NulisSetiapHari

Mudik 7: Hari Bersejarah Riza

Selama lima tahun berturut-turut Riza menghabiskan malam takbiran di rumah kedua orang tua Setyo, sebab kedua orang tua Riza baru bisa pulang ke Indonesia seminggu setelah lebaran. Namun kali ini kedua orang tua Riza kembali lebih awal, bahkan seminggu sebelum bulan puasa berakhir.

“Parsel dan buah-buahannya sudah dimasukkan?” Tanya Ilham.
“Sudah Kapten,” jawab Dafi.
“Barang-barang untuk seserahan?” Tanya Ilham lagi.
“Sedang dikerjakan Kapten!” Sahut Rudi.
“Pastikan tidak ada yang tertinggal!” Seru Ilham.
“Ai ai! Kapten!” Sahut para anggota Blue Team.

Ya, hari itu para anggota laki-laki Blue Team tengah bersiap untuk menghabiskan sisa libur lebaran mereka untuk pergi ke rumah kedua orang tua Setyo. Bukan untuk sekedar berkunjung, namun untuk sebuah acara yang sudah ditunggu-tunggu lama oleh Riza.

“Maaf ya Kapten. Kali ini aku benar-benar merepotkan kalian,” ujar Riza.
“Hei, sudahlah. Ini momen yang bersejarah. Aku tidak mungkin melewatkannya,” ujar Ilham.
“Kapten…,” ujar Riza sambil memeluk erat Ilham.
“Riza! Jangan curang!” Teriak Dafi dan Rudi yang menarik Riza untuk melepaskan pelukannya dari Ilham.

Hari keempat setelah Hari Raya Idul Fitri, hari yang ditunggu-tunggu telah tiba. Saatnya mereka berempat beserta kedua orang tua Riza untuk berangkat ke rumah kedua orang tua Setyo. Mereka juga mengajak Pak Danu, Radit, dan juga Karin untuk ikut bersama mereka. Agar menghemat waktu, mereka berenam berangkat menggunakan pesawat terbang, lalu dilanjutkan dengan menaiki bus menuju kediaman Setyo.

Di sisi lain, di rumah kedua orang tuanya, Setyo sibuk merapikan seisi rumah. Meski pun Hari Raya Idul Fitri sudah berlalu selama empat hari, namun Setyo dan Bapaknya masih sibuk merapikan seisi rumah. Sementara Ibunya dan Rini tengah merias diri di dalam kamar. Tetangga di sekitar rumah Setyo juga ikut membantu membuat hidangan untuk menyambut Riza dan juga rombongannya.

“Apa kalian bertiga tidak masalah meninggalkan istri-istri kalian di rumah?” Tanya Riza dalam perjalanan.
“Tentu saja tidak, ini benar-benar liburan,” jawab Dafi.
“Ya, benar. Pasti saat ini mereka bertiga tengah sibuk bergosip dengan Bu Dara,” jawab Rudi.
“Hei, bukankah kalian bertiga sekarang sudah menjadi ayah,” ujar Pak Danu.
“Sekali-sekali menjadi lajang kembali tidak masalah, kan?” Tanya Ilham.
“Iya, buktinya coach langsung mengiyakan sewaktu kami ajak pergi,” sambung Dafi menggerutu.
“Hehehe…,” ujar Pak Danu terkekeh.
“Huh, dasar coach!”, pekik Radit dan Karin.

Empat jam perjalanan mereka tempuh, dan akhirnya mereka semua sampai di depan rumah Setyo.

“Mereka datang! Mereka datang!” Seru seorang bocah.

Bapak Setyo dan para tetangga yang berkumpul di kediamannya bangkit berdiri, menyambut datangnya Riza beserta rombongan. Riza dan kedua orang tuanya berjalan di depan dengan Riza berada di tengah. Sementara Ilham, Dafi, Rudi, Pak Danu, Radit, dan juga Karin berjalan beriringan di belakang mereka sambil memegang banyak barang-barang. Bapak Setyo mempersilahkan rombongan Riza untuk masuk ke dalam rumah mereka.

“Kalian berdua kok bisa ikut?” Tanya Setyo pada Radit dan Karin.
“Nanti saja tanya-tanyanya, tanganku pegal nih!” Jawab Karin.
“Hahaha. Ayo masuk!” Ajak Setyo.

Pak Danu didapuk menjadi pembicara dari pihak Riza. Beliau memulai pembicaraan dengan berbasa-basi terlebih dahulu.

“Walau pun kami sekeluarga sudah tahu sebelumnya maksud dan tujuan Saudara-Saudari sekalian bertandang ke kediaman kami. Namun, alangkah baiknya untuk dapat dikatakan sekali,” ujar Bapak Setyo.
“Seperti yang Bapak-Bapak dan Ibu-Ibu sekalian ketahui, bahwa kehadiran kami sekeluarga ke kediaman Bapak tidak lain dan tidak bukan adalah untuk meminang putri semata wayang di keluarga ini untuk jagoan kami ini,” balas Pak Danu sambil menepuk bahu Radit.

Semua orang menahan napas. Pak Danu tersenyum.

“Coach, kok aku sih!” Pekik Radit.
“Oh maaf, bukan yang ini. Maksud saya jagoan kami yang ini,” ujar Pak Danu menepuk bahu Riza.

Semua orang kembali menghela napas. Ternyata Pak Danu hanya bercanda. Semua orang tertawa, Pak Danu berhasil mencairkan ketegangan dalam perbincangan itu.

