Serenity

Menunggu Antrian

Beberapa hari yang lalu, saya telah mengirimkan naskah novel saya yang kedua untuk masuk ke dalam daftar antrian editing naskah oleh penerbit. Semoga saja antriannya tidak terlalu panjang agar naskah saya segera terbit menjadi novel. Oh ya, naskah tersebut merupakan novel kedua dalam Serenity Series setelah sebelumnya terbit novel berjudul “Purple Team”.

xoxo,
Muhammad Solihin

Lebaran 3: Idul Fitri Untuk Ilham

Allahu Akbar… Allahu Akbar… Allahu Akbar… Laa Ilaha Illallahu Allahu Akbar… Allahu Akbar Walillahilhamd… Takbir bergema di langit seantero alam, menyambut datangnya bulan penuh kemenangan. Seluruh umat Islam telah mempersiapkan diri sejak subuh hari untuk pergi ke mesjid untuk menunaikan sholat Idul Fitri berjemaah. Tidak terkecuali untuk Ilham, Ilham menutup pintu rumahnya, menguncinya, lalu berangkat menuju mesjid.

Mesjid yang Ilham datang sudah ramai akan jemaah yang juga ingin menunaikan ibadah sholat Idul Fitri. Sambil menunggu sholat dimulai, mereka memanjatkan takbir hingga menggema ke segala penjuru.

Ketua Badan Kenaziran Mesjid berpidato tentang jumlah zakat fitrah yang diterima oleh panitia penerimaan zakat fitrah, lalu menjelaskan tata cara pelaksanaan sholat Idul Fitri pada pagi hari itu.

Sholat Idul Fitri pun dimulai. Seluruh jemaah sholat Idul Fitri bangkit berdiri, mengangkat tangan melakukan takbiratul ihram, dan tenggelam dalam ibadah yang khusyuk. Suara lantunan ayat-ayat suci Al-Quran dari sang imam pun tak pelak membuat beberapa orang jemaah menjadi sesenggukan menahan air mata.

Selepas sholat Idul Fitri berjemaah, seluruh jemaah saling berjabat tangan sambil bermaaf-maafan. Tidak jarang mereka saling berpelukan sambil menitikan air mata. Ilham berjalan keluar dari dalam mesjid. Dia melihat banyak keluarga yang berjalan beriringan, saling bersenda gurau sepanjang jalan pulang. Ilham hanya bisa tersenyum kecil melihat pemandangan indah itu.

Ilham terus berjalan, dia tidak langsung pulang ke rumah. Dia berjalan menuju sebuah taman pemakaman umum. Di depan makam Ibunya dia memanjatkan doa dan beberapa surat pendek Al-Qur’an. Dia menyeka air matanya yang mengalir dengan derasnya.

Kini dia menjalani hari-hari raya seorang diri. Tidak ada lagi sosok Ibu yang menemaninya dan menjadi tempatnya bersimpuh di hari kemenangan itu. Cukup lama dirinya berada di depan makam Ibunya. Hingga ponselnya berdering membuyarkan lamunannya. Ilham bangkit berdiri dan berjalan meninggalkan makam Ibunya sambil menjawab panggilan di ponselnya.

Lebaran 2: Beres-Beres Rumah

Sapu sana, sapu sini, pel sana, pel sini. Itulah kegiatan Ilham dua hari menjelang Hari Raya Idul Fitri. Dia mengenakan celana pendek selutut serta mengikatkan handuk kecil ke kepalanya sambil memegang gagang pel di tangannya. Setelah lantai yang dipelnya mengering dia mengelap debu yang menempel seluruh benda di dalam rumah lalu menata ulang perabotan di rumah itu. Dia benar-benar sibuk saat itu. Sudah empat tahun terakhir dia merayakan hari penuh kemenangan dalam kesendirian.

“Huh, akhirnya selesai juga. Selanjutnya bersih-bersih peralatan memasak dan peralatan makan,” ujarnya dalam hati.

Satu per satu peralatan memasak dan peralatan makan di rumah yang telah kotor atau berdebu dia cuci. Kemudian dia tiriskan di atas rak masing-masing peralatan. Ilham yang lelah seharian membersihkan rumah kini merebahkan diri di atas tempat tidurnya.

