudah tak sabar, dia langsung mengambil sendok dan mengambil suapan pertama.

“Hmm, lezat!” Ujar Setyo.
“Wah, ini kamu yang masak semua, Rin?” Tanya Riza.
“Enggak kok Mas. Bu’e yang masak. Rini cuma bantu-bantu sedikit,” jawab Rini merendah.

Bapak dan Ibu Setyo menyusul mereka bertiga ke meja makan. Setyo makan dengan lahap. Sudah lama dia tidak mencicipi ketupat sayur racikan Ibunya.

“Ayo Nak Riza, dicoba ketupat sayurnya. Maaf, lagi-lagi masakan sederhana,” ujar Ibu Setyo.
“Ah, ini justru lezat banget Bu’e. Wah, pantas saja Tyo makannya lahap begitu,” sahut Riza.
“Rin, tambah!” Ujar Setyo mengadahkan piringnya yang sudah bersih.

Suasana kekeluargaan begitu kental terasa di rumah Setyo. Meski rumahnya sangat kecil dan tidak bisa dibandingkan dengan rumah Riza, namun rumah kecil milik kedua orang tua Setyo terasa begitu hangat.

Para tetangga di sekitar rumah Setyo datang berkunjung. Saling bermaaf-maafan sebagai tradisi yang tak bisa dipisahkan dari Hari Raya Idul Fitri. Joko dan keluarganya juga turut berkunjung ke rumah Setyo. Ibu Joko menyerahkan semangkuk opor ayam buatannya sebagai buah tangan. Joko pun tersenyum-senyum sendiri saat Rini datang menyuguhkan minuman untuk keluarga Joko yang datang bertamu.

“Mas Riza, balikin HP Tyo!” Seru Tyo yang mengejar Riza.

Mereka bekejar-kejaran seperti kucing dan tikus karena Riza merebut ponsel milik Setyo. Tanpa sadar mereka berdua berlari ke ruang tamu lalu bertemu dengan keluarga Joko.

“Ini Setyo, ya?” Tanya Ibu Joko.

Riza dan Setyo terperanjat. Karena sudah terlanjur basah, Setyo pun menyapa keluarga Joko.

“Kalau yang di sebelahnya, siapa?” Tanya Bapak Joko.
“Oh, ini Mas Riza. Calonnya Rini,” jawab Setyo iseng.

Mata Joko terbelalak. Semua orang yang ada di ruang tamu terkejut mendengar jawab Setyo.

“Kamu ini bicara apa sih? Suasananya berubah jadi gak enak nih!” Bisik Riza menggerutu.
“Sudah, Mas tenang saja,” bisik Setyo.

“Mas lihat tadi ekspresi si Joko! Asli lucu banget!” Ujar Setyo tertawa.
“Tapi kan, kamu gak mesti bawa-bawa namaku juga,” ujar Riza kesal.
“Yakin nih, gak mau jadi ipar Tyo? Ya sudah, aku panggil Joko lagi nih!” Ujar Setyo.
“Hei tunggu dulu! Jangan dong!” Ujar Riza cepat.
“Hihihi. Seru kali ya, kalau bisa ipar-iparan dengan Mas Riza,” ujar Setyo.
“Memangnya, kenapa kamu mau iparan denganku?” Tanya Riza.

Setyo merebahkan tubuhnya ke atas tempat tidur. Dia menghela napas sambil menatap langit-langit kamarnya.

“Aku juga gak tahu sebabnya Mas. Cuma yang pasti, aku percaya pada Mas Riza,” ujar Setyo.

Riza pun ikut merebahkan tubuhnya di samping Setyo.

“Hihihi…,” Riza tertawa sendiri.

Mereka berdua masih menatap langit-langit kamar Setyo.

“Lusa kita ajak Bapak sama Ibu juga, ya. Biar ramai,” ujar Riza.
“Serius Mas?” Tanya Setyo.
“Iya, boleh. Ya, hitung-hitung ajak calon mertua jalan-jalan, kan?” Jawab Riza.
“Huh, dasar! Maunya!” Gerutu Setyo.

Mudik 4: Ini Lebaran, Baby!

Suara takbir menggema di langit. Memecah keheningan di langit subuh. Semenjak selepas sholat subuh disurau, Setyo dan Riza sibuk menjajal pakaian baru mereka yang telah sampai dari jasa pengiriman barang.

“Cocok gak Yo?” Tanya Riza.
“Cocok Mas. Keren,” jawab Setyo.
“Sudah yuk! Nanti Bapak dan Ibumu lama menunggu lagi,” ajak Riza.

Bapak dan Ibu Setyo telah siap di ruang tamu rumah. Bapak Setyo tak henti-hentinya memuji pakaian muslim baru yang dibelikan oleh Riza.

“Lihat Bu’e, baju koko Bapak. Apik tenan toh!” Ujar Bapak Setyo bangga.
“Iya, Pak. Baju gamis Bu’e juga. Cantik Pak!” Sahut Ibu Setyo bangga.
“Itu semua dari Setyo, Pak’e, Bu’e,” ujar Riza.
“Sungguh? Ya Allah, Pak’e bangga sama kamu Le…,” ujar Bapak Setyo.

Bapak Setyo memeluk putranya itu. Air mata sebagai wujud bangganya pun menetes. Suara takbir dari pengeras suara surau kembali terdengar. Mereka berempat bergegas berangkat ke surau untuk melaksanakan ibadah sholat Idul Fitri. Sementara Rini yang sedang tidak boleh sholat sibuk mempersiapkan hidangan khas Idul Fitri di dapur.