“Tapi, kami tidak bisa mengambil keputusan sendiri, karena yang akan menjalaninya adalah putri kami seorang,” balas Bapak Setyo.
“Kalau boleh kami meminta, bolehkah sang putri itu dihadirkan ke tengah-tengah kita semua. Karena kami sudah tidak sabar untuk mengetahui jawabannya,” ujar Pak Danu.

Bapak Setyo menyuruh Setyo untuk memanggil Rini dan Ibunya agar keluar dari dalam kamar. Setyo bangkit berdiri, dia berjalan menuju kamar Rini. Setyo memanggil Rini untuk keluar dari kamarnya.

Jantung Riza berdetak dengan kencang, dia gugup menanti Rini yang berjalan keluar kamar. Dia penasaran, seperti apa penampilan Rini sekarang, sebab dia bertemu dengan Rini setahun sekali.

Rini muncul dari balik tirai kamarnya diiringi Setyo dan Ibu mereka. Riza terpana, Rini begitu cantik dan juga anggun. Baju gamis yang dibelikannya dan dititipkan pada Setyo tampak pas melekat di tubuh Rini.

Rini duduk di antara Bapak dan Ibunya. Dia masih menundukkan pandangannya. Semua mata tertuju padanya, menantikan jawaban yang akan diberikannya.

“Jadi, bagaimana dengan jawabanmu Ndo’?” Tanya Bapak Setyo.
“Mohon maaf, tetapi Rini belum bisa…,” jawab Rini.

Riza menghela napas. Air mukanya berubah kecewa.

“Belum bisa untuk menolaknya saat ini,” sambung Rini.

Riza terkejut. Dia tak menyangka Rini menerima lamarannya.

“Alhamdulillah…,” seru semua orang yang menyaksikan peristiwa itu.

Riza tersenyum sumbringah. Ibunya bangkit berdiri menghampiri Rini, lalu memasangkan sebuah cincin emas ke jari manis Rini. Riza hanya bisa tersenyum-senyum sendiri. Dia senang, dia bahagia.

Mudik 6: Wisata Keluarga

Setyo dan Riza mengajak kedua orang tua Setyo dan Rini untuk datang menyaksikan penampilan mereka berdua dalam acara amal. Mereka berlima pergi menggunakan bus. Rencananya mereka akan tampil malam hari, jadi mereka berangkat pagi-pagi sekali sehingga mereka berdua bisa mengajak kedua orang tua Setyo dan Rini jalan-jalan terlebih dahulu.

“Memangnya, kita mau kemana sih, Mas?” Tanya Rini.
“Tadi kan sudah Mas bilang mau jalan-jalan,” jawab Setyo.

Mereka berlima mengunjungi mall dan pusat-pusat perbelanjaan lainnya. Mereka juga mengunjungi mesjid agung dan tempat rekreasi keluarga lainnya.

Mereka makan siang dan beristirahat di tempat rekreasi keluarga yang mereka kunjungi. Riza memesan dua kamar ukuran besar. Riza dan Setyo ada di kamar yang terpisah dengan kedua orang tuanya dan Rini. Ponsel Setyo dan Riza berdering di saat yang bersamaan. Mereka berdua pun mengangkat panggilan masuk di telepon mereka.

“Kalian ada dimana?” Suara terpekik datang dari ponsel mereka masing-masing.

Mereka berdua tahu pasti bahwa hal itu akan terjadi. Ya, benar. Panggilan telepon itu datang dari Ilham dan Radit.

“Kami mudik kapten!” Jawab Setyo dan Radit.
“Kalau begitu coba jelaskan berita tentang kalian berdua akan tampil di acara amal di kota lain?” Pekik Ilham dan Radit kompak di telepon yang berbeda.
“Cuma acara amal kecil kok kapten. Kami tidak minta bayaran kok,” jawab mereka berdua.
“Baik, awas kalau kalian berdua berbuat yang aneh-aneh,” gerutu Ilham dan Radit lagi.
“Ai ai! Kapten!” Sahut mereka berdua.

Mereka berdua menutup telepon kemudian tertawa terkekeh.

Saatnya pertunjukan dimulai. Setyo dan Riza bersiap di belakang panggung. Acara tersebut diselenggarakan di sebuah kafe tempat berkumpul muda-mudi di kota itu. Lucky naik ke atas panggung lalu memanggil nama mereka berdua untuk tampil.

Setyo dan Radit naik ke atas panggung. Riza memegang sebuah gitar.

“Halo, selamat malam,” sapa Setyo.
“Malam hari ini kami berdua mengucapkan terima kasih kepada sahabat lama kami, Lucky, atas undangannya untuk tampil dalam acara ini,” sambung Riza.
“Baik, tanpa berbasa-basi lebih lanjut. Selamat menikmati penampilan kami,” ujar Setyo.

Riza memetik gitarnya, Setyo mulai bernyanyi. Pengunjung kafe bertepuk tangan, termasuk kedua orang tua Setyo dan Rini. Malam itu adalah pertama kalinya kedua orang tua Setyo menyaksikan putra semata wayang mereka bernyanyi di atas panggung. Dulu sewaktu kecil Setyo adalah anak yang sangat pemalu. Jangankan untuk tampil di atas panggung, untuk diambil fotonya saja dia malu.

Sesekali Riza melirik ke arah Rini. Beberapa kali mereka saling bertemu pandang, namun Rini langsung menundukkan pandangannya. Riza pun tersenyum setiap kali Rini menundukkan pandangannya. Sementara Setyo masih sibuk bernyanyi diiringi permainan gitar dari Riza.