Ya, begitulah kehidupan Ilham semenjak Ibundanya wafat saat dia masih SMA. Kehidupannya langsung berubah seratus delapan puluh derajat. Semenjak saat itu dia harus bekerja keras dalam memenuhi segala kebutuhannya, terutama dalam bidang pendidikan. Maklum saja, semasa hidup Ibu Ilham hanya bekerja sebagai buruh di pabrik yang gajinya pas-pasan. Semasa Ibunya masih hidup, Ilham juga sudah bekerja paruh waktu meski sebagai pengantar koran atau menata halaman rumah orang lain. Belum lagi dia harus membagi waktunya untuk menjadi Kapten di Serenity. Ibu Ilham selalu berpesan kepadanya untuk menggapai ilmu setinggi-tingginya.

“Akhirnya selesai juga,” ujar Ilham sambil merebahkan dirinya ke atas kursi.

Rumah sederhana berukuran kecil peninggalan Ibunya itu kini telah rapi dan bersih. Ilham menghela napas panjang, mencoba menghimpun kembali tenaganya yang telah terkuras. Belum lagi karena dirinya tengah berpuasa.

Ponsel Ilham berdering, ada panggilan masuk dari Dafi. Ilham pun menjawab panggilan masuk di ponselnya itu.

“Halo,” sapa Ilham.
“Halo, Kapten. Kapten dimana?” Tanya Dafi.
“Di rumah. Kenapa?” Tanya Ilham balik.
“Hmm, kami sekeluarga mau berangkat mudik. Kapten yakin mau lebaran sendirian? Ikut keluarga kami saja, yuk!” Jawab Dafi.
“Iya, sudah kamu berangkat saja. Aku tidak apa-apa kok. Lagi pula, aku tidak mungkin mengganggu acara keluarga besarmu, kan?” Ujar Ilham.
“Tapi Kapten…,” ujar Dafi tertahan.
“Sudah, tidak ada tapi-tapi lagi. Sekarang kamu berangkat, hati-hati di jalan. Jangan ngebut,” kata Ilham.

Ilham pun mengakhiri panggilan masuk di ponselnya. Dia melihat jam di dinding rumahnya telah menunjukkan pukul setengah lima sore. Saat baginya untuk mempersiapkan hidangan untuk berbuka puasa. Belum sempat dirinya mencuci bahan-bahan makanan yang baru saja dikeluarkan dari dalam kulkas, Rudi pun meneleponnya.

“Halo Kapten,” sapa Rudi.
“Halo. Ada apa Rud?” Tanya Ilham.
“Kapten lagi dimana?” Tanya Rudi balik.
“Di rumah. Kenapa memangnya?” Tanya Ilham lagi.
“Ikut aku mudik yuk!”, ajak Rudi.

Ilham menghela napasnya.

“Kamu berangkat saja. Tidak usah mengkhawatirkan diriku. Aku baik-baik saja kok,” ujar Ilham menolak.
“Tapi kan Kapten…,” ujar Rudi tertahan.

Belum sempat Rudi menyelesaikan perkataannya, Ilham sudah menutup teleponnya. Ilham kembali melanjutkan prosesi masak-memasaknya di dapur.

“Hmm, sampai dimana aku tadi?” Tanya Ilham pada dirinya sendiri.

Ilham mencuci bersih sayuran dan buah-buahan yang dia ambil dari dalam kulkas, kemudian memotong-motong sayuran dan buah-buahan tersebut. Lalu dia memasukkan buah-buahan tadi ke dalam blender lalu menghancurkannya hingga menjadi jus.

Ponsel Ilham kembali berdering. Kali ini panggilan masuk di ponselnya datangnya dari Riza.

“Halo Za,” sapa Ilham.
“Kapten, ikut aku dan Setyo mudik yuk!” Ajak Riza.
“Hedeh… Riza, aktifkan pengeras suara ponselmu. Sekarang!” Seru Ilham.

Riza menelan ludah, dia ketakutan. Riza pun menekan tombol untuk mengalihkan suara panggilan teleponnya ke pengeras suara ponselnya.

