NulisRandom2015

Random 29: Love, Love & Nationals!

Besok adalah hari yang sudah kami tunggu-tunggu. Setelah menempuh perjalanan selama dua belas jam menggunakan bus akhirnya kami sampai di kota tempat final kompetisi vokal grup SMA tingkat nasional diselenggarakan. Tubuhku sampai sakit karena terlalu lama duduk di dalam bus. Hal pertama yang kami lakukan adalah sarapan pagi. Begitu selesai check in di hotel, Pak Danu mengajak kami semua keluar untuk mencari sarapan pagi.

“Kami kenyang!!!”, teriak kami semua.
“Setelah ini kita ke gedung tempat kompetisi diadakan besok ya.”, ujar Bu Dara.
“Ai ai Coach!”, sahut kami semua.

Kami mengunjungi gedung tempat diadakannya kompetisi tingkat nasional besok. Bangunannya sangat besar dan megah dengan sentuhan etnik yang sangat kental. Kami meminta izin pada pengurus gedung untuk melihat-lihat ke dalam gedung. Kami diizinkan untuk masuk. Ternyata bukan kami saja yang datang ke gedung ini sebelum kompetisi dimulai. Sedikitnya ada tiga tim lain yang datang ke tempat ini sebelum kami, dan salah satunya adalah Water Lily.

Steven dan Olivia beserta seluruh anggota tim Water Lily menghampiri kami. Mereka berdua berdiri di depan para anggota tim Water Lily. Wajah mereka berdua sangat tak bersahabat.

“Heh, kalian tampak kacau Radit.”, pekik Steven.
“Hai Steven.”, sahut Kak Radit tenang.
“Apa yang kalian lakukan di sini?”, tanya Olivia.
“Tidak ada. Hanya melihat-lihat sekeliling, kalau-kalau seseorang atau dua orang tengah merencanakan sesuatu.”, jawab Kak Radit menyindir.

Olivia tampak kesal. Dia berjalan pergi. Steven dan para anggota tim Water Lily pun mengikutinya, termasuk Zizi. Steven merangkul Zizi lalu melihat ke belakang ke arahku. Seolah-olah ingin mengatakan kalau dia sudah menang karena mendapatkan Zizi.

“Laki-laki itu memang menyebalkan…”, gerutu Akbar kesal.
“Tenanglah, kita akan mengalahkan mereka. Itu pasti.”, kataku.

Final kompetisi vokal grup SMA tingkat nasional, seluruh perjuangan kami selama hampir satu tahun ini akan berakhir di sini. Semua orang tampak begitu tegang. Kak Vio dan Bu Dara sibuk mendandani kami di belakang panggung. Kak Rio sibuk memeriksa kelengkapan para anggota Alvin and The Black Crew. Serta Kak Gagah dan Pak Danu sibuk mendaftarkan ulang nama tim Serenity lalu memastikan urutan tampil kami dari panitia.

Aku nekad menyelinap pergi sebentar. Entah mengapa aku penasaran dengan penampilan Water Lily di atas panggung secara langsung. Aku berdiri di suatu sudut bawah panggung. Tempat yang paling gelap dari seluruh gedung ini, namun tempat terbaik dan paling dekat bagiku untuk menonton penampilan mereka dengan jelas.

Nama tim Water Lily dipanggil melalui voice over. Tirai yang menutup panggung pun diangkat dengan cepat, lalu Zizi dan timnya mulai beraksi. Mereka bernyanyi lagu I Don’t Need A Man sebagai lagu pembuka, dengan Zizi sebagai lead vocal. Dia benar-benar cantik di atas panggung. Dia pasti telah berusaha dengan sangat keras untuk menjadi sangat percaya diri seperti itu. Mungkin selama ini memang aku yang bersalah karena menginginkan dirinya tetap menjadi Zizi yang dulu.

Tiba-tiba saja seseorang mengagetkanku dengan menepuk bahuku dari belakang. Aku refleks dan berbalik badan dan ku dapati Dani tengah berdiri di belakangku. Dia menatap ke atas panggung saat Water Lily tengah bernyanyi lagu kedua.

“Kalau aku tahu Miss Kikuk ternyata secantik itu, pasti aku sudah rebut dia darimu Kapten. Kamu memang jeli melihat wanita.”, ujar Dani.
“Sudahlah, itu sudah tidak penting lagi. Ayo kita kembali.”, kataku.

Blue Team dan Red Team akhir tiba. Mereka berlima belas menghampiri kami yang tengah sibuk di belakang panggung untuk memberikan suntikan semangat pada kami. Mereka sedikit tertawa melihat wajah kami yang tegang menunggu giliran untuk tampil. Lalu Pak Danu dan Kak Gagah datang menghampiri kami yang tengah berkumpul.

“Baik, pada final kompetisi hari ini akan ada dua puluh lima tim yang akan tampil. Dan kita akan tampil di urutan ketiga belas.”, ujar Pak Danu.
“Ah, sudahlah Coach. Anda tidak cocok bicara formal seperti itu.”, ujar Kak Angga.
“Hedeh… Padahal aku bicara seperti itu agar kalian tidak merasa tegang.”, ujar Pak Danu.
“Sudahlah. Kamu benar-benar tidak cocok seperti itu. Lakukan seperti biasa saja.”, pekik Bu Dara.
“Iya. Lakukan seperti biasa saja.”, pekik Kak Rio.
“Hedeh… Kalian berdua… Baiklah. Kali ini pun kita harus menang! Bawa pulang piala kemenangan! Kita pasti menang!”, teriak Pak Danu sekuat tenaga.
“Ai ai! Coach!”, teriak kami semua.

Seluruh anggota ketiga tim Serenity langsung berlari ke panggung saat tirai panggung di turunkan. Begitu juga para anggota Alvin and The Black Crew, mereka berlari ke pojok tempat peralatan band berada. Aku pun bersiap di tengah Kak Radit dan Nikki. Musik mulai dimainkan cukup lama, lalu dengan sekejap tirai panggung dinaikkan dan penonton bertepuk tangan. Lagu Switch kami pilih sebagai lagu pembuka untuk penampilan kami dengan aku, Kak Radit, dan Kak Nikki menyanyikan dua bait pertama lagu ini. Setiap baris dalam dua bait pertama lagu yang kami nyanyikan ini diiringi oleh gerakan pantomim dari anggota Serenity yang lain. Lalu Kak Karin maju untuk menyanyikan dua baris bridge dari lagu ini lalu disusul dengan bernyanyi bersama pada bagian reff.

Tepuk tangan penonton mengiringi berakhirnya penampilan pertama kami. Seluruh anggota laki-laki Serenity bergegas kembali ke belakang panggung, menyisakan para anggota perempuan untuk bernyanyi sebuah lagu, yaitu Manatsu No Sounds Good!

Para gadis menunjukkan kemampuan mereka bernyanyi dan menari di atas panggung. Sementara para pria berlari menuju barisan paling belakang bangku penonton, menunggu para gadis selesai bernyanyi di atas panggung. Kami bersiap untuk lagu selanjutnya dan menampilkan kejutan yang sudah kami siapkan.

“Lakukan dengan baik.”, bisik Kak Radit dari belakangku.
“Sampaikan perasaanmu padanya.”, sambung Kak Nikki.
“Kapten, semangat!”, ujar lima anggota timku.

Para gadis selesai menyanyikan lagu Manatsu No Sounds Good! Musik berganti, kami para pria muncul dari belakang bangku penonton sambil bernyanyi. Lampu sorot menyorot kami yang jalan sambil bernyanyi lagu Kimi Ni Au Tabi Koi Wo Suru dari bawah panggung, di gang sempit antara barisan bangku penonton. Lampu di atas panggung sengaja dimatikan, sehingga perhatian penonton kini tertuju pada kami. Para penonton pun bersorak kegirangan karena terkejut melihat kami tampil sedekat ini dengan mereka. Mereka pun bertepuk tangan riuh sambil bersorak.

Kami tampil di bawah panggung bukan hanya untuk mengagetkan para penonton saja. Tapi juga Zizi yang kini duduk di dekat tempat aku berdiri sambil bernyanyi dan menari. Aku menatap matanya dalam saat bernyanyi.

Ya benar, seluruh lagu yang kami nyanyikan memang bertujuan untuk menyampaikan perasaanku pada Zizi. Perasaanku yang mencintai, meski kini dirinya telah berubah. Aku tidak bermaksud memintanya kembali. Aku hanya ingin meluapkan perasaanku lalu melupakan dirinya. Aku tahu setelah kompetisi ini berlangsung aku pasti mendapatkan hukuman karena telah melanggar peraturan paling penting yang berlaku di Serenity. Peraturan untuk tidak membawa masalah pribadi dan cinta ke atas panggung.

Mata Zizi tampak berkaca-kaca terkena kilapan cahaya lampu yang menyorot kami berdua saat ini. Aku juga terbawa perasaan. Aku tahu Zizi yang sama, Zizi yang ku cintai masih ada di sana. Aku bisa merasakannya dari sorot matanya kalau perasaanku telah tersampaikan. Perasaan bersalah karena telah membuatnya tersakiti selama bersamaku, perasaan rindu pada dirinya, dan juga perasaan suka padanya semenjak pertama kali bertemu. Namun aku harus bisa menguasai diriku. Kini aku lega, aku bisa melepaskan dan melupakannya. Selamat tinggal Zizi.

Kami berlari kembali naik ke atas panggung dan lampu panggung kembali dinyalakan, memberikan efek kejutan pada penonton pada bagian akhir lagu ini. Penonton kembali bertepuk tangan. Suara petikan gitar terdengar, kami siap untuk menyanyikan lagu terakhir. Para gadis kembali bergabung dengan kami untuk bernyanyi.

Lagu terakhir, Kimi No Koto Ga Suki Dakara, lagu yang Serenity pilih untuk ditampilkan terakhir. Salah satu lagu yang menghantarkan Serenity menjadi juara nasional untuk pertama kalinya.

Awalnya aku heran mengapa hanya aku saja yang tidak mendapat bagian untuk bernyanyi di lagu ini, namun akhirnya aku sadar kalau ternyata lagu ini adalah penghiburan bagiku dari seluruh anggota Serenity, terutama teman-temanku di Purple Team. Karena mereka menyukaiku, dan akan selalu berada di sisiku meski susah atau senang. Lagu ini adalah luapan perasaan mereka padaku. Dan aku menerima luapan perasaan ini dengan senyuman di bibir meski mataku kembali berkaca-kaca.

Kelima sahabatku, Zanuar, Zikri, Chris, Dani, dan Akbar memelukku di atas panggung diiringi tepuk tangan meriah dari bangku penonton. Air mata kembali mengalir membasahi pipi seluruh anggota Serenity dan Alvin and The Black Crew. Air mata yang mengalir karena usaha, latihan, dan kerja keras kami selama setahun akhirnya dibayar setimpal. Serenity memenangkan kompetisi tingkat nasional. Kami hanya bisa menumpahkan air mata sejadi-jadinya sebagai luapan kegembiran kami. Kak Radit dan Kak Nikki menarikku ke depan bersama mereka, lalu bersama-sama dengan mereka mengangkat tinggi-tinggi piala juara kami. Piala yang selama ini tak pernah terpikirkan olehku dapat menyentuhnya apalagi memenangkannya. Suara letupan keras terdengar dan serpihan kertas manik-manik berwarna-warni berterbangan di udara. Kami menang, Serenity menang!