Kini giliran Riza untuk bernyanyi sambil bermain gitar, sementara Setyo hanya melakukan harmonisasi suara mengiringi Riza yang tengah bernyanyi. Riza tak henti-henti memandang ke arah Rini dan kedua orang tua mereka. Kini dia yakin, Rini adalah seorang gadis yang patut untuk dirinya perjuangkan.

Malam semakin larut, Setyo dan Riza sudah bernyanyi sebanyak dua sesi. Tak kurang enam lagu telah mereka nyanyikan berdua. Mereka berhasil mengumpulkan lebih dari dua puluh lima juta dalam acara amal itu. Sebuah rekor yang fantastis untuk sebuah acara amal yang sederhana.

Keesokan paginya Setyo dan Riza mengantarkan kedua orang tua Setyo dan Rini ke terminal bus sebelum mereka berangkat ke stasiun kereta api. Mereka pun berpisah di sana. Ibu Setyo meminta Riza untuk sering datang berkunjung dan Riza pun mengiyakannya.

Mudik 5: Ini Lebaran, Baby! (extended)

Setyo, Riza, dan Bapak Setyo berjalan menuju bagian depan surau. Sementara Ibu Setyo menuju bagian belakang surau tempat shaf wanita berada. Takbir masih menggema lantang di langit. Kicau burung pipit pagi itu seperti turut memeriahkan datangnya bulan penuh kemenangan.

Setyo dan Riza duduk di shaf kedua dari depan. Sementara Bapak Setyo sibuk mengatur jemaah laki-laki yang baru sampai ke surau. Di dalam surau juga tampak beberapa orang yang datang untuk membayarkan zakat fitrah untuk dirinya dan keluarga.

Sholat sunnah Idul Fitri dimulai. Seluruh jemaah berdiri, mengangkat tangan sambil mengumandangkan takbir. Suara imam sholat Idul Fitri yang merdu menambah kekhusyukan sholat Idul Fitri yang tengah berlangsung.

Setyo dan Rini duduk bersimpuh di depan kedua orang tua mereka. Mengatupkan kedua tangan dan membenamkan wajah mereka dalam pangkuan kedua orang tua mereka. Mereka meminta ampun dan maaf pada kedua orang tua mereka. Tetesan air mata turut menyertai kata-kata yang diucapkan oleh Setyo pada kedua orang tuanya.

“Mas Riza sudah telepon Papa dan Mama Mas Riza, belum?” Tanya Setyo.
“Sudah,” jawab Riza.
“Oh, syukur deh,” ujar Setyo.
“Mas Tyo, Mas Riza, makanannya sudah siap!” Seru Rini dari meja makan.
“Asyik! Makan!” Seru Setyo seperti anak kecil.

Mereka berdua bergegas berjalan menuju meja makan. Lauk-pauk dan sayur-mayur sederhana telah dihidangkan di atas meja. Sebakul ketupat panas juga tampak menantang untuk disantap.

Rini menyendokkan beberapa irisan ketupat ke atas piring, menyiramnya dengan kuah sayur nangka, lalu menaburkan beberapa jumput bawang goreng ke atasnya. Setyo sudah tak sabar, dia langsung mengambil sendok dan mengambil suapan pertama.

“Hmm, lezat!” Ujar Setyo.
“Wah, ini kamu yang masak semua, Rin?” Tanya Riza.
“Enggak kok Mas. Bu’e yang masak. Rini cuma bantu-bantu sedikit,” jawab Rini merendah.

Bapak dan Ibu Setyo menyusul mereka bertiga ke meja makan. Setyo makan dengan lahap. Sudah lama dia tidak mencicipi ketupat sayur racikan Ibunya.

“Ayo Nak Riza, dicoba ketupat sayurnya. Maaf, lagi-lagi masakan sederhana,” ujar Ibu Setyo.
“Ah, ini justru lezat banget Bu’e. Wah, pantas saja Tyo makannya lahap begitu,” sahut Riza.
“Rin, tambah!” Ujar Setyo mengadahkan piringnya yang sudah bersih.

Suasana kekeluargaan begitu kental terasa di rumah Setyo. Meski rumahnya sangat kecil dan tidak bisa dibandingkan dengan rumah Riza, namun rumah kecil milik kedua orang tua Setyo terasa begitu hangat.

Para tetangga di sekitar rumah Setyo datang berkunjung. Saling bermaaf-maafan sebagai tradisi yang tak bisa dipisahkan dari Hari Raya Idul Fitri. Joko dan keluarganya juga turut berkunjung ke rumah Setyo. Ibu Joko menyerahkan semangkuk opor ayam buatannya sebagai buah tangan. Joko pun tersenyum-senyum sendiri saat Rini datang menyuguhkan minuman untuk keluarga Joko yang datang bertamu.

“Mas Riza, balikin HP Tyo!” Seru Tyo yang mengejar Riza.

Mereka bekejar-kejaran seperti kucing dan tikus karena Riza merebut ponsel milik Setyo. Tanpa sadar mereka berdua berlari ke ruang tamu lalu bertemu dengan keluarga Joko.

“Ini Setyo, ya?” Tanya Ibu Joko.

Riza dan Setyo terperanjat. Karena sudah terlanjur basah, Setyo pun menyapa keluarga Joko.

“Kalau yang di sebelahnya, siapa?” Tanya Bapak Joko.
“Oh, ini Mas Riza. Calonnya Rini,” jawab Setyo iseng.

Mata Joko terbelalak. Semua orang yang ada di ruang tamu terkejut mendengar jawab Setyo.