“Dafi, Rudi, Riza, Tiwi, Via, dan Nanda, aku tahu kalian bertujuh ada di situ. Berhenti mencemaskanku dan segera berangkat mudik!” Seru Ilham dengan nada kesal.
“Ai! Ai! Kapten!” Sahut mereka bertujuh.

Ilham menutup panggilan masuknya. Kemudian kembali menghela napas panjang.

“Huh… Sampai dimana aku tadi?” Tanya Ilham pada dirinya sendiri.

Tok tok tok… Suara ketukan dari pintu rumah Ilham. Tok tok tok… Suara ketukan di pintu kembali terdengar. Ilham pun mengecilkan api di kompor lalu bergegas membukakan pintu.

“Hihihi…,” Nikki tersenyum lebar saat Ilham membukakan pintu.
“Kamu ada apa datang ke sini?” Tanya Ilham sambil menepuk dahi.
“Ayah dan Ibuku sedang pergi. Aku ditinggal sendiri di rumah, tidak ada makanan untuk berbuka puasa, jadi aku ke sini deh. Hihihi…,” jawab Nikki.
“Hedeh… Ya sudah, ayo masuk!” Ujar Ilham mengajak masuk.

Ilham kembali memasak di dapur dengan Nikki yang membantunya. Walau Nikki hanya membantu mengupas bawang saja.

Tok tok tok… Suara ketukan di pintu kembali terdengar. Ilham bergegas menghampiri pintu masuk rumahnya.

“Kapten…,” sapa Satria sang Maroon Captain dengan suara terisak.
“Hedeh, biar ku tebak. Lagi-lagi kamu kalah taruhan, kan?” Tanya Ilham.

Satria mengangguk. Ilham kembali menghela napas sambil menepuk dahinya.

“Ya sudah, ayo masuk! Nikki juga ada di dalam,” ajak Ilham.
“Hmm, baunya sedap. Kapten sedang masak, ya?” Tanya Satria.
“Iya, kamu duduk saja dulu di kursi itu,” jawab Ilham.

Masakan yang dimasak Ilham sejak tadi akhirnya matang. Dia mematikan kompor yang menyala lalu menuangkan masakan-masakan yang dia masak ke piring.

Tok tok tok… Suara pintu rumah Ilham yang kembali diketuk. Dengan langkah malas Ilham berjalan menuju pintu rumahnya.

“Kapten…,” sapa Angga, Radit, dan Sakti.
“Masuk,” seru Ilham.

Ilham mempersilahkan ketiga juniornya itu untuk turut masuk ke dalam rumahnya.

“Sekarang tinggal menunggu Yakub dan Tristan,” ujar Ilham.
“Kapten kok bisa yakin begitu? Hihihi,” tanya Nikki sambil tertawa kecil.
“Tentu saja yakin, biasanya kalau kalian berempat sudah ada di sini, pasangan kakak beradik lain ayah lain ibu itu pasti juga datang,” jawab Ilham menggerutu.

Tok tok tok… Suara ketukan lagi dari pintu rumah Ilham. Ilham pun membuka pintu rumahnya dengan segera.

“Kapten!!!”, teriak Yakub sang Yellow Captain.
“Cepat masuk! Sudah mau buka puasa,” kata Ilham.

Tristan sang Pink Captain yang pemalu pun mengikuti langkah Ilham dan Yakub yang masuk terlebih dahulu. Pada akhirnya rumah yang semula sudah rapi tertata, kini kembali berantakan. Ilham hanya bisa menghela napas panjang, dan malam itu dia harus kembali beres-beres rumah.

Lebaran 1: Arisan

“Aku mau yang itu!” Tukas Ika.
“Tidak! Itu punyaku!” Kata Tiwi.
“Tidak, tidak, tidak! Itu punyaku!” Kata Nanda.
“Kalian pasti bercanda, itu punyaku!” Kata Vina.

Ilham, Dafi, dan Rudi hanya bisa diam terpaku di sudut pusat perbelanjaan sambil memegang kantung belanjaan di tangan mereka.

“Apa kita biarkan saja mereka berempat seperti itu, Kapten?” Tanya Riza.
“Biarkan saja mereka seperti itu. Sudah lama aku tidak melihat mereka akrab seperti itu,” jawab Ilham.
“Mereka lebih mengerikan daripada pembunuh bayaran,” ujar Dafi.
“Apa kamu bilang???” Teriak keempat gadis dari Blue Team dengan tatapan mata sinis.