Random 28: Lock Off

Malam terakhir tantangan duel antara tim junior dan tim senior Serenity tiba. Tiba malam ini adalah back-to-back. Semua tim akan tampil di atas panggung bergantian tanpa jeda sama sekali. Dan malam ini kami hanya boleh menyanyikan lagu dari Lady Gaga.

Matahari telah tenggelam di ufuk barat. Langit biru yang cerah kini berubah menjadi langit malam yang gelap bertabur bintang. Udara dingin malam mulai menyergap di luar. The Stage kini dipadati oleh para fans Serenity yang datang entah dari mana saja. Mereka sudah tak sabar untuk menyaksikan penampilan kami bernyanyi secara back-to-back tanpa jeda. Semangat para pengunjung The Stage membuat kami juga tak sabar untuk segera naik ke atas panggung.

Yang tampil pertama kali adalah Green Team dengan lagu Americano. Tepuk tangan penonton mengudara. Suara teriakan fans fanatik Kak Radit juga tak terelakan.

Sebelum Green Team selesai tampil, Red Team sudah bersiap dibelakang mereka. Sehingga saat Green Team selesai tampil, mereka akan langsung menyambung penampilan Green Team dengan lagu Edge Of Glory. Para anggota Red Team tampil dengan setelan formal dengan warna merah menyala dengan bawahan berwarna hitam. Red Team tampil dengan tiga orang anggota perempuan sebagai lead vocal, sementara lima anggota laki-laki menari di belakang.

Penampilan Red Team disambung dengan penampilan dari Orange Team yang menyanyikan lagu Applause. Kak Nikki dan kawan-kawan tampil dengan teknik vokal dan koreografi yang apik. Kak Nikki dan timnya menyedot perhatian para pengunjung yang ditandai dengan teriakan para pengunjung yang semakin riuh.

Pertandingan semakin memanas. Kini giliran Purple Team untuk tampil dengan lagu Bad Romance. Para pengunjung The Stage semakin histeris terutama saat kami melakukan catwalk di tengah lagu serta saat aku dan Dani mengambil lead vocal dengan nada tinggi.

Penampilan kami berakhir. Kami berlari turun dari panggung. Tiba saatnya Blue Team untuk tampil. Mereka menyanyikan lagu Marry The Night. Mas Dafi dan Riza benar-benar luar biasa menjadi lead vocal lagu ini. Kesan rock dari lagu ini benar-benar mereka tunjukkan dengan apik. Teriakan para pengunjung yang menonton kembali pecah saat menyaksikan penampilan Blue Team.

Dua perwakilan dari masing-masing keempat tim lain yang telah tampil sebelumnya kembali naik ke atas panggung sebelum Blue Team selesai bernyanyi. Aku dan Zikri bergegas naik ke atas panggung sebagai perwakilan Purple Team. Lima anggota Blue Team turun dari atas panggung, meninggalkan Mas Dafi dan Riza tetap di atas panggung bersama kami.

Pertandingan pun belum berakhir dengan berakhirnya penampilan dari Blue Team. Kami memiliki kejutan spesial untuk para pengunjung The Stage. Sepuluh anggota Serenity perwakilan dari lima tim tampil kembali di atas panggung sebagai penampilan puncak malam ini. Kami menyanyikan lagu Born This Way dan penampilan Serenity berakhir.

“Ah, aku benci harus mengatakannya tapi penampilan Blue Team benar-benar bagus.”, keluh Zanuar.
“Ya kau benar, mereka tampil tanpa kapten mereka namun mereka tetap bisa tampil dengan sangat baik.”, tambah Zikri.
“Sudahlah jangan bersedih. Walau akhirnya kita kalah namun tadi malam kita belajar banyak hal. Ya kan Kapten?”, ujar Dani.
“Ya. Dani benar. Sudahlah, kalian berdua tidak perlu merasa sedih seperti itu. Kalian kan dengar perkataan coach tadi malam kalau kita boleh kalah dalam pertandingan melawan tim senior tapi kita harus menang di kompetisi yang sesungguhnya.”, kataku menghibur anggota timku.

Lima hari lagi final kompetisi tingkat nasional akan berlangsung. Dan malam ini seluruh anggota Serenity baik junior dan senior dan juga seluruh anggota Alvin and The Black Crew dikumpulkan di rumah Pak Danu. Malam ini adalah malam yang paling ditunggu-tunggu oleh para anggota Serenity dan anggota Alvin and The Black Crew.

Semua anggota Serenity menyebut malam seperti ini sebagai Lock Off. Malam dimana seluruh anggota berkumpul di rumah Pak Danu untuk membahas persiapan akhir sebelum kompetisi, baik tingkat kota, provinsi, maupun nasional. Setelah semua anggota berkumpul, seluruh pintu dan akses untuk keluar dari rumah Pak Danu akan ditutup sehingga tidak ada yang dapat masuk apalagi keluar sampai pagi menjelang. Seluruh ponsel kami juga tidak boleh dinyalakan selama Lock Off berlangsung.

Jangan bayangkan kalau acara Lock Off akan berjalan damai tanpa saling debat. Selisih paham selalu terjadi selama Lock Off berlangsung, terutama saat membahas masalah urutan tampil. Ini adalah Lock Off ketiga yang kami ikuti, dan sejauh yang ku lihat sampai saat ini Lock Off tetaplah sama. Banyak yang bersih tegang satu sama lain, bahkan ada yang sampai menangis dan ada juga yang sampai ingin berkelahi. Namun pada akhirnya semua berjalan baik dan semua tertawa bersama.

Keputusan sudah diambil dan semua orang menyetujuinya. Kini kami menunggu acara utama selama Lock Off, acara yang paling ditunggu-tunggu terutama bagi para pecinta kuliner alias tukang makan banyak. Ya, acara makan bersama.

Semenjak Kak Rio menjadi pelatih Serenity, Serenity tidak lagi memesan lusinan kotak pizza untuk makan malam. Kak Rio dan Pak Danu sibuk memasak di dapur selama Lock Off berlangsung. Mengapa bukan Bu Dara yang memasak? Jawabannya mudah, karena memang Bu Dara tidak bisa masak. Si kecil Salim juga sibuk membantu menyiapkan piring di meja makan. Selagi menunggu hidangan siap, semua anggota Serenity melakukan kegiatan masing-masing. Ada yang sibuk mengerjakan PR, ada yang bermain video game, ada yang bermain kartu, ada yang sibuk bergosip di ruang tengah, ada yang bermain dengan Sultan, dan ada juga yang tidur.

Rumah Pak Danu benar-benar sangat besar hingga bisa menampung seluruh kegiatan para anggota Serenity dan Alvin and The Black Crew. Sangat besar sampai aku sendiri bingung bagaimana untuk melukiskannya dalam kata-kata.

Wajahku, Chris, dan Akbar sudah penuh coretan karena selalu kalah bermain kartu dengan Dani. Sementara Zanuar dan Zikri sibuk menyalin semua pekerjaan rumah yang diberikan guru kepada kami. Si kecil Salim datang menghampiri satu per satu anggota Serenity untuk memberitahu kalau makanan telah siap untuk di santap. Tanpa aba-aba atau pun komando terlebih dahulu, Zanuar dan Zikri langsung berlari menuju meja makan, meninggalkan pekerjaan rumah yang tengah mereka salin. Kami benar-benar menikmati masakan Kak Rio dan Pak Danu. Benar-benar lezat, seperti masakan yang dimasak oleh koki profesional.

Persaingan di meja makan pun terjadi antar sesama tukang makan banyak. Dan akhirnya makan malam yang damai berubah menjadi kompetisi makan banyak. Kami hanya tertawa terbahak-bahak melihat para tukang makan ini makan dengan lahap dan cepat. Dan malam ini akhirnya di sahkan bahwa rekor makan terbanyak masih dipegang oleh Kak Nikki. Dia melambai-lambaikan tangannya seperti ratu kecantikan yang baru mendapatkan mahkota.

Setelah puas menikmati berbagai macam menu masakan yang telah dihidangkan, kantuk pun mulai menyerang. Malam juga sudah semakin larut. Kami pun akhirnya tertidur dengan perut yang kenyang dan perasaan bahagia.

Random 27: Obrolan Pagi

Hari ini Dani tampak bahagia sekali. Sejak pagi wajahnya selalu tersenyum lebar. Meski ada kantong mata yang membekas di bawah kedua kelopak matanya namun matanya tampak berseri-seri.

“Psstt… Kapten, Dani kenapa senyum-senyum sendiri seperti itu sejak pagi?”, tanya Chris berbisik di sebelahku.
“Tidak tahu. Mungkin dia baru menang undian kali.”, jawabku juga berbisik.
“Menang undian?”, tanya Chris bingung.
“Sudah, jangan pusingkan hal itu kita harus fokus dalam penampilan kita berdua malam ini.”, jawabku.

Ya. Malam ini aku dan Chris akan tampil dalam duet. Aku dan Chris akan bernyanyi mewakili Purple Team. Sebab tema tantangan malam hari ini adalah lagu duet. Tiga grup dari tim junior akan melawan tiga grup dari tim senior. Kak Radit akan tampil bersama Kak Setyo mewakili Green Team , sementara Kak Nikki akan tampil bersama Kak Nando mewakili Orang Team. Sedangkan lawan kami malam hari tentu saja perpaduan antara para anggota Blue Team dan Red Team.

Lima grup telah tampil menunjukkan penampilannya, baik dari tim junior maupun dari tim senior. Kini saatnya aku dan Chris untuk tampil. Malam ini kami akan bernyanyi Mau Dibawa Kemana. Aku tak mau memaksakan Chris untuk menyanyikan lagu dengan tingkat kesulitan yang tinggi namun membuat penampilan kami menjadi jelek. Untung saja para pengunjung The Stage merasa terhibur dengan duet kami berdua dan dapat mengajak para pengunjung untuk ikut bernyanyi bersama.

Hoam… Ternyata sudah pagi. Semalam kami berenam menginap di rumah Chris. Menghabiskan sisa Sabtu malam menonton DVD film horor setelah tampil di The Stage. Tim junior berhasil memenangkan tantangan tadi malam. Sehingga kedudukan kembali imbang antara tim junior dan tim senior.

Ternyata sebelum diriku bangun, Dani sudah bangun lebih dahulu. Atau mungkin sejak tadi malam dia belum tidur? Dia duduk di depan meja makan dengan segelas susu cokelat hangat di atasnya.

“Kamu gak tidur?”, tanyaku menghampirinya.
“Baru bangun.”, jawabnya sambil menatap layar ponselnya.
“Ooh…”, kataku.

Dani tersenyum sendiri saat menatap layar ponselnya. Bahkan sesekali dirinya tertawa kecil sendiri. Aku mengambil sesachet kopi instan yang telah tersedia di meja makan, menuangkan isinya ke dalam sebuah cangkir keramik cantik, lalu menyeduhnya dengan air panas dari dispenser. Sementara itu Dani masih sibuk sendiri dengan ponselnya.