“Kamu ini bicara apa sih? Suasananya berubah jadi gak enak nih!” Bisik Riza menggerutu.
“Sudah, Mas tenang saja,” bisik Setyo.

“Mas lihat tadi ekspresi si Joko! Asli lucu banget!” Ujar Setyo tertawa.
“Tapi kan, kamu gak mesti bawa-bawa namaku juga,” ujar Riza kesal.
“Yakin nih, gak mau jadi ipar Tyo? Ya sudah, aku panggil Joko lagi nih!” Ujar Setyo.
“Hei tunggu dulu! Jangan dong!” Ujar Riza cepat.
“Hihihi. Seru kali ya, kalau bisa ipar-iparan dengan Mas Riza,” ujar Setyo.
“Memangnya, kenapa kamu mau iparan denganku?” Tanya Riza.

Setyo merebahkan tubuhnya ke atas tempat tidur. Dia menghela napas sambil menatap langit-langit kamarnya.

“Aku juga gak tahu sebabnya Mas. Cuma yang pasti, aku percaya pada Mas Riza,” ujar Setyo.

Riza pun ikut merebahkan tubuhnya di samping Setyo.

“Hihihi…,” Riza tertawa sendiri.

Mereka berdua masih menatap langit-langit kamar Setyo.

“Lusa kita ajak Bapak sama Ibu juga, ya. Biar ramai,” ujar Riza.
“Serius Mas?” Tanya Setyo.
“Iya, boleh. Ya, hitung-hitung ajak calon mertua jalan-jalan, kan?” Jawab Riza.
“Huh, dasar! Maunya!” Gerutu Setyo.

Mudik 4: Ini Lebaran, Baby!

Suara takbir menggema di langit. Memecah keheningan di langit subuh. Semenjak selepas sholat subuh disurau, Setyo dan Riza sibuk menjajal pakaian baru mereka yang telah sampai dari jasa pengiriman barang.

“Cocok gak Yo?” Tanya Riza.
“Cocok Mas. Keren,” jawab Setyo.
“Sudah yuk! Nanti Bapak dan Ibumu lama menunggu lagi,” ajak Riza.

Bapak dan Ibu Setyo telah siap di ruang tamu rumah. Bapak Setyo tak henti-hentinya memuji pakaian muslim baru yang dibelikan oleh Riza.

“Lihat Bu’e, baju koko Bapak. Apik tenan toh!” Ujar Bapak Setyo bangga.
“Iya, Pak. Baju gamis Bu’e juga. Cantik Pak!” Sahut Ibu Setyo bangga.
“Itu semua dari Setyo, Pak’e, Bu’e,” ujar Riza.
“Sungguh? Ya Allah, Pak’e bangga sama kamu Le…,” ujar Bapak Setyo.

Bapak Setyo memeluk putranya itu. Air mata sebagai wujud bangganya pun menetes. Suara takbir dari pengeras suara surau kembali terdengar. Mereka berempat bergegas berangkat ke surau untuk melaksanakan ibadah sholat Idul Fitri. Sementara Rini yang sedang tidak boleh sholat sibuk mempersiapkan hidangan khas Idul Fitri di dapur.

Mudik 3: Buk! Buk! Buk! Bedug

“Sahur… Sahur… Sahur…” suara para rombongan warga yang bertugas membangunkan warga lainnya untuk bangun sahur.

Tok tok tok. Suara ketukan dari luar pintu kamar Setyo dan Riza.

“Mas, Mas Tyo, ayo bangun sahur!” panggil Rini dari luar kamar.
“Iya, Rin. Sebentar.” sahut Setyo.

Setyo dan Riza keluar dari dalam kamar. Dengan wajah yang masih sangat mengantuk karena lelah sehabis perjalanan dua hari.

“Ayo Nak, sahur dulu.” ajak Ibu Setyo.

Ibu Setyo dan Rini sibuk menghidangkan santapan sahur di meja makan. Santapan sederhana khas masyarakat sekitar.

“Bapakmu mana, Yo?” tanya Riza.
“Biasanya sih Bapak ikut rombongan warga gerebek sahur. Sebentar lagi juga pasti balik.” jawab Setyo.
“Iya, kita mulai saja makan sahurnya, Nak Riza.” ujar Ibu Setyo.

Rini menyendokkan nasi, lauk-pauk, dan juga sayur-mayur ke atas piring untuk Setyo dan Riza. Walau pun hari masih gelap, namun paras ayu Rini kembali memikat pandangan Riza. Baru kali ini dirinya berjumpa dengan seorang gadis yang cantiknya alami seperti Rini.

“Ayo, segera dicicipi Nak Riza. Maaf, hanya masakan sederhana.” ujar Ibu Setyo mempersilahkan.
“Em… Ini enak banget Bu, asli!” ujar Riza yang makan dengan lahap.

Kukuruyuk!!! Kukuruyuk!!! Suara ayam jago peliharaan Bapak Setyo saling berkokok bersahutan. Suaranya sangat keras dan lantang. Hari itu adalah hari terakhir di bulan Ramadhan. Seluruh warga tengah bersiap untuk menyambut datangnya Hari Raya Idul Fitri. Tak terkecuali di rumah kedua orang tua Setyo.

Mereka sibuk membersihkan dan merapikan seisi rumah. Mulai dari menyapu dan mengepel seisi rumah, mengganti gorden dan taplak meja, hingga mengatur pajangan yang digantung di dinding. Benar-benar hari yang melelahkan.