Dafi langsung terdiam. Tatapan mata keempat gadis itu benar-benar mencekam. Mereka pun kembali meneruskan perdebatan mereka.

“Mereka benar-benar menakutkan Kapten,” kata Dafi.
“Iya, benar,” sambung Rudi.

Sementara itu Riza tengah sibuk sendiri memilih beberapa baju muslim untuk kedua orang tua Setyo. Seperti biasa, setiap tahun Riza selalu berlebaran di rumah kedua orang tua Setyo. Sebab kedua orang tuanya tidak bisa kembali ke Indonesia saat lebaran.

“Yang ini untukku, yang ini untuk Bu’e, yang ini untuk Tyo, yang itu untuk Pak’e. Hmm… Mana lagi, ya?” Ujar Riza sendiri.
“Kamu mau belanja sebanyak itu?” Tanya Rudi.
“Tentu saja, tahun ini aku juga menghabiskan libur lebaran di rumah orang tua Setyo,” jawab Riza.
“Jadi semuanya pada mudik, ya?” Tanya Dafi.
“Sepertinya begitu. Kecuali…,” jawab Rudi terpotong.

Dafi, Riza, dan Rudi menoleh ke arah Ilham. Tatapan mata mereka berubah menjadi sendu.

“Kapten…,” kata mereka bertiga pelan.
“Hahaha… Kalian ini kenapa sih? Biasanya juga tiap tahun aku menghabiskan lebaran di Jepang sendirian,” kata Ilham.
“Tapi kan, sekarang Kapten sudah kembali ke Indonesia…,” ujar Dafi.
“Bagaimana kalau aku tidak usah mudik?” Tanya Rudi.
“Iya, benar juga. Kalau begitu aku juga enggak mudik deh,” sambung Dafi.
“Kalian tidak boleh batal mudik. Pokoknya aku akan marah jika kalian sengaja tidak mudik tahun ini!” Seru Ilham.

Keempat gadis dari Blue Team masih sibuk berebut barang-barang obral di pusat perbelanjaan itu. Aksi saling sikut dan dorong antar sesama pemburu barang-barang obral tak terelakkan siang itu. Meski mereka semua tengah berpuasa, namun kekuatan semangat dari barang-barang obral itu membuat mereka semakin menjadi-jadi.

“Ah, kakiku pegal sekali,” ujar Vina.
“Tapi kamu hebat, bisa mengalahkan ibu-ibu gemuk tadi,” ujar Tiwi.
“Iya, aku sampai tak bisa bernapas di antara mereka,” sambung Ika.
“Kalau aku lebih memilih menyingkir dari mereka, dan menjajah di tempat lain,” ujar Nanda bangga.

Mereka berjalan berdampingan di depan Ilham, Dafi, Riza, dan Rudi. Mereka berjalan sambil berbincang seperti tenaga mereka tak terkuras sama sekali sehabis belanja.

“Mereka benar-benar mengerikan,” ujar Dafi.

Mereka berdelapan masuk ke dalam mobil dan siap untuk pergi lagi. Sore itu mereka akan melakukan buka puasa bersama di The Stage.

“Kalian lama sekali!” Pekik Angga.
“Seperti biasa, keempat monster ini langsung kalap begitu melihat simbol diskon besar-besaran,” ujar Riza.
“Kamu bilang apa, hah?”, ujar Tiwi memiting leher Riza.
“Ampun, ampun, ampun!” Ujar Riza.
“Kalian berdua, hentikan!” Seru Ilham.

Mereka pun duduk di tempat yang masih kosong. Seluruh anggota dari kedelapan tim Serenity berkumpul di The Stage. Mereka duduk dengan manis di depan meja masing-masing. Meski tidak semua dari mereka beragama Islam, namun mereka saling menghormati rekan-rekannya yang tengah berpuasa.

Pesanan mereka datang, enam puluh empat minuman dingin berbagai macam jenis, serta enam puluh empat hidangan makanan dan cemilannya. Mereka pun menunggu detik-detik berbuka puasa sambil melakukan aktivitas masing-masing. Ada yang sibuk dengan gadget, ada yang sibuk menelepon, bahkan ada yang sibuk memandangi gelas minuman dingin di hadapan mereka.