Satu per satu keempat temanku yang lain termasuk Chris sang tuan rumah bangun. Chris menunjukkan kemampuannya dalam mengolah bahan-bahan makanan kepada kami berlima. Zanuar ikut membantu Chris menyiapkan sarapan pagi. Sementara kami berempat hanya duduk manis di depan meja makan menunggu mereka berdua selesai menyiapkan sarapan pagi.

Satu wajan besar nasi goreng seafood panas pun telah selesai dimasak. Aroma masakan yang menggugah selera itu langsung memicu rasa lapar yang mendera kami sejak tadi semakin menjadi-jadi. Segelas jus jeruk segar pun menjadi pendamping santapan pagi kami hari ini.

“Dani, sarapan dulu.”, ujarku mengingatkan Dani.
“Iya iya Kapten.”, kata Dani mengiyakan perkataanku.

Belum lewat sepuluh detik Dani mengiyakan perkataanku tadi, dia sudah kembali berkutat dengan ponselnya.

“Duh. Yang lagi kasmaran itu.”, ujar Akbar menyindir.

Dani tiba-tiba terdiam. Dia tampak terkejut mendengar perkataan Akbar.

“Kamu kok bisa tahu?”, tanya Dani tiba-tiba.
“Tentu saja aku tahu. Zanuar, Zikri, dan Chris juga sudah tahu.”, jawab Akbar.
“Kalian bertiga sudah tahu?”, tanya Dani lebih terkejut.
“Tentu saja kami tahu. Hihihi.”, jawab Zikri.
“Hmm… Sehebat apa pun dirimu menyembunyikannya dari kami, kami pasti akan tahu juga.”, sambung Zanuar.
“Aku tidak ikut-ikutan.”, sahut Chris.
“Jadi selama ini kalian sudah tahu? Oh ya, bukannya selama ini Akbar lagi PDKT pada Nuri.”, kataku lalu meneguk jus jeruk bagianku.
“Aku? PDKT pada Nuri? Ya enggaklah.”, kata Akbar.
“Lalu kenapa waktu itu kamu mengajak Nuri saat makan malam?”, tanya Dani dengan nada penasaran.
“Aku hanya ingin menguji apakah kamu tertarik pada Nuri atau tidak. Tenang saja, Nuri itu bukan tipeku.”, jawab Akbar.
“Jadi tipemu seperti apa? Jangan-jangan benar lagi kalau kamu udah jadian sama Pia anak kelas sebelah.”, sindir Zanuar.
“Ah, aku kira dia lagi PDKT dengan Siti anak Paskib.”, ujar Zikri.
“Aku pernah lihat dia sedang berduaan di perpustakaan dengan Nita anak basket. Mereka berdua tampak intim.”, ujar Chris.
“Astaga, aku tidak tahu kalau kamu itu playboy juga.”, kataku.
“Bukan begitu Kapten. Aku dan mereka bertiga hanya teman biasa. Tidak lebih. Zanuar dan Zikri juga tuh Kapten. Mereka berdua lagi PDKT dengan si kembar Lia dan Nia.”, ujar Akbar tak mau kalah.
“Iya benar tuh Kapten. Aku pernah memergoki mereka berdua tengah jalan berempat di toko buku.”, tambah Dani memanas-manasi.
“Kalau itu aku juga sudah dengar. Kabarnya tuh Zanuar mengincar Lia, tapi Lia malah naksir Zikri. Nah, sebaliknya Zikri mengincar Nia, tapi Nia naksir Zanuar.”, kataku tak mau kalah.
“Wah, ternyata bisa juga seperti itu?”, tanya Chris.
“Lho, kok jadi bahas kami? Chris, kamu juga. Aku dengar kamu memutuskan pertunanganmu dengan Mega karena Wanita Idaman Lain kan.”, jawab Zanuar yang kini menyerang Chris.
“Ah? Aku???”, ujar Chris kaget.
“Iya iya, aku sempat lihat Chris teleponan sama cewek secara sembunyi-sembunyi.”, kataku.
“Wah,  kamu ternyata sudah berubah ya Chris. Sudah tidak malu-malu lagi seperti dulu.”, timpal Zikri.
“Ah anu itu…”, ujar Chris terbata-bata.
“Nah tuh kan. Gak bisa jawab.”, ujar Akbar langsung.

Kami berlima tertawa bersama-sama melihat ekspresi wajah Chris yang berbicara terbata-bata seperti itu. Chris juga akhirnya ikut tertawa bersama kami.

“Lalu Kapten sendiri bagaimana?”, tanya Chris di tengah tawa kami.
“Iya, Kapten sendiri bagaimana?”, sambung Zanuar.

Aku langsung terdiam tak tahu harus berkata apa. Sudah hampir setahun aku tak punya pacar atau mencari pacar baru.

“Ah, kalau aku santai saja. Hehehe.”, jawabku senormal mungkin.
“Tipe wanita Kapten seperti apa?”, tanya Zikri.
“Iya iya, seperti apa?”, sambung Akbar penasaran.
“Hmm… Seperti apa ya. Aku tidak terlalu suka perempuan yang berisik. Hobi dandan. Apa lagi yang suka hura-hura dan boros.”, jawabku.
“Ooohhh, jadi sebab itulah Kapten menyimpan foto gadis ini di ponsel Kapten?!”, ujar Zanuar menunjukkan foto Zizi di ponselnya.
“Iya iya. Ternyata perempuan di dalam foto itu benar-benar pujaan hati Kapten.”, sambung Zikri.
“Tapi sepertinya wajahnya tidak asing. Aku pernah lihat dimana ya?”, tanya Akbar.

Astaga, darimana Zanuar mendapatkan foto lama Zizi itu. Mereka bertiga kini menatapku dengan sinis.

“Dia Ziliana Prameswari alias Zizi. Lead vocal wanita di Water Lily.”, ujar Dani santai.
“Apa???”, teriak Zanuar, Zikri, dan Akbar.
“Tidak mungkin. Zizi dari Water Lily itu kan cantik. Mana mungkin berpenampilan cupu begini.”, ujar Zanuar.
“Hmm, pantas saja Kapten tampak begitu terkejut ketika bertemu Zizi malam itu.”, ujar Chris.
“Kasihan Kapten kita. Kapten dicampakkan begitu saja oleh gadis itu.”, ujar Dani.
“Apa itu benar Kapten?”, tanya Chris.

Aku tidak menjawab pertanyaan Chris. Sebab diriku bingung harus menjawab apa. Dani pun menceritakan kisahku dengan Zizi pada keempat temanku yang lain. Ekspresi wajah mereka berubah marah setelah mendengar cerita dari Dani.

“Ini tidak bisa dibiarkan. Dia kira siapa dirinya!”, pekik Akbar geram.
“Iya, dia sudah menyakiti hati Kapten. Dia harus diberi pelajaran.”, pekik Zanuar.
“Baiklah! Kita harus mengalahkannya sebagai balasan atas perlakuannya pada Kapten!”, pekik Zikri.
“Aku juga kesal mendengar cerita tentangnya. Kita harus menang!”, teriak Chris bersemangat.
“Ya!!!”, sahut Zanuar, Zikri, Akbar, dan Dani.

Random 26: Pernyataan Dani

Hari-hari sebelum kompetisi tingkat nasional digelar ku habiskan dengan latihan dan menantang para senior di Serenity. Latihan fisik, vokal, dan koreografi menjadi menu santapan sehari-hariku. Setiap hari aku juga menyempatkan diri untuk melakukan analisa pribadiku terhadap kelebihan dan kekurangan tim lain yang lolos ke kompetisi tingkat nasional.

Kedudukan sementara saat ini untuk pertandingan antara junior dan senior di Serenity adalah tujuh melawan tujuh. Ya, sudah dua minggu berlalu dan akhirnya kami berhasil mengejar ketertinggalan kami melawan para senior.

Prakk… Suara pin bowling yang dihantam keras oleh bola bowling. Malam ini adalah Jum’at malam pertama di bulan ini. Malam saat para kapten Serenity menghabiskan waktu bersama. Malam ini pun untuk kesekian kalinya kami pergi ke arena bowling. Permainan bowlingku pun sudah semakin baik. Kini aku bersaing di putaran terakhir melawan Kak Nikki yang memimpin dengan skor yang tidak terlalu jauh.

Aku mengambil bola bowling berwarna unguku. Aku mengambil napas dalam, berjalan mundur beberapa langkah dan mengambil ancang-ancang untuk melepaskan bola bowling ini agar menggelinding di lintasannya dan mencetak skor yang banyak. Prakk… Bola bowlingku menghantam pin bowling dengan kerasnya. Tett… Suara bel berbunyi.

“Strike!!! Yeah!!!”, teriakku keras.

Aku berhasil mencetak strike. Kak Nikki terus-menerus menggerutu namun aku tak peduli. Menang tetaplah menang.

“Kamu sudah terbiasa dengan para fans yang mengejar-ngejarmu?”, tanya Kak Angga.
“Ya, aku mulai terbiasa.”, jawabku.
“Ah… Aku jadi ingat surat dan hadiah penggemar pertamaku.”, ujar Kak Radit.
“Memangnya hal seperti ini sudah wajar ya di Serenity?”, tanyaku penasaran.
“Bisa dibilang hal itu akan dianggap wajar untuk setiap juara tingkat provinsi.”, jawab Kak Nikki.

Kami mengakhiri acara kumpul bareng para kapten Serenity malam ini dengan makan malam di The Stage. Seperti biasa kafe ini selalu ramai akan pengunjung terlebih lagi saat malam seperti sekarang. Seorang pemuda tengah bernyanyi sambil bermain gitar di atas panggung. Suaranya tidak terdengar merdu namun permainan gitarnya benar-benar bagus. Tetapi yang terpenting adalah dia berani untuk tampil di depan umum dan menghibur kami.

Kami bertepuk tangan riuh berempat saat pemuda itu selesai bernyanyi. Kami tak peduli meski pun pengunjung lain merasa tidak nyaman dengan penampilan pemuda itu maupun dengan suara tepuk tangan kami berempat. Pemuda itu menyunggingkan senyuman kepada kami lalu turun dari panggung.

“Kamu sedang apa Dani?”, tanyaku pada Dani.

Dani sibuk membanding-bandingkan beberapa lembar surat di tangannya. Tumpukan surat tersebut dia lihat dengan teliti setiap kata. Bahkan untuk menjawab pertanyaanku saja dia tak sempat.

“Yah, aku dicuekin.”, gerutuku.
“Tidak salah lagi. Ini pasti dia.”, ujar Dani tiba-tiba.
“Kamu ini kenapa sih?”, tanyaku semakin penasaran.
“Kapten, coba lihat surat-surat ini. Lalu bandingkan dengan foto-foto ini.”, kata Dani sambil menyodorkan beberapa lembar surat dan foto padaku.