“Assalamu’alaikum…” seru beberapa orang remaja mesjid dari luar rumah.
“Wa’alaikumsalam… Eh, ada anak-anak remaja mesjid. Ada perlu apa ya?” tanya Ibu Setyo.
“Rini ada, Bu’e?” tanya salah seorang remaja mesjid.
“Ada. Tunggu sebentar ya.” jawab Ibu Setyo.

Ibu Setyo masuk ke dalam rumah, lalu memanggil Rini untuk keluar menemui para remaja mesjid. Riza yang tengah membantu merapikan vas bunga pun mencuri dengar pembicaraan antara Rini dan para remaja mesjid yang datang.

“Ada apa?” tanya Rini.
“Ayo Ko, cepat katakan!” desak para remaja mesjid pada Joko.
“Em… Begini Rin, nanti malam mau kan ikut kami takbiran keliling?” tanya Joko malu-malu.
“Takbiran keliling?” tanya Rini balik.
“Iya, takbiran keliling, bareng kami.” jawab Joko.
“Hmm… Oke deh! Tapi aku ajak Mas Tyo dan temannya juga ya.” ujar Rini.
“Serius? Oh, iya. Tenang saja. Semakin ramai semakin bagus.” kata Joko.

Para remaja mesjid pun pergi, mereka saling menyindir pelan pada Joko yang menjadi salah tingkah setelah berbincang dengan Rini. Rini kembali masuk ke dalam rumah.

“Siapa yang datang tadi, Rin?” tanya Setyo.
“Oh, itu tadi para remaja mesjid. Mereka mengajak Rini ikut takbiran keliling. Mas Tyo dan Mas Riza ikut ya!” jawab Rini.
“Bagaimana Mas Riza? Mau ikut?” tanya Setyo.
“Hmm… Boleh.” jawab Riza.
“Ya, sudah. Kami ikut. Oh, ya. Ngomong-ngomong, Joko sepertinya naksir kamu tuh Rin.” ujar Setyo menyindir.
“Ih, Mas bicara apa sih?” tanya Rini.
“Ayolah! Kamu naksir Joko juga, kan?” tanya Setyo lagi.
“Kami cuma berteman saja.” jawab Rini.
“Hmm… Kalau sama Mas Riza? Kamu mau, tidak?” tanya Setyo berbisik.
“Ah, Mas Setyo mulai ngaco nih. Sudah ah, Rini mau bantu Bu’e masak di dapur lagi.” jawab Rini menggerutu.

Allahu Akbar! Allahu Akbar! Allahu Akbar! Suara takbir berkumandang dimana-mana. Suaranya seakan memecah ke seluruh isi alam. Langit malam yang gelap seolah turut bertakbir menyambut datangnya bulan penuh kemenangan. Sehabis sholat Isya berjamaah di surau, para remaja mesjid bersiap untuk pergi takbiran keliling. Mereka menaikkan dua buah bedug berukuran besar ke atas bak dua mobil pick up.

Setyo, Riza, Rini, serta dua orang remaja mesjid perempuan turut naik ke atas pick up pertama. Sementara Joko dan empat orang remaja mesjid lain berada di mobil pick up kedua. Beberapa remaja mesjid lainnya juga ikut mengiringi kedua mobil pick up itu dari belakang menggunakan sepeda motor.

Kedua mobil pick itu berjalan beriringan. Joko sudah siap menunjukkan kemampuannya memukul bedug kepada Rini. Tretek! Tek! Tek! Buk! Buk! Buk! Joko mulai memukul bedug dan memainkannya sesuai irama takbir dari Parmin yang berdiri sambil bertakbir di sebelahnya. Joko memukul dengan keras bedug itu hingga terdengar sampai ke mobil pick up yang dinaiki Rini.

Aroma persaingan mulai terasa saat Riza mulai mengambil ancang-ancang untuk memukul bedug. Selain ahli dalam olah vokal, Riza juga ahli dalam memainkan drum. Dia pikir kalau drum dan bedug tak akan jauh berbeda. Buk! Buk! Buk! Riza memukul keras bedug di hadapannya tiga kali. Setelah terbiasa dengan ukuran pukulan bedug yang cukup besar, Riza pun memukul bedug tersebut dengan irama yang teratur. Riza yang tengah bersaing dengan Joko memberikan isyarat pada Setyo untuk bangkit berdiri. Setyo bangkit berdiri, dia pun mulai mengumandangkan takbir dengan iringan suara bedug yang ditabuh oleh Riza.

Riza dan Setyo langsung mencuri perhatian para remaja mesjid yang perempuan. Suara Setyo yang merdu, diiringi tabuhan bedug dari Riza terasa sejuk di hati. Dua remaja mesjid perempuan yang ada di samping Rini pun saling berbisik pada Rini, menanyakan apakah Setyo ataupun Riza sudah punya pacar atau belum. Mereka berdua semakin tertarik pada Setyo dan Riza setelah mengetahui kalau Setyo dan Riza mengambil kuliah kedokteran.

Malam semakin larut. Namun suasana jalan raya di kota tempat tinggal Rini justru semakin ramai. Kendaraan bermotor penuh sesak di jalan. Sama seperti yang dilakukan oleh Setyo, Riza, Rini, serta para remaja mesjid. Semua tengah turun ke jalan, melakukan tradisi takbiran keliling. Persaingan semakin kental di antara Joko dan Riza. Mereka berdua terus-menerus menabuh bedug tanpa henti. Meski kedua mobil pick up yang mereka naiki tengah terjebak kemacetan, Riza dan Joko masih terus menabuh bedug di hadapan mereka masing-masing.