Duk… Duk… Duk… Suara bedug adzan magrib dari radio yang tengah didengarkan Radit.

“Sudah buka! Sudah buka!” Serunya kegirangan.
“Alhamdulillah…” Sahut para anggota Serenity yang lain.

Ilham menyeruput sedikit minumannya, lalu bangkit berdiri. Seperti biasa, setelah adzan maghrib berkumandang, Ilham tak langsung menyantap banyak makanan atau minuman. Dia hanya meminum beberapa teguk minuman lalu pergi menunaikan ibadah sholat maghrib.

Dafi, Riza, dan Ilham pun mengikuti Ilham dari belakang disusul beberapa anggota Serenity yang lain. Mereka menunaikan ibadah sholat maghrib berjemaah dengan Setyo sebagai imamnya. Sebab di antara mereka, Setyo-lah yang paling baik pelafalan ayat-ayat Al-Qur’annya.

Selepas sholat maghrib, mereka kembali ke meja mereka masing-masing di The Stage. Canda tawa serta aksi saling sindir tak pernah lekang dari kelompok itu. Meski beberapa di antara mereka sudah bukan remaja lagi, namun saat berkumpul mereka seperti kembali ke masa-masa remaja mereka.

“Seperti biasa, momen yang pastinya sudah kalian tunggu-tunggu…,” ujar Tiwi terpotong.
“Saatnya arisan!!!” Sahut Ika, Nanda, dan Vina.

Tiwi mengeluarkan sebuah toples bening kecil yang sudah dilubangi bagian atasnya. Di dalamnya terdapat beberapa lembar kertas yang telah digulung dengan rapi. Kertas-kertas itu berisikan nama seluruh anggota Serenity tanpa terkecuali.

Untuk urusan arisan, Tiwi adalah ahlinya. Sehingga dirinya dipercaya untuk menjadi ketua arisan para anggota Serenity. Tiwi mengocok toples yang tengah dipegangnya lalu menuangkan selembar gulungan dari dalam toples.

Tiwi membuka gulungan itu perlahan-lahan. Semua mata tertuju pada Tiwi. Jantung mereka berdebar kencang saat Tiwi mulai membuka mulutnya.

“Yang beruntung malam hari ini adalah… Blue Captain!” Seru Tiwi.
“Yei!!!” Semua orang bersorak kegirangan.
“Selamat ya Kapten,” ujar Tiwi lalu memeluk Ilham.

Dafi, Riza, Rudi, Vina, Ika, dan juga Nanda pun ikut memeluk Ilham dengan erat. Selembar amplop putih kini diserahkan oleh Tiwi kepada Ilham. Semua orang senang. Semua orang gembira.

Setelah seluruh acara mereka selesai, mereka pun saling berjabat tangan dan berpelukan. Saling meminta maaf satu sama lain. Tak lupa juga mereka berfoto bersama untuk mengabadikan momen itu.

Para anggota Serenity telah pulang, kecuali Ilham. Dia duduk termenung di sudut kafe, merenungi kembali betapa beruntungnya dia dapat dikelilingi oleh para sahabat yang begitu menyayanginya.

Random 5: Serenity?

Tepuk tangan kembali menyeruak di udara bersahut-sahutan dengan siul-siulan dan teriakan dari para penonton. Mereka mengelu-elukan nama kelompok kami tanpa henti walau sejatinya mereka berasal dari kelompok lain. Napas yang menjadi berat, keringat yang membasahi diri, dan rasa bangga yang menyelimuti diri ini seakan tak dapat dibendung.

Kami berdiri kemudian membungkukkan badan ke arah penonton memberikan penghormatan. Lampu yang menyinari panggung kembali dimatikan, kami pun kembali ke belakang panggung dengan riang gembira.

“Woohoo!!!”, teriak kami sambil berjalan setengah berlari.

Saat sampai di belakang panggung kami disambut oleh Kak Radit dan Kak Setyo yang telah berganti pakaian. Dengan penuh semangat dan senyuman di wajahnya, Kak Setyo menyapa kami.