Aku membaca satu per satu surat yang diserahkan oleh Dani dan membandingkannya dengan foto Nuri tengah menulis di papan tulis. Aku masih belum mengerti maksud Dani menyuruhku mengamati semua surat dan foto ini. Tunggu dulu, apa mungkin yang dimaksud oleh Dani adalah pola tulisan tangan penulis surat tanpa nama ini dengan tulisan Nuri yang ada di dalan foto?

“Bagaimana menurutmu Kapten?”, tanya Dani.
“Memang mirip sih. Tapi apa mungkin dia yang menulis surat-surat ini?”, tanyaku balik pada Dani.

Dani menggaruk-garuk kepalanya. Sepertinya Dani tengah merahasiakan hal lain lagi dari aku. Aku menyipitkan mata dan sedikit menekuk wajahku. Kemudian menatap Dani dengan tatapan sinis.

“Cepat beritahu aku apa yang tengah kamu sembunyikan dari diriku.”, kataku sinis.
“Tapi Kapten jangan beritahu teman-teman yang lainnya ya.”, pinta Dani.

Secara malu-malu Dani mengakui kalau semenjak malam saat kami menyelamatkan Nuri dari serangan para preman, Nuri selalu menanyakan kabar Dani melalui SMS. Tapi karena terlalu sibuk dengan latihan di Serenity, dia tidak terlalu menaruh perhatian pada SMS dari Nuri dan hanya membalasnya sekedar saja. Lalu tiba-tiba saja sikapnya berubah saat malam kami mendapatkan hadiah makan malam gratis di The Stage. Nuri berubah kembali menjadi dingin terhadap Dani. Nuri tak pernah lagi mengirimkan SMS pada Dani lagi semenjak saat itu.

“Hah… Jadi ini sebabnya Nuri bersikap aneh beberapa bulan yang lalu.”, kataku.
“Memangnya apa maksud dari semua ini Kapten?”, tanya Dani polos.
“Kamu ini bagaimana sih! Ngakunya playboy sejati tapi membaca sikap wanita saja kamu tidak bisa.”, jawabku menyindir Dani.
“Sudah cepat katakan saja Kapten. Jangan buat aku bingung seperti ini.”, balas Dani.
“Hedeh… Baiklah. Dengarkan baik-baik. Nuri itu menyukaimu.”, kataku setelah menghela napas.
“Ooohh… Dia menyukaiku… Apa???”, ujar Dani terkejut.

Dani sangat terkejut mendengar pendapatku. Kemudian Dani tiba-tiba terdiam.

“Kamu juga menyukainya kan?”, tanyaku.

Dani tak menjawab. Dia tetap diam.

“Kamu benar-benar menyukainya kan. Itu sebabnya kamu sering galau saat melihatnya dekat dengan Akbar.”, kataku lagi.
“Terlihat jelas ya Kapten?”, tanya Dani akhirnya bicara.
“Kalau Zanuar, Zikri, Akbar, dan Chris mungkin tidak akan curiga. Tapi aku ini sahabatmu sejak SMP.”, jawabku.
“Lalu aku harus bagaimana Kapten?”, tanya Dani lagi.
“Hmm… Aku juga bingung. Lebih baik kamu terus terang saja pada Nuri. Katakan perasaanmu yang sebenarnya.”, jawabku.
“Aku tidak mungkin melakukannya, dia kan sedang dekat dengan Akbar.”, kata Dani.

Benar juga, bagaimana jika ternyata diam-diam Akbar juga menyukai Nuri. Tidak mungkin Dani tiba-tiba saja menyalip Akbar seperti itu. Dani tampak bingung harus berbuat apa.

Pertandingan antara tim junior melawan tim senior Serenity memasuki babak kelima belas. Tema penampilan malam ini adalah three on three. Tiga orang anggota junior akan tampil bersama tiga orang anggota senior Serenity. Jadi penampilan malam ini akan dibuat semacam battle menyanyi antara junior dengan senior.

Dari tim junior yang akan tampil adalah trio kapten Serenity. Sementara dari tim senior yang akan tampil malam ini adalah Mas Dafi, Riza, dan juga Rudi. Teman-teman para anggota Serenity yang lain baik junior mau pun senior tampak penasaran dengan penampilan kami nanti. Karena formasi masing-masing perwakilan tim sama, dua penyanyi dan seorang dancer.

Lagu yang akan kami nyanyikan juga diundi. Jadi kami tidak akan tahu lagu apa yang akan kami nyanyikan berenam di atas panggung sampai musik diputar melalui pengeras suara. Jantungku berdebar kencang menerka-nerka lagu apa yang akan kami nyanyikan. Musik terus mengalun dan kami saja diam. Mas Dafi, Mas Riza, dan Mas Rudi mulai bernyanyi. Celaka, mereka sudah tahu lagu apa yang tengah dimainkan.

Semua Tumbuh Jadi Satu, ternyata itulah judul lagu yang kami nyanyikan. Lagi-lagi kami dikalahkan oleh para senior. Kak Radit dan Kak Nikki juga tampak sangat terpukul karena tiga kapten Serenity dapat dikalahkan semudah itu. Tersisa dua malam lagi untuk melakukan tantangan. Dan hanya dua malam itulah kesempatan kami untuk membalik keadaan.

Tiba-tiba saja Dani naik ke atas panggung sendirian. Dia mengambil mikrofon yang berada di atas panggung lalu berpidato.

“Halo. Perkenalkan nama saya Dani dari Purple Team Serenity. Malam hari ini saya akan mempersembahkan sebuah lagu untuk seseorang di antara Anda semua yang ada di sini. Semoga Anda semua juga bisa menikmati.”, ujar Dani.

Lagu Aku Mau kini dinyanyikan oleh Dani. Suasana The Stage pun berubah menjadi romantis. Dani tak menatap ke arah penonton yang berkumpul di depan panggung. Matanya malah menatap ke arah lantai dua. Aku menoleh ke belakang mencari sosok yang tenang ditatap oleh Dani saat ini dan aku menemukan Nuri tengah berdiri di tepi pagar pengaman lantai dua. Matanya tampak berkaca-kaca. Mungkin saat ini Dani tengah mengungkapkan perasaannya pada Nuri melalui lagu ini. Dan aku yakin perasaannya telah tersampaikan pada Nuri.

Random 25: Pernyataan Zizi & Tekad Purple Captain

Mulai hari ini latihan Serenity akan hanya fisik, vokal, dan juga koregrafi, tetapi juga latih tanding. Green Team, Orange Team, dan juga Purple Team akan menghadapi para anggota Blue Team dan Red Team di The Stage setiap malam dengan tema yang berbeda setiap malamnya. Para coach sengaja mendesain latihan seperti ini agar kami lebih siap menghadapi tim-tim dari provinsi lain.

Tema malam ini adalah male dance crew battle. Baik dari pihak alumni maupun non-alumni dipersilakan menunjuk lima orang dancer terbaik mereka untuk menampilkan koreografi terbaik. Keputusan pemenang akan diambil berdasarkan tepuk tangan penonton. Dan sekarang kami tengah rapat membahas pertandingan malam ini.

“Baru malam pertama, tema tantangannya sudah seberat ini.”, ujar Kak Karin.
“Kenapa begitu Kak?”, tanya Chris.
“Karena di tantangan malam ini Red Team akan sangat diuntungkan, karena empat orang member laki-lakinya adalah dancer yang handal. Belum lagi mereka pasti akan bergabung dengan Kak Rudi dari Blue Team. Kita tidak akan menang mudah.”, jawab Kak Karin.
“Bukankah di pihak kita ada Kak Radit, juara kompetisi dance tingkat nasional.”, ujarku berkomentar.
“Tetap saja hal itu tidak akan semudah apa yang kamu pikirkan. Mereka berlima pasti sudah mengantisipasi hal itu. Ingat, mereka juga juara nasional.”, ujar Kak Karin.
“Kalau begitu cepat putuskan siapa yang akan tampil malam ini.”, ujar Kak Radit.
“Kalau menurutku sebaiknya Green Captain, Setyo, Nando, Andre, dan juga Chris.”, ujar Kak Karin.
“Bagaimana menurut yang lain? Nikki? Sakti?”, tanya Kak Radit.
“Aku setuju dengan pilihan Kak Karin. Di Orange Team, hanya Kak Nando dan Andre yang menonjol dalam hal dance dan koreografi.”, jawab Kak Nikki.
“Aku juga setuju.”, jawabku pendek.
“Asyik! Malam ini kita tampil!”, ujar Kak Andre.
“Huh… Benar-benar merepotkan.”, ujar Kak Nando.
“Kalau begitu apa yang kita tunggu. Saatnya latihan!”, teriak Kak Radit.
“Ai ai Kapten!”, teriak kami semua.

Matahari pun mulai tenggelam. Green Team, Orange Team, dan juga Purple Team sudah sampai di The Stage. Lima orang akan tampil dari pihak kami tengah bersiap-siap sementara Blue Team dan Red Team belum juga tampak. Sedangkan anggota tim yang tidak tampil duduk manis di sudut spesial khusus anggota Serenity, para coach, dan anggota Alvin and The Black Crew. Kami sudah tak sabar.

“Maaf menunggu lama.”, ujar Kak Angga.
“Kenapa kalian lama sekali?”, tanya Bu Dara.
“Biasa coach, tiga laki-laki ini belum mau beranjak ke sini jika Kapten mereka belum marah-marah via skype.”, jawab seorang gadis dari Blue Team.
“Sudah jangan banyak bicara lagi. Segera mulai saja pertandingannya.”, ujar Kak Karin.

Mas Rudi beserta empat anggota laki-laki dari Red Team kini berdiri saling berhadapan dengan Kak Radit, Kak Setyo, Kak Nando, Kak Andre, dan juga Chris. Kak Rio melempar sebuah koin ke udara untuk mengundi siapa yang akan tampil pertama.

“Junior, take the stage!”, ujar Kak Rio.

Kak Radit dan kawan-kawan mengambil tempat di atas panggung. Para pengunjung kafe berteriak riuh melihat Kak Radit serta yang lain berpenampilan beda hari ini. Mereka mengenakan celana jogger, kaos tanpa lenga, dan juga sepatu kets. Musik mulai diputar melalui pengeras suara. Aku tidak mengerti banyak tentang jenis-jenis gerakan dance, namun yang pasti gerakan mereka berlima sangat rapi dan kompak. Pengunjung yang menonton penampilan mereka tak jarang berdecak kagum saat masing-masing dari mereka berlima melakukan gerakan. Chris juga tampak sangat percaya diri meski di antara kelima orang itu dialah yang paling muda.

Giliran para senior untuk tampil. Berbeda dengan penampilan para junior, mereka tampil dengan level yang jauh berbeda dengan para junior. Tidak hanya rapi dan kompak, tetapi mereka juga memperhatikan dari segi kreativitas. Jumlah jenis gerakan yang mereka lakukan juga lebih banyak dari pada yang ditampilkan para junior. Penonton sampai berteriak histeris. Kami jelas kalah telak.

Pertandingan berakhir, para pengunjung memberikan tepuk tangan yang sangat riuh pada penampilan para senior. Raut kekecewaan tampak di wajah kelima junior sementara ekspresi datar seolah-olah biasa saja tampak di wajah para senior.