Malam mencapai puncaknya. Jalan raya yang semula dipadati oleh kendaraan bermotor perlahan-lahan mulai lengang. Akhirnya kedua mobil pick up yang mereka naiki dapat terbebas dari kemacetan. Para remaja mesjid yang mengendarai sepeda motor pun kembali mengiringi dua mobil pick up yang berjalan di depan.

Setyo kembali mengumandangkan takbir setelah beberapa menit beristirahat dan minum air mineral. Setyo lagi-lagi memikat hati para gadis remaja mesjid dengan suaranya. Sementara Riza memikat perhatian mereka melalui tabuhan bedug yang keras dan lantang.

Setyo, Riza, dan Rini berjalan beriringan pulang selepas mengembalikan bedug yang mereka bawa ke surau. Tiba-tiba Joko datang menghampiri mereka bertiga sendirian dari belakang. Joko menjabat tangan Riza dan mengatakan padanya kalau tabuhan bedug Riza sungguh bagus. Joko tak henti-hentinya memuji permainan bedug Riza sepanjang jalan. Meninggalkan Setyo dan Rini yang berjalan berdua di belakang mereka.

“Hmm, Mas Tyo. Rini boleh tanya sesuatu, enggak?” tanya Rini.
“Boleh.” jawab Setyo.
“Mas Riza sudah punya pacar atau belum, sih?” tanya Rini.
“Setahu Mas belum. Kenapa?” tanya Setyo balik.
“Ah… Anu… Tadi remaja mesjid yang putri pada titip pertanyaan.” jawab Rini malu-malu.

Wajah Rini memerah. Dia mempercepat langkahnya. Rini meninggalkan Setyo, Riza, dan Joko di belakangnya. Sesampainya di rumah, Rini langsung masuk ke dalam kamar, duduk di depan meja rias di kamarnya. Dia tersipu malu melihat bayangan wajahnya di cermin.

Mudik 2: Setyo Pulang Kampung

Satu jam perjalanan menggunakan bus Setyo dan Riza tempuh. Langit senja yang kemerahan pun kini menjadi gelap malam bertaburkan bintang-bintang. Bus kota antar kota yang mereka tumpangi hanya mengantarkan mereka sampai di terminal di tengah kota. Masih membutuhkan waktu sekitar setengah jam menggunakan becak untuk sampai ke rumah Setyo.

“Rumah orang tuamu jauh juga ya.”, ujar Riza sambil menghela napas di atas becak.
“Hahaha. Itulah kenapa Tyo gak dikasih pulang sama Bapak dan Ibu Mas. Jauh soalnya”, ujar Setyo.
“Terus kamu gak rindu gitu sama Bapak dan Ibumu?”, tanya Riza.
“Ya rindu sih rindu Mas. Tapi ya mau bagaimana lagi, sekolah saja dulu Tyo dibiayai keluarga Richard. Itu juga karena dulu Bapak sama Ibu kerja di rumah mereka. Mereka pindah terpaksa Tyo ikut mereka. Sisa ceritanya kan Mas sudah tahu.”, jawab Setyo.

Semilir angin malam kembali menerpa tubuh mereka berdua.

“Dingin ya Mas?”, tanya Setyo.
“Iya nih. Sepertinya mau hujan.”, jawab Riza.

Tukang becak yang mereka berdua naiki mengayuh pedal becaknya sedikit lebih cepat. Rintik-rintik air hujan pun mulai jatuh dari langit. Namun mereka berdua beruntung, sebelum hujan turun dengan deras dan membasahi bumi, mereka telah sampai di luar pagar rumah Setyo. Suara kumandang bilal sholat tarawih malam terakhir dari pengeras suara masjid masih terdengar jelas di telinga mereka. Rumah-rumah tetangga di sekitar rumah orang tua Setyo tampak sepi. Jalanan yang memisahkan rumah-rumah warga juga tampak kosong.

Riza membayar ongkos becak yang mereka naiki. Mereka berdua pun berjalan memasuki pekarangan rumah. Pintu rumah Setyo tertutup. Sayup-sayup terdengar suara televisi dari dalam rumah.

“Assalamu’alaikum.”, seru Setyo dan Riza.

Mereka menunggu dari luar rumah. Tak ada orang yang menyahut.

“Mungkin semua orang di rumah sedang ke mesjid.”, ujar Riza.
“Wa’alaikumsalam…”, sahut seseorang dari dalam rumah tiba-tiba.
“Rini!!!”, seru Setyo.
“Mas Tyo!!!”, seru Rini langsung mencium tangan Setyo lalu memeluknya.

Tangisan Rini pun pecah. Kakak laki-laki yang selama bertahun-tahun tidak pulang demi menuntut ilmu yang lebih baik kini tengah berada di dalam pelukannya.

“Kamu sudah besar toh Dek… Cantik lagi…”, ujar Setyo yang juga mulai menitikan air mata.

Suasana haru langsung menyelimuti kedua kakak adik tersebut. Riza hanya bisa tersenyum bisu melihat keharuan tersebut.

“Pak’e sama Bu’e kemana Rin?”, tanya Setyo.
“Pak’e sama Bu’e masih di surau Mas. Rini lagi gak sholat jadi di rumah saja.”, jawab Rini menyeka air matanya.

Rini menyeka air matanya yang menetes. Setyo pun mengusap rambut adik satu-satunya itu.

“Astaghfirullah… Mas sama temannya belum aku persilahkan masuk. Ayo Mas mari masuk.”, ujar Rini.