“Kalian hebat!!!”, teriak Kak Setyo sambil mengangkat tangan kanannya.

Kami melakukan tos satu per satu dengannya. Sementara Kak Radit seperti biasanya, memasang wajah sok cool dan seakan-akan cuek.

“Kapten!!!”, teriak girang sekumpulan gadis pada Kak Radit.

Mereka langsung mengerubungi Kak Radit lalu memeluknya erat-erat. Kak Radit yang awalnya memasang wajah sok cool kini tampak seperti tak bisa bernapas karena dikerubungi dan dipeluk seperti itu.

“Hei hei hei. Kalau kalian memeluk kapten seperti itu, kita bisa mendadak kehilangan kapten.”, ujar Kak Setyo.
“Kalian ini, seperti sudah lama gak ketemu aja.”, kata seorang gadis lain yang datang bersama delapan orang siswa-siswi lainnya.
“Bukannya itu senior perempuan yang bertubrukan denganku tadi.”, pikirku.

Mereka mengenakan seragam yang mirip dengan yang sedang dikenakan Kak Radit dan Kak Setyo. Hanya sarung tangan dan kalung yang mereka kenakan saja yang berbeda warnanya. Masing-masing mengenakan kalung dan sarung tangan dengan warna yang sama, selebihnya mereka mengenakan seragam serba putih.

“Ah. Sakti. Kita bertemu lagi.”, ujar senior perempuan itu.
“Iya Kak.”, sapaku.
“Jadi kalian sudah saling kenal?”, tanya Kak Setyo dengan aksen jawanya.

Kak Setyo mendekati senior perempuan itu lalu merangkul pinggangnya dari belakang. Sementara Kak Radit masih kesulitan bernapas karena dipeluk erat oleh lima orang gadis secara bersamaan.

“Iya, tadi kami saling bertubrukan di depan toilet.”, jawab senior perempuan itu.

Sial. Kak Setyo dan senior perempuan itu malah bermesra-mesraan di depan kami. Enam orang yang lain tak menghiraukan kegaduhan antara Kak Radit dengan lima orang gadis ataupun Kak Setyo yang tengah bermesra-mesraan. Mereka hanya menggeleng-gelengkan kepala sambil mendenguskan napas dan berjalan lurus menuju panggung.

“Jadi ini kelompok yang kalian dampingi?”, tanya senior perempuan itu.
“Ya begitulah. Pasti kelompok serigala yang akan menang.”, jawab Kak Setyo bangga.
“Aku tak kan begitu yakin jika aku jadi kamu. Kamu lihat sendirikan kelompok dampingan kami tadi.”, sanggah senior perempuan itu.
“Kak Karin jangan anggap remeh. Kami pasti menang.”, sunggut Dani.
“Dani? Apa itu kamu? Wah, kamu tambah tinggi ya”, tanya Kak Karin heran.
“Huft!”, sunggut Dani.
“Hei kalian. Aksi saling peluknya bisa ditunda dulu gak? Kita sudah harus tampil.”, sunggut seorang siswa yang berjalan bergandengan tangan dengan seorang siswi mengikuti enam orang siswa-siswi lain yang sudah terlebih dahulu pergi.
“Oh iya. Ladies! Kita sudah harus bersiap!”, seru Kak Setyo pada lima gadis yang mengerubungi Kak Radit.
“Akh iya benar. Iya benar. Ayo Kapten!”, ujar lima gadis itu sambil menyeret tangan Kak Radit.

Kak Radit benar-benar tampak kewalahan menghadapi lima gadis itu. Sementara Kak Setyo hanya terkekeh sambil menggeleng-gelengkan kepala saja.

“Setyo! Karin! Golden rules!”, teriak Kak Radit yang mulai menjauh.
“Ai! Ai! Kapten!”, sahut mereka berdua.

Kak Setyo melepaskan rangkulan tangannya pada Kak Karin.

“Kalian kembali saja ke bangku penonton. Bergabung dengan anggota kelompok serigala yang tidak ikut tampil.”, ujar Kak Setyo.
“Tunggu dulu. Jadi kalian akan…”, tanya Dani tertahan.
“Psst… Itu kejutan.”, jawab Kak Karin sambil tersenyum misterius.
“Asyik!!!”, teriak Dani girang.