Prok… Prok… Prok… Suara tepuk tangan seseorang menghampiri kami. Seorang gadis yang wajahnya tak asing bagi kami datang menghampiri. Ekspresi wajah para anggota Serenity mau pun para coach berubah menjadi tidak ramah.

“Penampilan yang sangat menarik. Ternyata hanya sampai di sini saja kemampuan Serenity yang terkenal ini.”, ujar Olivia sombong.
“Seperti kamu sudah berpergian terlalu jauh Olivia.”, ujar Kak Angga.
“Oh, tenang. Aku datang ke sini bukan untuk mencari keributan. Aku hanya datang untuk mengucapkan selamat. Karena tahun ini gelar juara nasional akan jatuh ke tangan kami.”, balas Olivia.

Aku tak begitu peduli terhadap Olivia karena saat ini aku hanya fokus menatap sosok gadis yang berdiri di belakangnya. Sosok yang dulu begitu ku sukai, namun kini dengan penampilan yang jauh berbeda. Dia mengenakan pakaian yang sangat anggun, jauh dari kesan polos. Dia juga tak lagi mengenakan kacamata yang dulu tak boleh lepas sekejap pun dari dirinya. Dan riasan wajah dan tatanan rambut itu yang membuatku nyaris tak mengenalinya.

“Sepertinya kali ini kita akan menang mudah. Ayo pergi, Zizi!”, ujar Olivia.
“Baik coach.”, sahut Zizi pelan.
“Tunggu! Kita butuh bicara!”, kataku menarik tangan Zizi.

Aku menarik tangan Zizi dan membawanya keluar dari The Stage untuk bicara. Walau penampilannya berubah, aku yakin kalau dia masih Zizi yang dulu ku kenal. Zizi tiba-tiba menarik tangannya setibanya kami di luar.

“Apa yang kamu lakukan!”, pekik Zizi.
“Apa yang aku lakukan? Seharusnya itu menjadi pertanyaan yang ku ajukan. Apa yang selama ini kamu lakukan?”, balasku bersuara keras.

Zizi terdiam setelah mendengar kata-kataku. Dia memalingkan wajahnya, tak berani menatapku.

“Enam bulan Zi. Enam bulan kamu menghilang gitu aja, gak ada kabar sama sekali. Dan sekarang kamu muncul lagi seolah-olah tidak terjadi apa pun.”, kataku lagi.
“Jadi apa maumu sekarang?”, tanya Zizi dengan nada menantang.
“Aku hanya ingin tahu alasannya. Kenapa?”, kataku sambil menatap matanya.

Aku menatap dalam kedua bola matanya. Berharap Zizi yang dulu ku kenal akan kembali. Namun yang ku dapati malah sebaliknya.

“Karena aku bosan! Bosan menjadi Zizi si kutu buku! Bosan menjadi Zizi yang lemah! Bosan menjadi Zizi si Miss Kikuk! Bosan menjadi Zizi yang terus menjadi korban bully di sekolah karena menjadi pacarmu!”, jawab Zizi dengan nada tinggi.

Aku tertegun mendengar jawaban Zizi. Apakah selama ini dia begitu menderita karena dekat denganku? Zizi menyeka matanya, lalu kembali menatapku dengan tatapan menantang.

“Zizi yang kamu kenal dulu sudah tidak ada. Sekarang hanya ada aku. Ziliana Prameswari yang akan mengalahkan kalian dan menjadi juara nasional. Dengan begitu, tidak akan ada lagi yang memandang rendah diriku.”, ujarnya lalu beranjak pergi.

Zizi pergi meninggalkan ku sendirian. Kata-kata Zizi tadi terus terputar jelas di kepalaku. Kak Radit dan Kak Nikki datang menghampiriku yang kini duduk sendirian di kursi bagian luar The Stage karena sudah pergi terlalu lama.

“Kamu baik-baik saja kapten?”, tanya Kak Radit.
“Kami semua cemas mengkhawatirkan dirimu di dalam.”, sambung Kak Nikki.
“Aku sudah bertekad, kita harus memenangkan kompetisi tingkat nasional. Apa pun yang terjadi. Kalian berdua, aku mohon, tolong latih aku.”, jawabku.

Kak Radit dan Kak Nikki tak membalas kata-kataku. Mereka hanya tersenyum sambil merangkul bahuku.

“Ai ai Kapten!”, kata mereka berdua.

Random 24: Rahasia Dani

“Apa yang akan kamu lakukan sekarang?”, tanya Dani.
“Aku tidak tahu.”, jawabku.
“Setelah enam bulan pergi gak ada kabar sama sekali, kamu masih mengharapkannya kembali padamu?”, tanya Dani lagi.
“Aku tidak tahu Dani. Kamu pikir aku tidak terkejut saat bertemu dengannya kemarin.”, jawabku memekik.
“Hadapilah Kapten! Dia sudah mencampakkan dirimu!”, ujar Dani memekik.

Sejak kemarin malam aku dan Dani terlibat pendebatan sengit. Kembalinya Zizi benar-benar membuatku bahagia, tapi di sisi lain menyisakan pertanyaan yang menyesakkan di hatiku tentang bagaimana dia menghilang tanpa kabar enam bulan lalu. Dani berpendapat kalau aku harus melupakan apa yang telah terjadi dan melanjutkan hidup. Namun aku tidak bisa melakukannya tanpa mengetahui alasan sebenarnya mengapa Zizi melakukannya.

Zanuar dan Zikri berusaha menenangkan Dani. Para anggota Serenity yang lain pun satu per satu mulai datang ke warehouse untuk berlatih. Pak Danu dan Bu Dara pun akhirnya sampai dan melihat perdebatan antara diriku dan Dani.

“Ada apa ini?”, tanya Pak Danu.
“Kak Karin, Kak Andre, kita perlu bicara.”, ujar Dani menghindar.

Dani beranjak pergi bersama Kak Karin dan Kak Andre seorang anggota Orange Team. Kak Rio masuk ke dalam warehouse sambil berlari dengan napas terengah-engah.

“Aku sudah dapatkan informasinya. Ternyata benar, dia sudah kembali.”, kata Kak Rio.
“Sakti, kamu berhutang penjelasan pada kami. Kita ke sampingkan hal ini dahulu. Ada hal penting yang harus kita bicarakan.”, ujar Pak Danu.

Kak Rio menyalakan proyektor dan pengeras suara yang ada di warehouse. Kami duduk menghadap layar proyektor, kemudian Kak Rio menayangkan sebuah video dan kami menontonnya bersama-sama.

“Ini adalah video penampilan sebuah tim bernama Water Lily dua tahun lalu di final kompetisi tingkat kota.”, ujar Pak Danu.
“Mereka payah sekali…”, ujar Kak Nikki.
“Sedangkan ini adalah video penampilan Water Lily tahun lalu di penyisihan kompetisi tingkat kota.”, ujar Pak Danu lagi.
“Hahaha… Mereka benar-benar payah.”, pekik Zanuar.
“Dan ini adalah video penampilan mereka di final kompetisi tingkat provinsi yang mereka menangkan.”, ujar Pak Danu lagi.
“Wow…”, ujar kami semua.
“Tunggu dulu. Bagaimana bisa sebuah grup yang tahun lalu mengikuti penyisihan saja tidak berhasil masuk ke final, tahun ini menjadi juara tingkat provinsi?”, tanya Kak Setyo.
“Pertanyaan bagus. Jawaban dari pertanyaanmu ada di video berikutnya.”, jawab Kak Rio.

Kak Rio memutar video selanjutnya. Video tentang suasana latihan tim Water Lily. Para anggota Green Team dan Orange Team tampak terkejut melihat dua orang yang menjadi pelatih tim Water Lily.

“Bagaimana bisa mereka berdua ada di sana?”, pekik Kak Radit.
“Benar-benar tidak tahu malu!”, pekik Bu Dara.
“Memangnya mereka berdua siapa?”, tanya Akbar.
“Yang laki-laki bernama Steven, dan yang wanita adalah Olivia. Mereka berdua berambisi untuk menjadi juara nasional saat menjadi siswa SMA. Namun sayangnya tim mereka berdua selalu menjadi juara kedua. Terakhir mereka melakukan cara-cara kotor dengan menyabotase para peserta lain dua tahun lalu. Beruntung Blue Captain berhasil membuktikan kecurangan mereka hingga akhirnya tim mereka didiskualifikasi.”, ujar Kak Radit.
“Dengan kembalinya mereka berdua sebagai pelatih tim Water Lily membuat kita harus ekstra hati-hati dalam menghadapi kompetisi tingkat nasional tahun ini.”, ujar Pak Danu.
“Akh, coach… Siapa gadis yang menjadi lead vocal di Water Lily itu?”, tanya Zanuar.
“Dia siswi tahun pertama di SMA itu. Kabarnya dia adalah sepupu dari Olivia, dan kekasih dari Steven. Namanya Ziliana Prameswati.”, jawab Kak Rio.
“Apa? Ziliana Prameswari?”, tanyaku kaget.
“Ya benar. Apa kamu mengenalnya?”, tanya Kak Rio balik.

Tidak mungkin semua ini terjadi. Zizi kini menjadi lead vocal wanita di Water Lily. Jadi inilah jawaban atas semua pertanyaan yang menghantuiku enam bulan yang lalu. Jawaban atas menghilangnya Zizi tanpa kabar, dan berubahnya penampilan Zizi saat kemarin kami bertemu.

“Sudah ku duga pasti akhirnya akan menjadi seperti ini.”, ujar Dani padaku.
“Jadi selama ini kamu sudah tahu keberadaan Zizi?”, tanyaku.
“Ya begitulah.”, jawab Dani.
“Kenapa kamu tidak pernah cerita soal keistimewaan tim Serenity ini?”, tanyaku lagi.
“Hihihi. Kalau ku beritahu, tidak akan seru.”, jawab Dani.
“Hah… Jika aku tahu sejak awal kalau di setiap tim Serenity selalu terdapat anggota berkemampuan khusus, aku sudah minta dia menjawab pertanyaan saat audisi Serenity enam bulan yang lalu.”, kataku setelah menghela napas.
“Hahaha. Sejak awal Serenity terbentuk, Blue Captain berkeliling mencari tujuh anak terpilih untuk bergabung dengan Serenity. Dan kami tidak boleh membongkar jati diri maupun kemampuan khusus yang kami miliki masing-masing kecuali kapten tim kami telah mengetahuinya. Tapi bagaimana caramu mengetahuinya?”, tanya Dani.
“Sejak awal berkenalan denganmu di SMP aku sudah curiga. Mana ada anak SMP yang bisa menebak semua skor pertandingan antar klub bola dengan benar seratus persen.”, jawabku.
“Jadi kamu sudah tahu sejak awal?”, tanya Dani.
“Ya begitulah. Hihihi.”, jawabku.
“Jadi, apa yang akan kapten lakukan? Pada tim kita, dan juga Zizi.”, tanya Dani.
“Mau bagaimana lagi, kita sudah melangkah sejauh ini. Zizi adalah lawan kita. Seperti peraturan yang berlaku di Serenity. Tidak boleh membawa urusan pribadi…”, jawabku terpotong.
“Dan juga cinta ke atas panggung…”, ujar Dani.
“Dan juga cinta ke atas panggung.”, ujarku.