Setyo mengajak Riza untuk masuk. Rumah orang tua Setyo adalah warisan dari Kakek Setyo yang ditinggalkan untuk anaknya satu-satunya yaitu Bapaknya Setyo. Rumah yang asri terbuat dari potongan-potongan kayu jati yang jauh dari kesan mewah. Hanya sebuah rumah di pinggiran kota yang hawanya masih sejuk.

“Monggo Mas, silahkan duduk. Sebentar saya ke belakang dulu mau buat minuman.”, ujar Rini.
“Aduh, gak usah repot-repot Mbak.”, ujar Riza.
“Oalah gak ngerepotin kok. Tunggu sebentar ya.”, ujar Rini.

Riza tak dapat melepaskan pandangannya dari Rini. Wajah ayu nan cantiknya memukau Riza pada pandangan pertama. Riza terdiam terduduk memandangi Rini yang berjalan menghilang menuju dapur.

“Mas… Mas Riza…”, panggil Setyo.
“Ah, iya… Apa Yo?”, sahut Riza tersadar.
“Kok jadi melamun sih.”, gerutu Setyo.
“Ah enggak. Adikmu cantik ya.”, ujar Riza kemudian tertawa cengengesan.
“Sampean jangan macam-macam yo Mas. Dia iku adikku.”, ujar Setyo dengan logat jawanya yang kumat.
“Hahaha… Kamu gak pernah cerita sih punya adik cakep begitu.”, ujar Riza.
“Huh… Dasar.”, gerutu Setyo.

Riza memperhatikan sekeliling ruang tamu rumah Setyo. Dia pun mencoba menerka-nerka luas rumah itu dalam pikirannya. Tak lama terdengar banyak langkah kaki manusia dari luar rumah. Jemaah sholat tarawih yang ada di surau telah kembali ke rumah masing-masing. Kemudian samar-samar terdengar suara sepasang pria dan wanita yang berbincang mendekat ke arah pintu rumah.

“Assalamu’alaikum…”, sapa kedua orang tersebut.
“Wa’alaikumsalam… Pak’e, Bu’e!!!”, sahut Setyo yang langsung melompat menghampiri kedua orang tuanya.

Setyo langsung mencium kedua kaki bapak dan ibunya. Kedua orang tua Setyo langsung banjir air mata melihat putra sulung mereka yang sudah beberapa tahun berpisah dengan mereka kini ada di hadapan mereka.

“Le… Kamu pulang Le…”, kata Ibu Setyo.
“Iya Bu’e Tyo pulang…”, jawab Setyo.

Riza tak mau mengganggu keharuan yang tengah terjalin antara anak dan kedua orang tuanya itu. Biarlah mereka bertiga melepaskan rasa rindu yang sudah bertahun-tahun mereka pendam. Rini kembali dari dapur membawa sebuah nampan yang berisi dua gelas teh hangat. Rini meletakkan dua gelas minuman itu di atas meja lalu mengizinkan Riza untuk minum. Sementara Setyo masih tenggelam dalam pelukan kedua orang tuanya.

Mudik 1: Bertemu Lucky

“Yeiiii, mudik!!!”, teriak Setyo saat menapakkan kaki di depan stasiun kereta api.
“Tyo, ayo buruan!!!”, seru Riza.
“Sebentar Mas, berat nih!”, sahut Setyo menyandang tas bawaannya.

Setyo sudah tak sabar bertemu dengan kedua orang tuanya. Sudah dua tahun dia tidak pulang kampung karena urusan sekolah dan kuliah kedokterannya. Sementara Riza ikut bersama Setyo atas tawarannya untuk menghabiskan libur lebaran di rumah orang tuanya.

“Kenapa juga aku harus ikut denganmu?”, gerutu Riza di dalam kereta.
“Mas Riza kan sendirian di rumah, mending ikut aku toh.”, jawab Setyo.

Benar, tahun ini pun kedua orang tua Riza tidak bisa pulang ke Indonesia. Riza tak punya alasan untuk menolaknya, lagi pula Riza pernah tinggal di kota tempat tinggal kedua orang tua Setyo selama beberapa tahun.

“Memangnya kita tidak bisa naik pesawat apa?”, tanya Riza.
“Musim mudik lebaran begini sulit dapati tiket Mas. Kita bisa dapat tiket kereta pulang pergi saja sudah syukur.”, jawab Setyo.
“Ya sudahlah. Mau bilang apa lagi.”, ujar Riza mendesah.

Ponsel Riza berdering dari dalam saku celananya. Riza segera merogoh ponsel dalam celananya dan menjawab panggilan yang masuk itu.

“Halo.”, sapa Riza.
“Halo. Za, kamu dimana?”, tanya Dafi.
“Di kereta, bareng Setyo.”, jawab Riza.
“Mau kemana?”, tanya Dafi lagi.
“Mudik ke rumah Tyo. Lebih tepatnya sih dipaksa mudik bareng Tyo.”, jawab Riza.
“Oh begitu, padahal aku mau main ke rumahmu. Ya sudah, have fun ya!”, ujar Dafi.

Riza menutup panggilan teleponnya.

“Siapa Mas?”, tanya Setyo.
“Dafi.”, jawab Riza.
“Ooohh… Pasti mau main ke rumah.”, ujar Setyo.
“Iya.”, sahut Riza.