Mereka berdua berjalan bergandengan tangan meninggalkan kami. Aku, Zanuar, Zikri, Akbar, dan para gadis di kelompok kami seakan kehilangan arah pembicaraan antara Kak Setyo, Kak Karin, dan juga Dani. Dani pun tampak senyum-senyum sendiri seperti tengah mengkhayalkan sesuatu. Seperti instruksi Kak Setyo sebelumnya, kami pun kembali ke bangku penonton untuk bergabung dengan anggota kelompok yang tidak ikut tampil bersama kami.

“Hei Dani, kamu kenal dengan mereka semua?”, tanya Akbar lantang.
“Bisa dibilang begitu.”, jawab Dani.
“Pantes saja saat sesi perkenalan diri ku lihat Kak Radit dan Setyo seperti sudah menerka kata-kata yang akan kau ucapkan.”, kataku.
“Terus kenapa mereka memanggil Kak Radit dengan sebutan Kapten?”, tanya Zanuar penasaran.
“Kalau masalah itu nanti kalian juga akan tahu.”, jawab Dani.

Jawaban Dani semakin membuat kami penasaran. MC yang memandu jalannya ajang kreasi siswa baru kembali ke tengah panggung.

“Waw, delapan belas kelompok telah tampil dengan aksi mereka masing-masing di atas panggung. Pasti kalian semua sudah tidak sabar kan menunggu pengumuman kelompok mana yang akan menjadi juaranya…???!!!”, tanya sang MC.
“Wooooooo…!!!”, sahut seluruh penonton.
“Hahaha. Oke oke oke. Mari kita rehat sejenak dan biarkan para dewan juri untuk menilai penampilan kalian.”, ujar sang MC lagi.

Sorak-sorai suara penonton mengelu-elukan nama kelompok mereka masing-masing kembali pecah dan memadati udara di auditorium ini. Kami berlima pun ikut larut dalam kemeriahan para siswa baru yang begitu semangat menunggu pengumuman pemenang.

“Selagi kita menunggu para dewan juri berdiskusi. Kita akan dihibur oleh grup vokal kebanggan SMA kita. Pemenang tiga kali berturut-turut Kompetisi Grup Vokal Nasional Tingkat SMA. Mari kita sambut… Serenity…!!!”, ujar MC penuh semangat.

Kehebohan di antara penonton semakin menjadi-jadi. Lampu yang menyinari panggung lagi-lagi dimatikan, keadaan bahkan lebih gelap dari sebelumnya. Suara gitar selama beberapa detik disusul musik berirama cepat kembali terdengar. Namun gemuruh suara teriakan para penonton seolah tak mau kalah dengan musik dari pengeras suara.

“Apa yang terjadi???”, teriakku pada Dani ditengah luapan teriakan penonton.
“Lihat dan pelajari saja…!!!”, jawab Dani berteriak.

Aku tak percaya apa yang ku lihat. Sekelompok orang tengah beraksi di atas panggung. Mereka bernyanyi mengikuti musik yang dimainkan oleh sekelompok pemusik yang berpakaian serba hitam di sudut panggung. Tunggu aku kenal seragam putih itu. Benar. Tidak salah lagi. Mereka adalah Kak Radit, Setyo, Karin, dan senior-senior lain yang tadi kami temui di belakang panggung.

“Itu kan, Kak Radit dan Kak Setyo!”, teriak Zanuar sambil menunjuk ke arah panggung.
“Benar! Bahkan para gadis yang mengerubunginya tadi juga ada!”, sambung Zikri.
“Hebat! Apa mereka semua penyanyi?”, tanya Akbar.
“Mereka ada Serenity. Grup vokal yang sudah tiga kali berturut-turut menjuarai Kompetisi Grup Vokal Nasional Tingkat SMA. Dan yang sedang tampil saat ini adalah Green dan Orange Team. Generasi ketiga dan keempat Serenity. Dan Kak Radit adalah Kapten dari Green Team.”, teriak Dani sebisanya.
“Jadi itu sebabnya Kak Setyo dan Karin memanggilnya Kapten?”, tanyaku.
“Ya benar. Saat ini Kak Radit memegang posisi sebagai Kapten Senior di Serenity.”, jawab Dani.