Aku menepuk bahu Dani yang duduk di sampingku. Aku kini merasa sangat kuat dan yakin untuk melupakan Zizi. Demi seluruh anggota tim yang sudah percaya padaku.

“Terima kasih ya.”, kataku.
“Terima kasih untuk apa?”, tanya Dani.
“Terima kasih telah memilihku menjadi kapten di Serenity.”, jawabku.

Dani tersenyum sumbringah. Dia menghela napas panjang.

“Dani curang…!!!”, teriak Zikri.
“Kapten bukan milikmu seorang saja…”, ujar Zanuar yang duduk di sampingku.
“Iya betul. Jangan harap kami akan berbagi perhatian kapten denganmu.”, gerutu Chris.
“Kapten… Chris menakutkan…”, ujar Dani manja.
“Hei lepaskan…”, ujar Akbar menarik tubuh Dani menjauh dariku.

Aku hanya bisa tertawa terbahak-bahak melihat tingkah kelima temanku itu. Ternyata benar apa yang dikatakan Dani. Jika dia membocorkan rahasianya padaku sejak awal, semua tidak akan berjalan seseru ini. Hari-hari ke depan pasti akan berjalan lebih seru dan lebih menyenangkan dari hari ini. Dan yang pasti mereka berlima akan selalu ada untuk membuat hari-hariku menjadi lebih menyenangkan.

“Kalau begitu, bagaimana jika kita berenam latihan lagi.”, kataku.
“Akh, kapten gak asyik. Masa latihan terus.”, gerutu mereka berlima.
“Hahaha… Kalau begitu bagaimana kalau kita berenam makan. Kapten yang traktir. Mau?”, tanyaku.
“Mau!!!”, teriak mereka berlima.
“Tapi kapten duduk disebelah ku ya.”, ujar Chris.
“Tidaaaaakkkk!!!”, teriak Akbar, Dani, Zanuar, dan Zikri.
“Hahaha.”, suaraku tertawa terbahak-bahak.

Random 23: Kenangan

Yeyeye… Juara tingkat provinsi untuk keempat kalinya bagi Serenity. Perasaan ini benar-benar menyenangkan. Kami berkumpul di warehouse untuk merayakannya. Tentu saja dengan membawa piala juara pertama yang tingginya hampir setinggi diriku.

“Teman-teman… Aku punya kejutan untuk kalian semua…”, ujar Kak Radit.

Kak Radit tersenyum seumbringah. Matanya berbinar-binar, sepertinya kejutan yang akan diperlihatkannya adalah kejutan yang spesial.

“Masuklah!”, teriaknya sambil menoleh ke arah pintu masuk warehouse.

Kami ikut menoleh ke arah pintu masuk. Seorang gadis manis berjalan masuk sambil tersenyum. Kak Karin, dan para gadis di Green Team langsung bangkit berdiri dan berlari memeluk gadis itu. Mereka menarik gadis tersebut untuk duduk di tengah-tengah mereka.

“Hei Sakti, persiapkan Purple Team. Kita akan berikan mereka kejutan.”, bisik Kak Nikki padaku.

Kak Nikki bangkit berdiri dan menghampiri para anggota Alvin and The Black Crew yang tengah beristirahat. Dia seperti meminta mereka melakukan sesuatu. Para anggota Alvin and The Black Crew bangkit berdiri lalu mengambil alat musik mereka masing-masing. Aku pun membisikkan pada teman-teman satu timku agar bersiap-siap.

Kak Nikki berjalan ke tengah warehouse. Kemudian dia berbicara dari tengah warehouse.

“Ehem… Seperti tradisi yang sudah ada di Serenity bahwa setiap kali memenangkan kompetisi tingkat provinsi, Junior Captain akan bernyanyi untuk para Senior Captain. Namun karena pada kesempatan ini kita juga kedatangan tamu spesial, maka kami akan sedikit melakukan perubahan. Jadi terimalah satu persembahan dari kami ini.”, ujar Kak Nikki.

Aku dan anggota timku menghampiri Kak Nikki dan berdiri di sampingnya. Suara permainan piano yang merdu terdengar lalu disambut dengan suara alat musik yang lain. Kami mulai bernyanyi meski tanpa koreografi yang terarah, karena semua serba dadakan. Ponytail To Chou-Chou, sebuah lagu tentang seorang gadis yang mengikat rambutnya seperti ekor kuda poni pun kami nyanyikan.

Ternyata Kak Nikki tak hanya mempersembahkan lagu ini untuk Kak Angga dan Kak Radit, tetapi juga kepada gadis teman Kak Radit. Di tengah lagu anggota Orange Team yang lain bergabung dengan kami bertujuh dan bernyanyi bersama. Lalu Kak Nikki pun menarik Kak Radit, dan gadis temannya untuk berdiri berdua di tengah warehouse. Kami berlari sambil bernyanyi mengitari mereka berdua yang berdiri di tengah kami. Mereka pun saling bergandengan tangan kemudian berpelukan. Kami bertepuk tangan riuh mengakhiri penampilan singkat kami ini.

Hari ini adalh hari pertama sekolah di semester baru. Kehidupanku sebagai seorang siswa SMA dengan segala hiruk-pikuknya akan segera dimulai kembali setelah sempat terhenti karena masa liburan semester. Seperti biasa, angkutan umum adalah satu-satunya moda pengangkutan yang ku pilih untuk berangkat ke sekolah.

“Kyaaa!!! Sakti!!!”, suara teriakan para siswi yang berkerumun di gerbang sekolah begitu aku sampai.
“Eh? Ada apa ini???”, tanyaku bingung.
“Kapten!!! Lari!!!”, teriak Zikri dan Chris yang tengah berlari dikejar-kejar kerumuman siswi lain.
“Kyaaaaaa!!!”, teriak para kerumunan siswi yang berada di dekatku.

Mereka entah mengapa mulai berlari mengejarku. Aku yang melihat mereka mulai mengejarku, juga langsung berlari sekuat tenaga di depan mereka.

“Hah… Hah… Hah…”, suara napasku, Chris, dan Zikri yang memburu karena kelelahan berlari.
“Huh… Mereka… Benar-benar… Brutal…”, ujar Zikri dengan sisa tenaganya.
“Iya… Benar… Memangnya… Kenapa mereka mengejar… Kita… Huh… Huh…”, ujarku sambil mencoba mengatur napas.
“Kabarnya mereka mendadak menjadi fans kita setelah melihat penampilan kita saat kompetisi tingkat provinsi. Saya dengar ada beberapa orang juga yang mengunggah video penampilan Serenity ke youtube.”, ujar Chris yang sudah dapat bernapas normal.

Kami bertiga berjalan ke kelas kami. Dengan napas yang terengah-engah dan penampilan yang menjadi sedikit berantakan, kami akhirnya berhasil menghindari serbuan para siswi setelah bersembunyi di toilet pria sampai bel tanda masuk berbunyi. Kami beruntung karena guru yang mengajar pelajaran pertama tidak hadir. Sehingga kami bisa sedikit beristirahat sehabis berlari dikejar para siswi tadi.

“Kalian darimana saja?”, tanya Dani yang tengah sibuk membuka satu per satu amplop surat yang menumpuk di depannya.
“Iya, kalian darimana?”, tanya Akbar menyambung sambil mengerjakan hal yang sama dengan Dani.
“Penampilan kalian juga kenapa kusut dan berantakan begitu? Slurp…”, tanya Zanuar yang tengah menikmati secangkir plastik minuman.

Kami bertiga duduk di tempat duduk kami masing-masing. Daripada menjawab pertanyaan Dani, Akbar, dan Zanuar, kami lebih penasaran dengan apa yang tengah dilakukan oleh Dani dan Akbar.

“Kami tadi habis dikejar-kejar para siswi di sekolah. Lihat nih, lenganku saja sampai tergores kuku mereka.”, jawab Zikri sambil menunjukkan lengannya pada Zanuar.
“Ooohhh…”, ujar Dani dan Akbar berbarengan namun perhatian mereka masih terfokus pada tumpukan amplop surat di meja mereka.
“Kalian sendiri sedang apa?”, tanyaku penasaran.
“Mereka sedang membaca surat-surat dari fans-fans mereka.”, jawab Zanuar.
“Surat dari fans?”, tanya Chris.
“Iya. Untuk kalian juga ada. Nih! Ada juga yang kirim hadiah lho!”, jawab Zanuar sambil menyerahkan setumpuk surat dan beberapa hadiah pada aku, Zikri, dan Chris masing-masing.
“Wah, punya kapten lebih banyak.”, ujar Zikri.
“Kamu dapat juga Nu?”, tanya Chris pada Zanuar.
“Dapat, tapi semuanya hadiah. Lihat tuh, tasku sampai penuh begitu. Minuman ini juga hadiah lho.”, jawab Zanuar sambil menunjuk tasnya.
“Selesai…!!!”, teriak Akbar yang baru saja selesai membaca semua surat dari penggemarnya.

Akbar kemudian menoleh ke arah tempat aku dan Chris duduk lalu menoleh lagi ke meja Zikri dan Zanuar. Dia terkejut melihat tumpukan hadiah untuk diriku, Zikri, dan juga Chris. Terlebih lagi karena sekarang Zikri dan Chris tengah menyantap cokelat hadiah dari para fans mereka. Sementara sebagian hadiah lainnya telah mereka simpan ke dalam tas.

“Wah, curang! Kapten, Zanuar, Zikri, dan Chris dapat banyak hadiah! Aku dan Dani cuma dapat tumpukan surat saja.”, keluh Akbar cemburu.
“Ya sudah, kamu boleh ambil beberapa cokelat ini. Lagi pula sepertinya tasku tidak muat untuk membawa semuanya.”, kataku yang tengah memasukkan hadiah-hadiah selain makanan ke dalam tas.
“Asyik!!!”, ujar Akbar kesenangan.

Kami berlima sibuk menyantap cokelat hadiahku, Zikri, dan Chris bersama-sama. Padahal hari masih pagi, namun aku sudah mengonsumsi cokelat. Mungkin setelah ini kami harus beramai-ramai pergi ke dokter gigi untuk periksa. Sementara Dani masih fokus membaca satu per satu surat dari penggemarnya.

“Aneh… Hanya satu surat ini yang tidak ada nama pengirimnya.”, kata Dani menyudahi membaca surat.
“Mana?”, tanya Akbar.
“Ini.”, jawab Dani menyerahkan sepucuk surat pada Akbar.
“Hmm… Kira-kira dari siapa ya?”, ujar Akbar dengan suara sedikit keras.
“Hei kalian! Kenapa makan cokelat tapi gak bagi-bagi! Kapten curang!!!”, ujar Dani mengeluh tiba-tiba.
“Kamu sendiri yang sejak tadi terlalu fokus pada surat-suratmu.”, sindir Zanuar.
“Kapten…”, ujar Dani dengan wajah memelas.
“Iya iya… Kamu boleh ambil.”, kataku.
“Asyik!!!”, teriak Dani.
“Kapten terlalu memanjakan Dani.”, gerutu Akbar cemburu.
“Hedeh, kalian berdua ini seperti anak-anak saja.”, kataku.