Selama tujuh jam perjalanan mereka habiskan di dalam kereta api. Kebanyakan mereka habiskan dengan mengobrol tentang masalah akademis mereka. Terlebih karena mereka berdua sama-sama mengambil kuliah kedokteran. Sampai mereka di stasiun tujuan, hari pun telah gelap gulita. Namun kondisi stasiun masih ramai dengan para penumpang kereta yang baru saja turun dari kereta, termasuk Setyo dan Riza.

Selepas dari stasiun mereka berdua harus mencari kendaraan umum untuk sampai ke kota tempat orang tua Setyo tinggal. Namun sialnya hujan tiba-tiba turun dengan derasnya. Memaksa mereka berdua untuk bertahan di peron stasiun menunggu hujan reda.

Semakin larut semakin deras hujan yang turun. Udara dingin semakin menyeruak. Setyo merasa kedinginan. Apalagi ketika angin kencang berhembus menerpa dirinya.

“Nih minum biar hangat.”, ujar Riza.

Riza menyodorkan segelas bandrek hangat yang dibelinya dari penjual minuman yang banyak hilir mudik di peron stasiun. Setyo menerimanya dan meminumnya.

“Sepertinya kita harus bermalam di stasiun. Hujannya semakin deras.”, ujar Riza.
“Sepertinya begitu Mas.”, ujar Setyo.

Malam hujan badai itu akhirnya berlalu. Matahari bersinar cerah di pagi hari. Jejak-jejak hujan badai pada malam hari hanya tinggal genangan air di pinggir jalan. Setyo dan Radit yang tengah berpuasa menghabiskan pagi mereka berjalan-jalan di kota itu, padahal perjalanan mereka belum berakhir karena mereka harus naik bus dan menempuh perjalanan sekitar satu setengah jam untuk sampai ke rumah orang tua Setyo.

“Pagi-pagi begini kenapa kita malah pergi ke mall sih Mas?”, tanya Setyo.
“Mana mungkin aku berkunjung ke rumah orang tuamu tanpa membawa buah tangan apa pun.”, jawab Riza.
“Tidak usah Mas. Merepotkan Mas saja.”, ujar Setyo.
“Ah, kamu seperti orang lain saja.”, kata Riza.

Riza membeli beberapa baju koko dan gamis untuk orang tua Setyo. Tak lupa beberapa toples kue kering dan satu lusin sirup untuk cemilan selama lebaran. Riza meminta toples-toples kue kering itu dikemas ke dalam kardus bersama botol-botol sirup yang dibelinya. Dia mengirimkan kardus berisi kue dan sirup tersebut melalui jasa ekspedisi. Sehingga mereka berdua tidak perlu repot membawa semuanya dalam perjalanan di bus.

“Riza?”, sapa seorang pemuda dari belakang mereka.
“Lucky?!”, sahut Riza.
“Kamu apa kabar? Lho? Ada Tyo juga?”, tanya Lucky pada mereka berdua.
“Kami berdua sehat. Kamu sendiri bagaimana kabarnya?”, tanya Riza balik.
“Aku sehat. Wah, sudah lama ya kita tidak bertemu.”, jawab Lucky.

Lucky menjabat tangan Riza dan Setyo. Dia mengumbar senyuman di wajahnya.

“Kalian berdua sedang apa di sini?”, tanya Lucky.
“Kami hanya singgah. Sebenarnya kami sedang dalam perjalanan ke rumah orang tua Setyo. Tapi tadi malam kami terjebak hujan. Jadi bermalam di stasiun deh.”, jawab Riza.
“Oh ya, berhubung aku bertemu kalian berdua di sini. Aku ingin minta bantuan kalian berdua.”, ujar Lucky.

Lucky mengutarakan keinginannya pada Riza dan Setyo. Dia meminta mereka dua untuk ikut tampil dalam acara amal yang dia rencanakan di panti asuhan. Setyo dan Riza saling beradu pandang.

“Tentu saja!”, seru mereka berdua.
“Kalau masalah seperti itu tidak perlu kamu tanyakan dua kali. Tentu saja akan kami bantu.”, ujar Riza.
“Iya, Kak Lucky tenang saja. Kami pasti akan tampil di acara itu.”, sambung Setyo.
“Bagus! Teman-teman yang lain pasti akan senang mendengarnya!”, seru Lucky.

Tips Ngaco & Ngawur: Cara Menjaga Puasa

Berhubung tema #NulisSetiapHari di minggu pertamanya adalah Ramadhan, kali ini saya (cieee saya) akan berbagi dua tips ngaco dan ngawur cara menjaga ibadah puasa Ramadhan kita. Cekidot people!

1. Jauhi yang namanya warung jajanan atau warung makanan di depan gang di siang hari. Meskipun ada tirai-tirai manja yang menutupi tampilan warung jajanan atau warung makanan tersebut dari luar, tapi tetap saja hidung kita bisa mencium aroma-aroma sedap yang berasal dari warung tersebut.

2. Jauhi kolam renang umum bagi yang sedang berpuasa. Ya iyalah, nenek-nenek keriput juga tahu kalau berenang selama berpuasa berpotensi besar membatalkan puasa. Bukan hanya karena air yang terminum lewat mulut, pemandangan cewek-cewek berbaju renang atau cowok-cowok bercelana renang juga berpotensi memancing godaan-godaan syahwat yang dapat mengurangi pahala berpuasa.

NB: Kedua tips di atas hanya bertujuan sekedar untuk hiburan semata. Tidak dianjurkan untuk ditiru apalagi diterapkan karena belum diuji keakuratan dan keberhasilannya. Hyohohoho. Namanya juga tips ngaco dan ngawur.

xoxo,
Muhammad Solihin