rumah

Lebaran 2: Beres-Beres Rumah

Sapu sana, sapu sini, pel sana, pel sini. Itulah kegiatan Ilham dua hari menjelang Hari Raya Idul Fitri. Dia mengenakan celana pendek selutut serta mengikatkan handuk kecil ke kepalanya sambil memegang gagang pel di tangannya. Setelah lantai yang dipelnya mengering dia mengelap debu yang menempel seluruh benda di dalam rumah lalu menata ulang perabotan di rumah itu. Dia benar-benar sibuk saat itu. Sudah empat tahun terakhir dia merayakan hari penuh kemenangan dalam kesendirian.

“Huh, akhirnya selesai juga. Selanjutnya bersih-bersih peralatan memasak dan peralatan makan,” ujarnya dalam hati.

Satu per satu peralatan memasak dan peralatan makan di rumah yang telah kotor atau berdebu dia cuci. Kemudian dia tiriskan di atas rak masing-masing peralatan. Ilham yang lelah seharian membersihkan rumah kini merebahkan diri di atas tempat tidurnya.

Ya, begitulah kehidupan Ilham semenjak Ibundanya wafat saat dia masih SMA. Kehidupannya langsung berubah seratus delapan puluh derajat. Semenjak saat itu dia harus bekerja keras dalam memenuhi segala kebutuhannya, terutama dalam bidang pendidikan. Maklum saja, semasa hidup Ibu Ilham hanya bekerja sebagai buruh di pabrik yang gajinya pas-pasan. Semasa Ibunya masih hidup, Ilham juga sudah bekerja paruh waktu meski sebagai pengantar koran atau menata halaman rumah orang lain. Belum lagi dia harus membagi waktunya untuk menjadi Kapten di Serenity. Ibu Ilham selalu berpesan kepadanya untuk menggapai ilmu setinggi-tingginya.

“Akhirnya selesai juga,” ujar Ilham sambil merebahkan dirinya ke atas kursi.

Rumah sederhana berukuran kecil peninggalan Ibunya itu kini telah rapi dan bersih. Ilham menghela napas panjang, mencoba menghimpun kembali tenaganya yang telah terkuras. Belum lagi karena dirinya tengah berpuasa.

Ponsel Ilham berdering, ada panggilan masuk dari Dafi. Ilham pun menjawab panggilan masuk di ponselnya itu.

“Halo,” sapa Ilham.
“Halo, Kapten. Kapten dimana?” Tanya Dafi.
“Di rumah. Kenapa?” Tanya Ilham balik.
“Hmm, kami sekeluarga mau berangkat mudik. Kapten yakin mau lebaran sendirian? Ikut keluarga kami saja, yuk!” Jawab Dafi.
“Iya, sudah kamu berangkat saja. Aku tidak apa-apa kok. Lagi pula, aku tidak mungkin mengganggu acara keluarga besarmu, kan?” Ujar Ilham.
“Tapi Kapten…,” ujar Dafi tertahan.
“Sudah, tidak ada tapi-tapi lagi. Sekarang kamu berangkat, hati-hati di jalan. Jangan ngebut,” kata Ilham.

Ilham pun mengakhiri panggilan masuk di ponselnya. Dia melihat jam di dinding rumahnya telah menunjukkan pukul setengah lima sore. Saat baginya untuk mempersiapkan hidangan untuk berbuka puasa. Belum sempat dirinya mencuci bahan-bahan makanan yang baru saja dikeluarkan dari dalam kulkas, Rudi pun meneleponnya.

“Halo Kapten,” sapa Rudi.
“Halo. Ada apa Rud?” Tanya Ilham.
“Kapten lagi dimana?” Tanya Rudi balik.
“Di rumah. Kenapa memangnya?” Tanya Ilham lagi.
“Ikut aku mudik yuk!”, ajak Rudi.

Ilham menghela napasnya.

“Kamu berangkat saja. Tidak usah mengkhawatirkan diriku. Aku baik-baik saja kok,” ujar Ilham menolak.
“Tapi kan Kapten…,” ujar Rudi tertahan.

Belum sempat Rudi menyelesaikan perkataannya, Ilham sudah menutup teleponnya. Ilham kembali melanjutkan prosesi masak-memasaknya di dapur.

“Hmm, sampai dimana aku tadi?” Tanya Ilham pada dirinya sendiri.