“Yah, kita pulangnya kesorean lagi.”, ujar Dani.
“Iya benar. Bagaimana kalau kita makan dulu?”, tawar Chris.
“Boleh juga. Dimana?”, tanyaku.

Chris mengajak aku dan Dani untuk mengikutinya. Dia menyetop satu angkutan umum yang lewat dan naik. Aku dan Dani juga naik mengikuti Chris. Angkutan umum yang tengah kami naiki membawa kami bertiga ke daerah yang sudah tak asing bagiku dan Dani.

“Di sini?”, tanya Dani meyakinkan.
“Iya di sini. Baksonya enak banget, murah lagi.”, jawab Chris semangat.
“Tapi…”, ujar Dani namun segera ku hentikan.

Aku memberi kode pada Dani untuk tak melanjutkan kata-katanya. Kami mengikuti langkah Chris masuk ke dalam warung bakso ini. Warung bakso yang selalu menjadi langganan kami semasa masih menjadi siswa SMP. Ya, Chris membawa kami ke Warung Nek Lela. Sudah lama juga semenjak terakhir kali aku datang ke tempat ini. Benar juga, terakhir kali datang ke sini aku duduk berdua saja dengan dia. Sudah lewat satu semester aku kehilangan kabar darinya. Zizi, dimana kamu sekarang?

Aku jadi terkenang dengan Zizi. Sampai saat ini aku tak bisa menemukan keberadaannya. Bahkan sampai sekarang diam-diam aku masih mencari keberadaannya. Tiba-tiba saja Dani menepuk bahuku. Seperti dirinya bisa membaca pikiranku, dia menepuk bahuku sekali lagi.

“Sudah lama juga ya Kapten.”, ujar Dani.
“Ya, kamu benar. Sudah enam bulan lebih.”, sahutku.
“Kamu masih mencarinya kan?”, tanya Dani.
“Darimana kamu tahu?”, tanyaku balik.

Dani hanya tersenyum. Dia tak menjawab. Chris pun menghampiri kami bersama seorang pelayan yang membawa bakso pesanannya. Tiga porsi bakso ukuran jumbo yang siap untuk disantap ada di hadapan kami.

“Kamu yakin bisa menghabiskannya?”, tanya Dani pada Chris.
“Tentu saja bisa.”, jawab Chris polos.
“Sudah sudah, mari kita makan.”, kataku.

Kami memutuskan untuk pulang dengan berjalan kaki sambil menikmati suasana sore menjelang malam ini. Suhu udara pun berangsur-angsur menurun, jalan raya di sebelah kami kini tampak lengang. Namun entah mengapa langkah kakiku membawaku melintasi jalan yang sudah tak ku lalui selama enam bulan lebih. Jalan yang hampir setiap hari ku lalui di masa-masa akhir diriku mengenakan seragam SMP. Hingga kami sampai di depan rumahnya. Rumah kediaman Zizi, tempat aku mengantarnya pulang setiap hari.

“Kapten…”, ujar Dani tertahan.

Dani berdiri terpaku di sampingku sambil tangan kanannya terangkat dan menunjuk ke depan. Aku tidak percaya yang tengah ku lihat saat ini. Seorang gadis berambut panjang tengah berdiri tertegun di depan kami. Dia tampak terkejut melihat kehadiran kami bertiga. Begitu juga dengan ku dan Dani. Kenapa dia bisa ada di sini?

“Zizi???”, kataku.

Random 22: Regionals

Kompetisi tingkat provinsi beberapa saat lagi akan dimulai. Setelah digempur dengan latihan selama liburan, kali ini kami merasa lebih siap daripada saat menghadapi kompetisi tingkat kota. Tuan rumah kompetisi tingkat provinsi adalah SMA Harapan Bangsa. Sehingga sebagai tuan rumah, kami tidak boleh mengecewakan seperti saat SMA Ksatria menjadi tuan rumah kompetisi tingkat kota.

Auditorium sekolah sejak pagi mulai dipenuhi dengan para pendukung masing-masing tim. Walau pun mereka berasal dari kota yang jauh sekali pun, mereka tetap bersemangat untuk mendukung tim favorit mereka. Para siswa dan siswi SMA Harapan Bangsa pun tak mau kalah. Mereka membuat banyak sekali poster dan menempelkannya di sekeliling sekolah, terutama di auditorium sekolah.

“How do I look?”, tanya Chris.
“Great!”, jawabku.
“Kapten, kalau aku?”, tanya Zanuar.
“Keren.”, jawabku.

Aku memeriksa kelengkapan dan persiapan para anggota timku. Menjadi kapten di Serenity memang melelahkan, namun sangat menyenangkan. Belum lagi tingkah para anggota timku yang terkadang kekanak-kanakan melatihku untuk bersikap dewasa demi mereka. Aku penasaran bagaimana perasaan Kak Radit dan Kak Nikki saat pertama kali menjadi kapten di Serenity. Mungkin pengalaman mereka tak jauh berbeda dengan yang ku hadapi saat ini.

“Semua sudah siap?”, tanya Pak Danu.
“Ai ai coach!”, jawab kami serentak.
“Baik, dengarkan. Kompetisi kali ini akan lebih berat dari kompetisi di tingkat kota. Yang akan menjadi kompetitor kita adalah seluruh pemenang dari kompetisi tingkat kota di kota mereka masing-masing.”, ujar Pak Danu.
“Jangan sampai ada kesalahan.”, tambah Bu Dara.
“Jadi, apalagi yang kalian tunggu… Cepat naik ke atas panggung!”, tambah Kak Rio.
“Ai ai coach!!!”, teriak kami.

Kompetisi dimulai. Musik yang menghentak keras, suara para penyanyi yang merdu, dan koreografi yang apik dari tim-tim lain yang berkompetisi hari ini memecah keheningan auditorium sekolah. Suara tepuk tangan dan sorak sorai penonton pun ikut menambah panasnya persaingan di antara kami.

“Perubahan rencana. Orange Team dan Purple Team, kalian tampil bersama sebagai penampilan pembuka.”, ujar Kak Radit tiba-tiba.
“Apa? Lalu siapa yang menjadi lead vocal?”, tanyaku bingung.
“Aku percayakan padamu. Semoga beruntung.”, jawab Kak Radit.

Tiba-tiba saja Kak Radit mengubah susunan tampil Serenity. Bukannya mengutus Dani atau anggota dari Orange Team untuk menjadi lead vocal, Kak Radit malah mempercayakan lead vocal lagu pertama padaku. Mendadak diriku menjadi gugup dan gemetar. Kak Radit pergi memberitahukan perubahan rencana ini pada anggota Alvin and The Black Crew. Tak mempedulikan diriku yang kebingungan saat ini.

“Tenang saja, kapten pasti bisa.”, ujar Dani menepuk bahuku.
“Ya, kapten sudah membawa kami sejauh ini. Anggap saja ini sebagai kompensasi sebelum kemenangan kita hari ini.”, ujar Akbar.
“Kalau kami sih senang bukan Dani yang menjadi lead vocalnya, dia terlalu show off kapten.”, ejek Zikri.
“Apa kamu bilang???”, ujar Dani yang memiting leher Dani.

Mereka berlima tahu kalau saat ini aku tengah gugup. Mereka berusaha menyemangati diriku. Aku tidak boleh terus-menerus seperti ini. Aku adalah kapten mereka, dan mereka percaya padaku.

“Baik! Kita semua harus berjuang! Lakukan yang terbaik!”, kataku bersemangat.
“Ai ai kapten!!!”, teriak mereka bersemangat.

Nama Serenity akhirnya dipanggil untuk tampil. Aku panjatkan doa sejenak sambil menarik napas dalam. It’s show time!

Lampu panggung dimatikan, kami pun bergegas naik ke atas panggung. Suara permainan piano dari seorang anggota Alvin and The Black Crew mulai menyelimuti suasana hening dari bangku penonton. Aku menarik napas dalam lalu mulai bernyanyi.

“Hanya dirimu… Hanya dirimu… Hanya dirimu… Yang… Bisa ku lihat… Ha…”, suaraku menyanyikan bagian awal lagu ini.

Lagu Nagai Hikari menjadi lagu pembuka penampilan kami. Meski jantungku berdebar keras karena harus menjadi lead vocal dan membukanya secara solo, namun aku bersyukur dapat melakukannya secara mulus. Anggota timku dan Orange Team pun bergabung denganku di atas panggung kemudian bernyanyi bersama-sama.

Lampu panggung diredupkan. Anggota Purple Team dan Orange Team bergegas kembali ke belakang panggung untuk menunggu penampilan lagu ketiga, kecuali Chris. Kak Setyo dan Karin bergegas naik ke atas panggung dan membentuk formasi bertiga bersama Chris untuk penampilan kedua.

Musik kembali diputar dan lampu sorot atas panggung dinyalakan dengan berfokus pada mereka bertiga. Mereka bertiga bernyanyi lagu Bird untuk penampilan kedua. Seharusnya yang tampil untuk lagu kedua adalah Kak Radit, Setyo, dan Karin. Tidak jelas alasannya mengapa Kak Radit urung tampil. Namun aku bangga menyaksikan Chris tampil dengan percaya diri walau dia harus tampil bersama dua orang seniornya dan dia tidak hanya menari tetapi juga menyanyi.

“Dia tampil dengan baik.”, puji Kak Nikki.
“Ya. Chris sudah berjuang keras untuk meningkatkan rasa percaya dirinya.”, sahutku.
“Setelah ini bukan hanya dia yang berjuang untuk tampil percaya diri.”, kata Kak Nikki tidak jelas.
“Maksud Kakak?”, tanyaku penasaran.
“Percayalah pada Senior Captain.”, jawab singkat lalu berlari kembali naik ke atas panggung.

Lampu panggung ternyata sudah diredupkan kembali. Suara tepuk tangan penonton mengudara memenuhi seisi auditorium seakan tak sabar menanti penampilan terakhir kami hari ini. Aku pun mengikuti tindakan Kak Nikki dan bergegas naik ke atas panggung. Seluruh anggota Serenity termasuk Kak Radit kini telah berada di atas panggung untuk penampilan lagu ketiga. Lagu ketiga adalah lagu pilihan Green Captain pada detik-detik terakhir sebelum Serenity tampil. Oleh sebab itu kami sepakat bahwa Green Team yang akan menjadi lead di lagu terakhir ini.

Iwake Maybe, entah mengapa lagu ini yang dipilih oleh Kak Radit. Kak Radit sendiri yang menyanyikan bagian solo di tengah lagu. Dia menyanyikannya dengan penuh perasaan dengan mata tertuju ke bangku penonton. Seolah-olah dia ingin menyampaikan perasaannya pada seseorang di antara penonton. Tapi kami masih berkompetisi, jangan sampai pikiranku teralihkan hanya untuk menerka-nerka apa yang sedang terjadi. Apa pun itu, kami harus tetap percaya pada Senior Captain.

Kami berlari ke belakang panggung dengan semangat. Meluapkan kegembiraan kami karena telah tampil apik di atas panggung.