Mereka mengemas lagu Pareo Adalah Emerald dengan apik. Koreografi yang mereka suguhkan benar-benar luar biasa. Kak Radit menunjukkan sosoknya yang berbeda. Tubuhnya begitu lentur, dan lompatan flip ke depan yang dia tampilkan langsung mengundang jeritan histeris para gadis yang menonton.

“Kak Radit!!!”, teriak para gadis.

Dengan tatapan nakal Kak Radit mengumbar senyuman ke arah penonton. Para gadis semakin histeri terutama para gadis di kelompok serigala. Aku, dan keempat temanku hanya bisa melongo melihat aksi Kak Radit tadi.

“Itu tadi…”, tanyaku terpotong.
“…dia…”, sambung Zikri.
“…terbang???”, sambung Zanuar dan Akbar.
“Hahaha. Itulah Kak Radit.”, jawab Dani.

Mereka menutup penampilan mereka dengan pose sambil menantap tajam ke arah penonton. Seluruh penonton berdiri sambil bertepuk tangan. Tak terkecuali kami berlima. Kemudian mereka membungkukkan badan menghormat pada penonton.

“Waw… Serenity. Apa kabar guys?”, tanya MC yang kembali naik ke atas panggung.
“Baik…”, jawab keenam belas anggota Serenity serentak.
“Dit, sini deh kita ngobrol-ngobrol dulu. Gimana nih perasaannya Serenity lagi-lagi menjadi juara nasional untuk ketiga kalinya?”, tanya sang MC lagi.
“Well. Pertama-tama kami benar-benar bersyukur Serenity bisa kembali membawa pulang piala nasional untuk ketiga kalinya. Semoga di tahun ini pun kami bisa menampilkan yang lebih baik lagi demi mengangkat nama SMA Harapan Bangsa.”, jawab Kak Radit.
“Waw, Oh ya. Gimana nih tur konser kalian kemarin?”, tanya sang MC lagi.
“Tur kali ini benar-benar menyenangkan plus melelahkan karena kami harus berkejar-kejaran dengan waktu dan jadwal yang super padat.”, jawab Kak Radit penuh wibawa.
“Hmm, pertanyaan terakhir nih. Lalu gimana dengan proses pencarian member Serenity yang baru untuk tahun ini nih? Masih tetap melalui audisi kah atau bagaimana?”, tanya sang MC.
“Ya. Tahun ini akan ada audisi lagi untuk membentuk tim baru di Serenity. Masalah mekanismenya bagaimana nanti akan kami beritahu lebih lanjut.”, jawab Kak Radit.
“Baiklah. Sukses selalu untuk Serenity. Beri tepuk tangan sekali untuk Serenity!!!”, ujar sang MC.

Serenity kembali ke belakang panggung diiringi tepuk tangan meriah dari penonton. Suasana tegang kembali menyelimuti kami semua. Jantung berdebar karena sekarang MC akan mengumumkan penampilan terbaik di ajang kreasi tahun ini.

“Dan penampilan terbaik jatuh kepada…”, ujar sang MC.

Musik yang membuat kami tegang diputar. Jantungku berdebar kencang seperti mau copot.

“Adalah…”, ujar sang MC lagi semakin membuat deg-degan.

Teriakan para penonton mengelu-elukan nama kelompok mereka menambah panas persaingan antar kelompok.

“Serigala!!!”, teriak sang MC.

Suasana seketika hening. Penonton dari kelompok lain juga terdiam.

“Kita menang?”, tanyaku datar.
“Katanya sih gitu.”, jawab Zanuar datar.
“Jadi kita menang nih?”, tanya Zikri.
“He’eh”, jawab Akbar.
“Kita menang! Kita menang! Kita menang!”, kata Dani.
“Kita menang! Kita menang!”, teriak Aku, Zanuar, Zikri, dan Akbar tak percaya.
“Yeeiii!!!!”, teriak penonton dari kelompok lain yang juga merayakan kemenangan kami.

Kami berlari naik ke atas panggung dan mengambil piala juara. Kami mengangkat piala itu tinggi-tinggi kemudian mengambil foto bersama-sama. Ini benar-benar pengalaman yang berharga bagiku.