Ilham mencuci bersih sayuran dan buah-buahan yang dia ambil dari dalam kulkas, kemudian memotong-motong sayuran dan buah-buahan tersebut. Lalu dia memasukkan buah-buahan tadi ke dalam blender lalu menghancurkannya hingga menjadi jus.

Ponsel Ilham kembali berdering. Kali ini panggilan masuk di ponselnya datangnya dari Riza.

“Halo Za,” sapa Ilham.
“Kapten, ikut aku dan Setyo mudik yuk!” Ajak Riza.
“Hedeh… Riza, aktifkan pengeras suara ponselmu. Sekarang!” Seru Ilham.

Riza menelan ludah, dia ketakutan. Riza pun menekan tombol untuk mengalihkan suara panggilan teleponnya ke pengeras suara ponselnya.

“Dafi, Rudi, Riza, Tiwi, Via, dan Nanda, aku tahu kalian bertujuh ada di situ. Berhenti mencemaskanku dan segera berangkat mudik!” Seru Ilham dengan nada kesal.
“Ai! Ai! Kapten!” Sahut mereka bertujuh.

Ilham menutup panggilan masuknya. Kemudian kembali menghela napas panjang.

“Huh… Sampai dimana aku tadi?” Tanya Ilham pada dirinya sendiri.

Tok tok tok… Suara ketukan dari pintu rumah Ilham. Tok tok tok… Suara ketukan di pintu kembali terdengar. Ilham pun mengecilkan api di kompor lalu bergegas membukakan pintu.

“Hihihi…,” Nikki tersenyum lebar saat Ilham membukakan pintu.
“Kamu ada apa datang ke sini?” Tanya Ilham sambil menepuk dahi.
“Ayah dan Ibuku sedang pergi. Aku ditinggal sendiri di rumah, tidak ada makanan untuk berbuka puasa, jadi aku ke sini deh. Hihihi…,” jawab Nikki.
“Hedeh… Ya sudah, ayo masuk!” Ujar Ilham mengajak masuk.

Ilham kembali memasak di dapur dengan Nikki yang membantunya. Walau Nikki hanya membantu mengupas bawang saja.

Tok tok tok… Suara ketukan di pintu kembali terdengar. Ilham bergegas menghampiri pintu masuk rumahnya.

“Kapten…,” sapa Satria sang Maroon Captain dengan suara terisak.
“Hedeh, biar ku tebak. Lagi-lagi kamu kalah taruhan, kan?” Tanya Ilham.

Satria mengangguk. Ilham kembali menghela napas sambil menepuk dahinya.

“Ya sudah, ayo masuk! Nikki juga ada di dalam,” ajak Ilham.
“Hmm, baunya sedap. Kapten sedang masak, ya?” Tanya Satria.
“Iya, kamu duduk saja dulu di kursi itu,” jawab Ilham.

Masakan yang dimasak Ilham sejak tadi akhirnya matang. Dia mematikan kompor yang menyala lalu menuangkan masakan-masakan yang dia masak ke piring.

Tok tok tok… Suara pintu rumah Ilham yang kembali diketuk. Dengan langkah malas Ilham berjalan menuju pintu rumahnya.

“Kapten…,” sapa Angga, Radit, dan Sakti.
“Masuk,” seru Ilham.

Ilham mempersilahkan ketiga juniornya itu untuk turut masuk ke dalam rumahnya.

“Sekarang tinggal menunggu Yakub dan Tristan,” ujar Ilham.
“Kapten kok bisa yakin begitu? Hihihi,” tanya Nikki sambil tertawa kecil.
“Tentu saja yakin, biasanya kalau kalian berempat sudah ada di sini, pasangan kakak beradik lain ayah lain ibu itu pasti juga datang,” jawab Ilham menggerutu.

Tok tok tok… Suara ketukan lagi dari pintu rumah Ilham. Ilham pun membuka pintu rumahnya dengan segera.

“Kapten!!!”, teriak Yakub sang Yellow Captain.
“Cepat masuk! Sudah mau buka puasa,” kata Ilham.

Tristan sang Pink Captain yang pemalu pun mengikuti langkah Ilham dan Yakub yang masuk terlebih dahulu. Pada akhirnya rumah yang semula sudah rapi tertata, kini kembali berantakan. Ilham hanya bisa menghela napas panjang, dan malam itu dia harus kembali beres-beres rumah.