“Sekarang pergilah kapten! Kejar dia!”, seru Kak Nikki pada Kak Radit.
“Nikki benar. Cepat kejar dia dan katakan perasaanmu padanya.”, sambung Kak Karin.
“Teman-teman, terima kasih.”, ujar Kak Radit yang berlari sekuat tenaga meninggalkan kami di belakangnya.

Jantungku berdegup kencang menunggu pembacaan hasil keputusan juara dari dewan juri. Dari lima belas tim yang tampil hanya lima besar saja yang dipanggil naik ke atas panggung untuk mengetahui keputusan dewan juri. Dan Serenity menjadi salah satu dari lima besar kompetisi ini. Sudah lebih satu jam Kak Radit pergi dan belum juga kembali. Namun sepertinya Kak Setyo dan kawan-kawan tampak tenang ditinggalkan sementara oleh kapten mereka.

“Juara kelima… The Scorpion!”, ujar MC membacakan pengumuman juara.

Tim The Scorpion menerima piala juara kelima dan turun dari atas panggung. Ketegangan semakin memuncak. Kami saling bergandengan tangan erat mendengarkan pembacaan urutan juara.

“Juara keempat… Saturday Breeze!”, sebut sang MC.

Aku menghela napas lega karena bukan nama Serenity yang dipanggil. Saturday Breeze menerima piala mereka lalu turun panggung. Kemana Green Captain? Kenapa dia pergi lama sekali.

“Merindukanku?”, bisik Kak Radit tiba-tiba di telingaku.
“Kapten!!!”, teriak kami secara pelan.
“Psssttt…”, ujar Kak Radit menenangkan kami semua.
“Juara ketiga… Pumpkin Smashed!”, ujar MC.

Ketegangan mencapai puncaknya. Baik di atas panggung maupun di bangku penonton pasti sangat penasaran siapa yang menjadi pemenang kompetisi tingkat provinsi ini. Hanya tersisa Serenity dan satu tim lain bernama Lolly Bunny dari SMK khusus wanita bernama SMK Kartini.

“Dan… Pemenang dari Kompetisi Vokal Grup SMA Tingkat Provinsi jatuh kepada…”, ujar MC tertahan.

Kami menarik napas dalam. Jantungku seperti ingin copot.

“Serenity!!!”, teriak sang MC.

Yeeeeeiiiiiiii… Kami semua berteriak kegirangan begitu mendengar nama Serenity berhasil keluar sebagai juara pertama. Potongan kertas kecil berwarna-warni ditembakkan ke atas panggung menambah keharuan atas kemenangan kami.

“Kita menang! Kita menang kapten!!!”, teriak Akbar di hadapanku lalu memelukku.

Kami saling berpelukan meluapkan emosi yang membuncah di dada saat ini. Juara nasional! Kami datang!

Random 21: Liburan

Kompetisi tingkat kota berakhir dengan kemenangan Serenity, dan kini liburan semester pun dimulai. Para coach mengajak seluruh anggota tim berlibur ke pantai. Hampir semua ikut termasuk Kak Vio dan Gagah, namun sayang Kak Alvin dan Kak Ilham harus kembali keluar negeri karena masa liburan mereka telah berakhir. Seperti biasa, kami menggunakan bus milik Pak Danu. Namun para pria anggota Blue Team dan Red Team serta Pak Danu dan Bu Dara memutuskan untuk menggunakan kendaraan pribadi.

“Kak Setyo, kok gak bareng Mas Dafi dan Mas Riza sih?”, tanya Zikri.
“Hmm, udah bosen. Lagipula disini kan banyak teman, jadi ramai.”, jawab Kak Setyo.
“Alah, bilang saja Kakak takut semobil dengan mereka bertiga.”, sahut Dani.
“Memangnya mereka bertiga kenapa?”, tanyaku penasaran.
“Mas Dafi kalau sudah bawa mobil seperti orang kesetanan. Sukanya kebut-kebutan.”, jawab Dani.
“Ooohhh… Terus Mas Riza dan Mas Rudi gak ngeri gitu?”, tanya Akbar.
“Mas Rudi malah lebih parah. Mungkin saat ini Mas Rudi dan Kak Angga sedang balapan ke pantai.”, jawab Kak Setyo.
“Pantas saja tidak ada yang mau semobil dengan mereka.”, ujarku.

Benar saja, saat bus kami terjebak kemacetan panjang, Kak Angga pun menghubungi ponsel Kak Radit. Mereka menelepon hanya untuk memberitahu kalau mobil mereka berdua sudah sampai di pantai.

“Yeeeiiii pantai!!!”, teriak para gadis.

Mereka berlari berhamburan bertelanjang kaki di atas pasir pantai. Mereka berlari menuju bibir pantai tempat pertemuan antara ombak di laut dan pasir putih pantai.

“Hei kalian!!!”, teriak Kak Angga dari jauh.
“Kapten!!!”, teriak para gadis dari Red Team.

Mereka berlari menerjang Kak Angga lalu memeluk Kak Angga dengan erat. Sepertinya ajang memeluk kapten dengan erat sampai sulit bernapas sudah menjadi tradisi di Serenity.

“Hei, jangan main dulu! Cepat bantu angkat barang dan beres-beres villa!”, teriak Kak Rio.
“Ai ai coach!!!”, sahut mereka.

Para laki-laki bergotong royong memindahkan barang bawaan kami dari bagasi bus ke dalam villa. Sementara para gadis sibuk membersihkan seisi villa dari debu dan kotoran. Selang satu jam, dan semua barang sudah tertata rapi.

“Sudah boleh main???”, tanya kami serentak.
“Hedeh… Ya ya ya. Kalian boleh main.”, jawab Kak Rio.
“Hore!!!”, teriak kami semua.

Kami langsung berhamburan ke kamar masing-masing untuk berganti pakaian. Kaos tipis, kacamata hitam, celana pendek, dan sendal jepit menjadi padanan yang tepat untuk bermain di pantai siang ini. Tak lupa kami mengenakan tabir surya di sekujur tubuh karena matahari bersinar dengan teriknya. Beberapa gadis bahkan membawa payung pantai dan tikar untuk berjemur.

“Ada yang mau main volly?”, tanya Kak Rio dan Pak Danu yang datang menyusul kami.
“Kyaaaa… Coach!!!”, teriak para gadis heboh.

Kak Rio dan Pak Danu muncul dengan bertelanjang dada. Mereka berdua hanya mengenakan topi putih, celana pantai, dan juga sendal jepit. Para gadis pun langsung heboh melihat mereka berdua.

“Sudah ku bilang kalian berdua jangan membuat sensasi yang aneh-aneh…”, ujar Bu Dara menjewer telinga Pak Danu dan Kak Rio.
“Aduh… Aduh… Sakit…”, keluh mereka berdua.
“Papa sih, kerjaannya buat sensasi terus…”, gerutu seorang anak laki-laki kecil dari belakang Bu Dara.
“Wah… Salim ikut juga?”, tanya Dani.
“Halo Kakak-Kakak semua…”, jawabnya polos menyapa kami.
“Kyaaaa… Salim…”, teriak para gadis yang kini mengacuhkan Pak Danu dan Kak Rio.

Para gadis langsung mengerumuni si kecil Salim. Sementara si bungsu Sultan tengah tertidur lelap digendong oleh Bu Dara. Ini adalah pertemuan pertamaku dengan kedua putra Pak Danu dan Bu Dara.

Kami pun menanggapi tantangan bermain bola volly dari Kak Rio dan Pak Danu. Karena Purple Team anggota laki-lakinya lengkap enam orang, maka kami tidak bergabung dengan tim yang lain. Kak Radit, Kak Setyo, dan Kak Rio bergabung dengan para anggota laki-laki Blue Team. Orange Team yang mempunyai lima anggota laki-laki berpasangan dengan Kak Gagah. Sementara Pak Danu bergabung dengan anggota laki-laki Red Team yang juga berjumlah lima orang.

Pertandingan pertama adalah pertandingan antara Purple Team dan Orange Team. Kak Karin pun menjadi wasit pertandingan kami. Walau pun Orange Team sudah lebih senior daripada kami dalam hal vokal, fisik, dan koreografi di panggung, namun untuk masalah bola volly mereka masih kalah jam terbang denganku. Kak Nikki melakukan servis, dan pertandingan dimulai.

Pertandingan bola volly memasuki babak terakhir antara Purple Team dan Blue Team. Wajah para anggota laki-laki Blue Team memang terlihat cool dan keren saat berada di atas panggung, tetapi saat bermain bola volly, mereka mendadak berubah menyeramkan. Ditambah lagi dengan kehadiran Kak Radit, Setyo, dan Rio di tim mereka. Skor saat ini adalah satu sama antara kami berdua dengan posisi game poin di babak terakhir. Kak Rio melakukan servis. Oh tidak, yang menerima servis adalah Chris dan brukkk… Bola volly itu pun membentur dahi Chris. Prittt… Kak Karin meniup peluitnya.

“Wuhuuuu!!!”, teriak Blue Team.
“Yaaahhh… Kami sih Chris…”, gerutu Akbar kecewa.
“Yeyeyeye… Yeyeyeye…”, suara Blue Team beserta Kak Radit, Setyo, dan Rio merayakan kemenangan mereka.

Blue Team beserta Kak Radit, Setyo, dan Rio mengalahkan kami dalam permainan bola volly. Padahal aku kira berkat adanya Dani dan diriku di Purple Team, kami bisa menang mudah. Ternyata sebaliknya, mereka malah terlihat tidak serius melawan kami tadi. Stamina mereka benar-benar luar biasa. Ternyata selain juara tampil di atas panggung, mereka juga hebat dalam hal olahraga. Mungkin itu berkat latihan fisik yang terus mereka jalani bahkan hingga sekarang.

“Kakak… Kakak yang namanya Kak Sakti ya?”, tanya Salim polos.
“Iya. Kamu pasti yang namanya Salim.”, jawabku yang berjongkok lalu menjabat tangannya.

Salim berjalan ke belakangku lalu merangkulku dari belakang. Ternyata dia minta untuk digendong. Dengan senang hati aku mengabulkan keinginannya.

Blue Team bersulang atas kemenangan mereka, walau hanya dengan es sirup dingin buatan Bu Dara. Mentari yang semula bersinar dengan terik di atas sana kini berangsur-angsur condong ke ufuk barat. Dengan masih tetap menggendong Salim di punggungku, aku dan teman-teman di Serenity beserta para coach, Kak Vio, dan Kak Gagah menikmati suasana matahari tenggelam dari pinggir pantai ini. Setiap deburan ombak dari lautan pun terdengar nikmat di telinga. Benar-benar liburan yang sangat menyenangkan.

Priiittt… Suara tiupan peluit terdengar keras di pagi hari. Kami pun terbangun dari tidur lelap kami. Siapa juga yang meniup peluit berisik seperti itu pagi-pagi begini?

“Ayo semuanya bangun! Pagi ini kita akan mulai latihan fisik ala liburan Serenity!!!”, ujar Pak Danu dengan semangat.
“Apa??? Latihan???”, teriak kami para anggota Purple Team.